Buktu adalah nama dari sebuah band asal Yogyakarta yang mengombinasikan musik eksperimental, post-rock, ambience serta olahan lirik yang puitis. Di tiap penampilannya, Buktu piawai mengolah emosi dari lagu-lagu mereka, dengan lirik yang bersifat multitafsir, dimana pendengar dapat menafsirkanya dengan sebebas-bebasnya melalui perspektif masing-masing.

Konklusi keunikan itu telah dicurahkan Buktu lewat sebuah album bertajuk “Mengeja Gejala Menjaga Dendam” yang telah diproduksi secara fisik, dan kini juga sudah bisa dinikmati via berbagai gerai digital seperti iTunes, Spotify, Deezer, dan sebagainya, sejak pertengahan April 2018 lalu.

Proses rekaman “Mengeja Gejala Menjaga Dendam” yang banyak bercerita tentang keresahan perihal dunia di era sekarang tersebut digarap Yusak Nugroho (dram/perkusi), Aryo Bhaskoro (gitar), Zaen Dehero Pahlevi (gitar), Adhie Bona (bass) dan Bodhi IA (narator/synthsizer) juga dengan cara yang unik. Mereka memustuskan untuk menginap selama tiga hari di Satrio Piningit Studio, studio rekaman milik Sasi Kirono yang kebetulan juga mempunyai halaman luas. Kegiatan itu mereka lakukan pada akhir Desember 2016 lalu.

“Kami merekam 13 lagu dengan cara live recording, dimana kami ingin emosi saat itu benar-benar keluar dalam lagu-lagu kami. Ada beberapa lagu di album yang kami buat seketika di dalam studio,” ungkap pihak Buktu kepada MUSIKERAS, mengenang.

Dalam urusan pengolahan musik, ada semacam peleburan berbagai latar belakang musikal para personelnya. Sebuah pertemanan lintas genre, yang lantas masing-masing melahirkan nuansa dan kata dalam musiknya. Jika ditarik benang merah, Buktu mengaku banyak terinspirasi band-band luar seperti Sigur Ros, Ovum, Olafur Arnald dan Explosion in the Sky untuk mewakili leburan genre tadi. “Sebenernya banyak sih referensi, tapi mungkin yang besar pengaruhnya ke kami ya empat band itu,” cetus Buktu meyakinkan.

Buktu terbentuk pada 2016, dengan nama awal Vit.sea. Namun setelah berjalan hampir setengah tahun, mereka akhirnya memutuskan untuk berganti nama sekaligus mengubah formasi. Oh ya, nama Buktu sendiri diartikan ‘Buku kedua’ (Buk-Tuu), sebuah kata yang berasal dari bahasa batin yang berarti sebuah tempat utuh, bulat, namun tanpa dasar.

“Seperti limbo yang direpetisi dengan kesadaran absolut,” urai personel Buktu berfilosofi. “Buktu adalah momen bebas makna yang biasanya memunculkan perasaan gelisah. Kata Buktu dapat dipakai untuk menggantikan momen abu-abu yang dirindukan, seolah memelihara konflik kebingungan  personal. Dan sebagai permulaan mengenal momen Buktu, mulailah dengan mencintai rasa resah.” (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY