Walau telah menelurkan sebuah album penuh dan sebuah EP, namun baru lewat karya rekaman terbarunya, “Stronghold” yang bakal dirilis pada akhir Mei 2018 mendatang, Salahudin Al Ayubi (SAA) merasa perjalanan karir mereka dimulai. Setelah bertahun-tahun bermusik dan melewati pasang surut dinamika kehidupan, unit metalcore asal Solo, Jawa Tengah tersebut kini merasa jauh lebih siap dan matang secara mental dan merasa telah menemukan pakem bermusik yang jelas.

“Menurut kami, musik adalah bahasa lahir maupun batin dalam perilaku kenyataan hidup yang diekspresikan melalui lagu. Lirik di dalam album ‘Stronghold’ sendiri banyak menceritakan tentang hal-hal apa yang kami rasakan dan apa yang terjadi di sekitar kami seperti bagaimana kami memahami tentang alam semesta, lingkungan sosial, sampai dengan politik yang terjadi di negeri ini, tentunya semuanya dari kacamata kami,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Dalam kurun waktu 2014-2018, SAA mengalami proses pergantian personel di beberapa lini, yang terjadi di tengah-tengah proses penggarapan rekaman. Namun dengan formasi terbaru, yakni Anton Robani (gitar), Reza Kunchunk (gitar), Brian Aria (bass), Edguy Bagoes (dram) dan Rasyid Syahroni (vokal) akhirnya berhasil menyelesaikan proses rekaman “Stronghold”.

“Kami seperti menemukan ‘hasrat’ baru dalam musik kami dan itu terlihat dari perubahan musik yang kami sajikan sekarang, jika dibandingkan dengan EP dan album pertama. Hal itu mungkin dipengaruhi oleh masing-masing personel yang mempunyai pengaruh musik berbeda-beda. ‘Stronghold’ mewakili apa yang kami pikirkan dan rasakan saat ini.”

Proses rekaman “Stronghold” sendiri dilakukan para personel SAA di dua tempat, yakni di studio Ababil Kauman, Solo untuk eksekusi pengisian dram, serta di studio Metaleader Store, yang sekaligus meruapkan label rekaman yang merilis “Stronghold”. Selama proses berlangsung, mereka menghabiskan waktu selama 17 bulan, yang berhasil dirampungkan pada Agustus 2017 lalu. Namun di sela proses mixing dan mastering, mendadak mereka dikejutkan pengunduran diri vokalis Alfiza Fauzi. “Seluruh materi dan aransemen musik, lirik serta konsep yang sudah kami dedikasikan untuk album ‘Stronghold’ ini, terpaksa kami hentikan untuk berdiskusi lebih jauh lagi,” ungkap para personel SAA, mengenang.

Suasana pesimis pun sempat melanda beberapa personel band ini, yang merasa gagal menyelesaikan dan merilis album. Namun untungnya, rasa optimis tetap ada, dan membuat band ini kembali bangkit dan melakukan audisi. Singkat cerita, Rasyid Syahroni pun terpilih sebagai vokalis baru dan melakukan rekaman ulang untuk porsi vokal di keseluruhan album. Momentum itu pula memunculkan gagasan bagi mereka untuk menyelipkan sebuah komposisi intro bertajuk “17.08.17”.

Dari segi konsep musikal, “Stronghold” sangat kental akan balutan metalcore modern, yang antara lain mereka serap dari band-band dunia seperti Killswitch Engage, Texas In July, Architects, Burgerkill, Miss May I, Unearth hingga August Burns Red. Namun kali ini SAA menyuguhkannya dengan karakter sound yang lebih low dibandingkan dengan album pertama mereka, “The Lion Of The Desert” (2014). “Karakter vokal untuk intonasi artikulasi juga lebih detail dibandingkan album pertama.”

Sejarah terbentuknya SAA sendiri dimulai pada November 2008 silam, yang digagas oleh Anton Robani dan dramer Wawan yang iseng ingin mempunyai band sampingan di luar bandnya saat itu, yakni From This Day. Setelah sempat menelurkan karya rekaman demo pada 2009 serta pergantian personel yang cukup sering terjadi, SAA akhirnya bisa mempersembahkan karya album pertamanya, “The Lion Of The Desert” pada 2014. Berkat album tersebut, SAA mendapat kesempatan ‘menjajah’ berbagai panggung festival, termasuk “Rock In Solo”, “Hammersonic Fest”, “Hellprint” hingga “JakCloth”. Lalu pada 2016, SAA kembali merilis karya album berupa album mini (EP) berjudul “The Martyr” yang dilanjutkan dengan tur promo “Invasion Martyr”. (Mdy/MK02)

.

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY