Album ketiga kuartet emo/indie rock asal Malang, Beeswax yang bertajuk “Saudade” akhirnya dilepas dalam format digital. Pada kesempatan sebelumnya, band yang didirikan pada 2014 tersebut telah meluncurkan versi rilisan fisik “Saudade” via label Fallyears Records. Ada 14 lagu yang memadati “Saudade”, yang kini bisa didengarkan di berbagai layanan digital seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Google Play Music, Deezer, Tidal, Bandcamp dan masih banyak lagi.

Bagas Yudhiswa (gitar/vokal), Raveizal “Iyok” Ario Sayoga (gitar/vokal), Putra Vibrananda (bass/vokal) dan R. Yanuar “Yayan” Ade (dram) merekam sendiri materi album “Saudade” di studio milik Bagas, Fallyears Records yang berlokasi di jalan Kaliurang, yang dimulai pada 2016 lalu. Kendala teknis tidak ada selain menyocokkan jadwal masing-masing personel dengan jadwal yang telah disusun.

Bagi Bagas yang juga sekaligus memproduseri serta mengeksekusi sendiri tahapan mixing dan mastering “Saudade”, urusan peramuan sound menjadi salah satu masalah utama dalam proses rekaman album tersebut. “Kami menuntut diri kita sendiri untuk lebih explore ke sound. Bisa jadi itu yang membuat penggarapan album ini menjadi lebih lama, yakni dua tahun. Beberapa anggota pun juga masih harus bergelut dengan pekerjaan maupun akademik seperti jadwal konsultasi dan ujian skripsi – sekarang tinggal bassist kami yang segera menyelesaikan kewajiban akademiknya – sehingga jadwal take pun mau tidak mau harus lebih fleksibel,” urainya kepada MUSIKERAS.

“Di album baru ini kami mengajak beberapa musisi lokal Malang untuk berpartisipasi dalam beberapa lagu, seperti ‘Maze Of Mind’ dengan solois Steffani BPM dan The Firewalk dengan Sabiella Maris (Closure). Lirik pun banyak masukan di luar band seperti dari publisis kami Alfan, terus kawan kami Zara, dan Steffani BPM,” ungkap Putra menambahkan.

Untuk urusan pengonsepan ramuan musiknya, Beeswax mengaku banyak terinspirasi band-band rock asal Amerika Serikat seperti Remo Drive, Tiny Moving Parts, American Football, La Dispute hingga Underoath, yang lantas mengarahkan mereka ke formula emo/indie rock bernuansa math-rock.

“Tapi kami tidak menerapkan alternate tuning seperti apa yang dilakukan para influencer kami. Kami bahkan menggunakan tuning gitar standar namun dengan power chord yang jumlah strum-nya kami buat beda dari band lain. Begitu pula pola permainan dram yang ikut tempo ganjil dan dinamika loud-soft – naik turun pelan ke keras/cepat. Istilahnya, ‘dynamic range’-nya yang kami ulik…,” ulas pihak band menerangkan.

“Eksplorasi musiknya lebih ‘tight’ dan lebih dalam lagi,” cetus Yayan menimpali.

Namun, agar muatan cerita di lirik-lirik “Saudade” lebih lebar, inspirasi tidak melulu datang dari luar atau dari personel Beeswax sendiri. Seperti yang dituturkan Bagas, mereka juga banyak terinspirasi teman-teman di sekitar mereka, yang diajak untuk ikut menumpahkan keresahannya masing-masing. Karena “Saudade” yang diambil dari bahasa Portugis tidak semata bermakna kerinduan, tapi kerinduan yang mendalam dan keresahan jika yang dirindukan tidak akan kembali.

“Hampir semua orang pasti pernah mengalaminya. Perasaan rindu itu kompleks dan tidak hanya melibatkan rasa kehilangan saja. Itulah kenapa lagu-lagu yang ada dalam ‘Saudade’ merangkum semua emosi yang dimiliki seorang manusia.”

Sebelum melepas “Saudade”, Beeswax sudah pernah merilis album mini (EP) “First Step” (2015) dan album penuh “Growing Up Late” (2016). (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY