Perjalanan panjang Kekal selama dua tahun lebih, yang lantas menghasilkan single pertama bertajuk “Root of All Evil” pada Februari 2017, akhirnya menemui ujungnya. Tepat pertengahan Mei 2018 lalu, unit experimental/avant-garde metal asal Jakarta yang telah bergerilya sejak 1995 silam tersebut merilis resmi album terbarunya, “Deeper Underground”.

Karya rekaman terbaru Kekal ini didistribusikan dalam berbagai format, yakni pengunduhan digital, streaming serta fisik (CD). Untuk digital, bisa diperoleh via kanal Bandcamp yang menyediakan audio berkualitas MP3, FLAC, ALAC dan sebagainya. Lalu untuk streaming menggunakan jalur platform Spotify, Deezer hingga Google Play Music. Sementara untuk pasar Indonesia, ada rilisan kemasan cakram padat (CD) dalam jumlah terbatas yang diedarkan oleh label Hitam Kelam Records.

Kekal sendiri, sejak 12 Agustus 2009 silam telah memutuskan menjadi ‘pesawat tanpa awak’, dimana Jeff Arwadi menjadi satu-satunya musisi yang mengendalikan geliat kreativitas band ini, menjadi ‘the man behind the gun’. Ia menulis lagu, menggarap dan memainkan musiknya, memproduseri, mengoperasikan sendiri teknis rekamannya, termasuk eksekusi mixing dan mastering yang keseluruhan ia garap di Ideation Station. Tidak heran proses produksinya lumayan menghabiskan waktu lama.

“Karena proses penulisan lagu dan proses produksi dilakukan secara bersamaan. Pada intinya, sejak dari album ‘The Habit of Fire’ (dirilis pada 2007), proses produksi dan rekaman sudah berjalan bersamaan dengan penulisan lagu,” ungkap Jeff kepada MUSIKERAS, menjelaskan.

Di album “Deeper Underground” ini, urai Jeff lebih jauh, penulisan lagu diawali dengan penulisan lirik, lalu musik mengikuti apa yang ada dalam lirik tersebut. Lirik lagulah yang menetapkan arah musiknya, mulai dari temperamen, tempo, tonalitas dan lainnya.

“Penulisan musik juga dilakukan tanpa mengikuti ‘pakem’ tertentu. Bisa dimulai dari riff gitar, lagu dilanjutkan dengan aransemen dram dan kadang juga melodi melalui synthesizer, sebelum dilanjutkan lagi dengan riff gitar berikutnya atau melodi vokal. Semuanya bersifat ‘asosiasi bebas’ dan ini adalah penerapan filosofi anarkisme dalam bermusik yang memang sudah jadi bagian dalam proses pembuatan lagu dan produksi musik Kekal sejak lama. Dalam setiap album juga selalu ada elemen-elemen dan instrumen-instrumen baru yang dimasukkan.”

Keseluruhan proses produksi “Deeper Underground”, menurut Jeff lagi, terbilang unik karena tidak mengikuti aturan baku penulisan musik. Misalnya, suatu ketika Jeff mendapatkan aplikasi synthesizer gratisan yang ia unduh dari telpon genggamnya, dan setelah mendengarkan dan merasa soundnya unik, ia bisa langsung mengaplikasikannya sebagai bagian dari musik. Atau misalnya, ia bisa menangkap sebuah ide setelah menonton video ceramah Prof. Dr. Johan Galtung di YouTube, dimana ia bisa menemukan satu kalimat bagus yang lantas direkamnya untuk dimasukkan ke dalam lagu “Root of All Evil”.

“Sejauh kita mau membuka diri, ada banyak sekali hal baru yang akan didapat. Tentunya tidak semuanya cocok dan tidak semuanya baik, tapi bisa kita saring dan ambil yang memang sesuai dengan karakter dan konten dari musik yang kita buat,” urai Jeff meyakinkan.

Dari sembilan komposisi yang disodorkan Jeff di “Deeper Underground”, terdapat keterkaitan satu sama lain di kandungan lirik-liriknya. Pasalnya, karena memang proses penyiptaannya dilakukan dalam kurun waktu yang berdekatan. Kurun waktu yang dimaksud adalah pada 2016 dan 2017 dimana Jeff merasa banyak sekali hal yang terjadi di muka bumi ini yang mempengaruhi kehidupan umat manusia, jika dilihat dari sisi sosial, politik, ekonomi dan juga lingkungan hidup.

“Keterkaitan itu bersifat spiritual. Di sini saya mencoba memahami konteksnya dan setelah itu menelaah lebih jauh dengan mempelajari sejarah dari berbagai sisi, sedikitnya untuk membantu mengaitkan titik-titik yang dapat dilihat, karena semua fenomena itu tidak bisa diartikan secara terpisah dari satu elemen kehidupan saja. Banyak orang saat ini hanya melihat dari satu titik saja, sehingga mudah sekali terkena provokasi dan tipu-daya yang sebenarnya hanya untuk memperlemah posisi kita, khususnya masyarakat di (level) bawah. Fenomena ini terjadi di seluruh dunia, meski dalam konteks yang berbeda tapi dimensinya sangat serupa. Saat ini rakyat sedang dipecah-belah dengan apa yang disebut ‘identity politics’ atau politik identitas di mana individu memilih untuk membangun afiliasi hanya menurut agama, etnik, ataupun hal-hal yang besifat identitas saja. Kita dibuat untuk membenci sesama yang memiliki perbedaan-perbedaan identitas itu. Padahal yang harus dilawan itu adalah penguasa-penguasa dunia yang dipengaruhi oleh kekuasaan jahat. Posisi mereka akan melemah kalau rakyat bersatu, karena jumlah mereka ini sebenarnya sangat sedikit, karena itu mereka selalu mencoba untuk memperlemah elemen-elemen masyarakat dengan cara tipu daya yang nantinya dipakai untuk memecah-belah, di situ mereka bisa lebih mudah untuk menerapkan dominasi mereka.”

Disamping lirik, eksplorasi musikal di album terbaru Kekal ini kembali memperlihatkan pergerakan yang tak terduga. Itu terjadi lantaran Jeff memang tak pernah mengikuti pakem tertentu dalam penggarapan musiknya. Karena bagi Jeff, musik adalah suatu ekspresi. Tidak ada standar-standar yang sifatnya dapat diukur secara statistik. Dan album-album Kekal sebelumnya adalah sebuah karya seni hasil dari sebuah ekspresi, tak terkecuali “Deeper Underground” yang juga merupakan sebuah karya seni hasil dari sebuah ekspresi.

“Kalau Anda merasakan perbedaannya, itu karena ekspresi tersebut dibuahkan di masa yang berbeda, di mana mungkin teknologi audio atau instrumen musik sudah sedikit berubah, ataupun unsur-unsur eksternal lainnya. Tapi inti dari musik Kekal menurut saya selalu sama. Kekal merupakan ekspresi dari apa yang ada dalam hati penulis musiknya pada saat musik itu ditulis. Semua bergantung pada tempat dan waktu. Kalau ditanya seperti apa musiknya, saya hanya bilang, ‘Dengar saja musiknya langsung di kekal.bandcamp.com atau beli CD-nya melalui Hitam Kelam Records.”

Selama lebih dari dua dekade berkarir, Kekal telah melahirkan banyak karya rekaman. Di antaranya album “The Painful Experience” (2001) yang menandai evolusi musik Kekal, dari extreme metal ke area yang lebih progresif dan eksploratif.  Di album “1000 Thoughts of Violence” (2003), reputasi Kekal mencapai titik terbaiknya, baik dari segi penjualan album maupun dari sudut penilaian media massa. Musiknya yang unik, dimana Kekal melebur berbagai elemen seperti jazz-fusion, rock progresif, psikedelik, dub, trip-hop, elektronik eksperimental hingga ambient music membuat gaung Kekal berhasil menembus ke luar kawasan Asia. Pada 2004, Kekal menjadi band Indonesia pertama yang melakukan tur di Eropa. (Mdy)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY