Menyuguhkan tampilan visual spesial plus konsep yang baru pertama kali mereka terapkan di panggung, telah membuat Down For Life sukses mencapai singgasana terbaik di babak final “W:O:A Metal Battle Indonesia 2018” (WMBI), yang berlangsung di GTV – Studio 8A MNC Studios, Jakarta pada Jumat, 29 Juni 2018 lalu. Mereka berhak mewakili Indonesia di event Wacken Open Air yang akan berlangsung pada Agustus 2018 mendatang di Jerman. Down For Life kini bukan hanya pahlawan metalhead Surakarta, tapi juga kebanggaan kaum pemuja musik keras di Indonesia!

Malam itu, formasi Stephanus Adjie (vokal), Ahmad ‘Jojo’ Ashar (bass), Rio Baskara (gitar), Isa Mahendrajati (gitar) dan Muhammad ‘Abdul’ Latief (dram) tampil sangar dengan paduan tata rias serta kostum batik parang yang disobek dan dirancang sedemikian rupa. “Sehingga menyerupai armor atau baju perang ‘Pasukan Babi Neraka’ sebagai simbolis (bahwa) kami siap maju bertempur di tanah Bavarian (Jerman),” cetus Adjie kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Lalu sebelum menggeber lagu “Pesta Partai Barbar” dan “Pasukan Babi Dari Neraka”, Down For Life menyusupkan intro Suluk (tembang berbahasa Jawa) untuk memulai pertunjukan wayang, yang dibuat oleh sahabat mereka, Ari Wvlv dari Sound Boutique, Jogjakarta. Sebuah konsep yang baru pertama kali diterapkan Down For Life di panggung.

Disamping tampilan visual dan konsep musikal khusus yang disebutkan tadi, rasa percaya diri dan kerja keras untuk memberikan penampilan yang terbaik juga menjadi mesin pendorong utama yang sangat efektif bagi para personel Down For Life. Mereka siap menang dan juga siap kalah. “Bagi kami, ini bukan tentang mengalahkan band lain, tapi melawan diri sendiri. Melawan rasa takut, gengsi, ego dan rasa malas di zona nyaman yang membuai. Ini adalah salah satu mimpi untuk bermain di salah satu festival metal terbesar di dunia, Wacken Open Air!”

Penyelenggaraan babak final “W:O:A Metal Battle Indonesia 2018” sendiri menampilkan 10 band. Selain Down For Life, juga ada Dead Vertical (Jakarta), Trojan (Bali), Angel of Death (Sukabumi), Humiliation (Bandung), Monoserus (Pekanbaru), Bersimbah Darah (Bali), Karat (Malang), Valerian (Surabaya), Kaluman (Bandung). ‘Pertarungan’ mereka di panggung dinilai oleh empat orang juri, yakni Dadan Ruskandar (Manajemen Burgerkill), Samack (Jurnalis Musik) serta John Resborn (The Metal Rebel) dan Sascha Jahn (Metal-Rebel Headquarter) dari Jerman.

Bagi Down For Life, kemenangan mereka di hajatan besutan DCDC Dreamworld (Djarumcoklat.com) bekerja sama dengan ATAP Promotions dan The Metal Rebel tersebut adalah selebrasi semua finalis yang tampil malam itu, serta seluruh metalhead di Indonesia. Karena mereka sendiri mengakui, band-band yang bertarung di final benar-benar tidak bisa dianggap enteng. “Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dead Vertical dengan grindcore-nya yang intens saat manggung, Trojan yang memberikan warna baru serta semangat mereka mengikuti WMBI setelah final tahun lalu belum berhasil dan Humiliation, darah segar yang memberikan amunisi baru bagi skena musik keras Tanah Air.”

Down For Life dibentuk di Surakarta, Jawa Tengah pada 1999 silam oleh vokalis Stephanus Adjie dan sejauh ini telah merilis dua album studio, yakni “Simponi Kebisingan Babi Neraka (2008) dan “Himne Perang Akhir Pekan” (2013). Pada April 2018 lalu, Down For Life merilis dua single dalam format piringan hitam (vinyl) berisi lagu “Liturgi Penyesatan” dan “Kerangka Langit”, yang merupakan nomor daur ulang milik band rock legendaris dari Solo, Kaisar. Tahun ini, Down For Life rencananya akan masuk studio rekaman untuk menggarap materi album terbaru. (mdy/MK02)

Kredit foto: Gusman Yudistira

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY