Setelah menggeliat di skena grind, punk dan powerviolence thrash ‘bawah tanah’ sejak 1999 silam, Proletar tampaknya pantang surut kehilangan energi. Dengan formasi terkininya, yakni Ipul (gitar), Levoy (dram/scream) dan Nino Aspiranta (growl), Proletar masih menyibukkan diri dengan sejumlah proyek rekaman. 

Yang terbaru adalah keterlibatan mereka di album kompilasi bertajuk “Indonesian Tribute To Nasum” yang telah diedarkan via label independen Playloud Records dan Maternal Disaster. Di rilisan tersebut, Proletar yang mendaur ulang lagu “Blind World” – diambil dari album split 7″ dengan Agathocles (Belgia) – berbagi ‘panggung’ dengan 27 band keras nan berbahaya lainnya, di antaranya seperti Trench Horror, Hurt’em, Dead Vertical, Cosmic Vortex, Goads, Extreme Hate, Terapi Urine, Jari Tengah, Bersimbah Darah, Pukat Harimau, Extreme Decay, Killer Instinct hingga Aftersundown. Nasum sendiri merupakan salah satu monster grindcore fenomenal dunia asal Swedia.

Walau terlibat di album tersebut, namun para personel Proletar sendiri tidak menyebut Nasum membawa pengaruh besar terhadap ramuan musik mereka. Dan pemilihan “Blind World” semata-mata karena dianggap ada kecocokan karakter dengan Proletar.

“Sebelum Mieszko mengisi vokal di band (Nasum) ini, vokalnya masih diisi oleh Rickard Alriksson. Growl ala goregrind cocok di vokal Nino, raw dan heavy! Part-part gitarnya masih sederhana. Intinya cocok buat di-cover Proletar. Secara keseluruhan, pengaruh Nasum ke musik Proletar nggak terlalu banyak, terutama dari sound. Mungkin banyak band grindcore lokal terpengaruh dengan sound Swedish-nya. Tapi Nasum memang salah satu band grindcore yang wajib diikuti perkembangannya pada masa aktifnya,” urai Ipul kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

Sepanjang karirnya, Proletar terbilang sangat sering terlibat di proyek album split, terutama dengan berbagai band luar negeri. Di antaranya dengan Fight Back (Kroasia), Selfmadegod (Malaysia), Paraconflict (Filipina), Fallen World (Singapura), Bestial Vomit (Italia), Diorrhea (Italia), Greber (Kanada), Entrails Massacre (Jerman), Analdiction (Singapura) hingga Department Of Correction (Perancis). Lalu kini, juga tengah menyiapkan proyek sejenis dengan Tools Of The Trade (Malaysia) yang rencananya bakal dirilis dalam format piringan (vinyl) 7”.

Dan bagi Proletar, kolaborasi semacam itu selalu mendatangkan hal-hal menarik. “Selain networking, pendistribusian (karya rekaman) juga menjadi lebih luas, karena juga dirilis label luar,” cetus Ipul meyakinkan.

Saat terbentuk di Jakarta, Proletar awalnya dihuni formasi Udinoise, Bowo, Anto, Acut dan Ipul. Lalu pada awal 2000, Proletar langsung merilis album debut berformat demo berjudul “Massive Re¬sistance”, yang lantas diikuti dengan sebuah karya album penuh berjudul “Rakyat Jelata” (Mencret Records) setahun kemudian. Pada 2002, formasi Proletar berubah menjadi empat orang, dan menghasilkan sebuah album mini (EP) bertajuk “There’s A Spectre Haunted” yang diedarkan via label Badai Production (Indonesia).

Dalam periode 2003-2004, perubahan formasi kembali terjadi di tubuh Proletar. Kali ini hanya menyisakan Ipul, yang lantas mengambil keputusan untuk merekrut dua personel baru, yakni Firman (bass/vokal) dan Diyan (dram). Selain menghasilkan album split “War Against The New World” bersama Extreme Decay (2004), formasi ini juga berhasil menelurkan EP berjudul “Universal Ideas” yang dirilis dalam format kaset pada 2004 via Scream Of Agony Records dan Badai Records (Indonesia).

Tak lama, Diyan mengundurkan diri dari Proletar dan posisinya kemudian digantikan oleh Levoy yang juga sekaligus mengisi vokal scream. Formasi Ipul, Firman dan Levoy lalu melepas EP “Physical And Mental Torture” (2005) yang diedarkan oleh Badai Production dan Time Up Records (Indonesia), beberapa album split, plus sebuah album yang memuat karya-karya terbaik Proletar bertajuk “Back To Hatevolution” yang dirilis dalam format cakram padat (CD) dan piringan hitam oleh beberapa label, yakni To Live A Lie Records, Ruptured Records dan Jerk Off Records (AS), Murder Records (Belanda), Suara Bebas Records (Malaysia), Bringer of Gore (Belgia) serta TerkuburHidup Records, Badai Productions dan Battle Grounds Records (Indonesia).

Pada akhir 2010, Firman memutuskan untuk mundur dan posisinya digantikan oleh Ryzky a.k.a Keke. Setelah beberapa proyek album split, formasi ini merilis album “From Mindless Syndrome To The Eternal Decay” (Stillborn Sounds – 2013) yang beramunisikan beberapa materi dari album split sebelumnya, beberapa materi lawas yang direkam ulang serta lagu-lagu daur ulang milik Carcass dan Morbid Angel. Lalu pada pertengahan 2014, Keke cabut dari formasi dan digantikan oleh Nino Aspiranta dari Trauma.

Saat ini, Proletar – yang juga tercatat pernah tampil di event “Extreme Splattered Music Festival” yang digelar di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia (2008), lalu tur mini “Propagandistic Miniatur” di Malaysia dan Singapura (2010) serta “Philippine Grindcore Annihilation 1 & 2” di Filipina (2014 dan 2017) – tengah menyibukkan diri menggarap sebuah album penuh berisi lagu-lagu karya sendiri serta sebuah album bermuatan lagu-lagu cover. “Sekarang masih tahap ngulik-ngulik lagu cover tersebut sambil mengumpulkan lagu-lagu baru. Dalam waktu dekat akan nyicil masuk studio untuk pengisian guide gitar.” (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY