Walau memiliki nama dengan makna yang nyeleneh – semacam umpatan dalam bahasa Padang – namun unit brutal death metal asal Bekasi, Chalera justru mengangkat hal-hal positif dalam uraian lirik-lirik lagunya. Seperti yang mereka tunagkan lewat album debut bertajuk “Theopobium Excruciation” yang sudah dirilis via label independen asal Amerika Serikat, New Standard Elite.

“Kami punya konsep yang berbeda dibanding band brutal kebanyakan, karena kami mengangkat tema ‘Ketuhanan, Kebrutalan dan Paranoia dalam agama-agama tertentu’. Kami nggak angkat tema-tema gore seperti band kebanyakan. Kami coba menyuarakan keresahan dalam beragama dalam beberapa tahun belakangan, ya aslinya sih dalam puluhan ribu tahun lampau yang udah banyak makan nyawa manusia,” papar Fani, gitaris Chalera kepada MUSIKERAS, mengungkapkan. 

Ketiga personel Chalera, yakni Fani, Yogi (vokal) dan Indra (dram) menggarap “Theopobium Excruciation” selama kurang lebih sebulan, sudah termasuk proses mixing dan mastering yang dieksekusi di Apache Studio milik Atenk Blast (Panic Disorder).

Menurut Fani lagi, proses rekaman yang mereka jalani normal-normal saja, Misalnya pengaturan jadwal para personel serta beberapa kendala teknis dalam pengolahan aransemen. “Paling yang repot harus seting jadwal sama personel yang kerja serta kendala teknis di beberapa lagu yang harus kami ubah pada saat itu juga. Mudah-mudahan hasilnya maksimal dan disukai.”

Yang menarik di perilisan “Theopobium Excruciation” adalah – tentu saja – keterlibatan label New Standard Elite di peredarannya. Kerja sama tersebut, bagi Chalera adalah sebuah ‘garis hidup’ yang benar-benar tak disangka-sangka. “Prosesnya cukup bikin kaget juga,” seru Fani mewakili rekan-rekannya di Chalera.

Dimulai pada 2015 saat Chalera baru meluncurkan rilisan promo (album mini) di bawah bendera label Brute! Production yang berbasis di Thailand. Lalu selang beberapa minggu, seorang teman mereka, yakniAlexander Mitsch dari band Delusional Parasitosis menganjurkan mereka untuk mengajukan lagu-lagu Chalera ke New Standard Elite (NSE). “Dan selang beberapa hari langsung ada jawaban positif dari NSE. Dan kami langsung ijin ke Brute! dan diberi ijin untuk pindah ke NSE selang beberapa minggu kemudian.”

Chalera yang terbentuk pada Juni 2010 sebenarnya mengawali karirnya dengan mengibarkan genre brutal deathcore. Formasi awalnya diperkuat Aji (voakl), Wahyu (dram), Joko (gitar), Rory (bass) dan Fani. Namun pada 2012, formasi berubah. Wahyu mengundurkan diri yang lantas digantikan oleh Toni dari Conscience Revolt. Tak lama usai merilis album mini (EP) “Chalera” pada 2013, Tony mundur dan digantikan oleh Reza dari Abonation. Di formasi inilah Chalera mulai mengalami pergeseran konsep musikal. Akibat lingkup pergaulan yang lebih banyak di antara para musisi death metal, pakem brutal deathcore Chalera pun perlahan ditinggalkan, tergantikan oleh pengaruh kuat brutal death metal.

“Soalnya kami sendiri nongkrong sama teman-teman dan abang-abang yang notabene penggila brutal death metal di Bekasi. Contohnya kayak Bang Josh founder Asphyxiate, Bang Jaya dan Bang Dedi (Cadavoracity). Jadi karena sering ngobrol dan nongkrong bareng otomatis sering denger mereka, sering dengerin lagu apa aja, jadi tau.… Dan saya pribadi juga awalnya memulai dari black metal dan nol pemahanan tentang brutal death. Jadi peranan komunitas sangat besar di sini,” ungkap Fani meyakinkan.

Kini, referensi musik Chalera banyak terserap dari band-band brutal death metal macam Total Rusak (Padang), Bloody Gore (Jakarta), Asphyxiate (Bekasi) serta sedikit tambahan dari band luar (Amerika Serikat) seperti Suffocation, Deeds of Flesh dan Disgorge.

Pada 2015, formasi Chalera kembali mengalami perombakan. Pendiri Chalera, Aji mengundurkan diri, yang lalu digantikan oleh Yogi dari Imu Venus. Bersama yogi, Chalera menggarap EP self-tittled yang diedarkan oleh Brute! Productions (Thailand). Setelah mengikat kontrak dengan New Standard Elite, tepatnya pada Januari 2016, tiga personel Chalera yaitu Reza, Rory dan Joko akhirnya juga menarik diri, menyisakan Fani dan Yogi. Akhirnya, mereka berdua merekrut dramer Indra dari Glansectomy dan merampungkan penggarapan album “Theopobium Excruciation”. (Mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY