Sebuah konsep karya rekaman yang memadukan unsur kecepatan thrash dengan  pondasi elemen tribal dan raungan lirik bertema politik serta hal-hal yang menyentuh sisi religius menjadi suguhan utama album terbaru milik unit cadas senior, Soulfly. Paling tidak, seperti itu komposisi yang digembar-gemborkan motor utamanya, Max Cavalera.

Menurut mantan vokalis dan gitaris band Brasil, Sepultura tersebut, “Ritual” – judul albumnya – memuat segala hal yang ia sukai dari Soulfly. “Hampir (terdengar) seperti album ‘tribal thrash’, yang mana… belum pernah kami lakukan sebelumnya. Saya pikir orang-orang akan ‘terbakar’ ketika mendengarkan Soulfly yang baru.”

Selain itu, lanjut Max lagi, di album yang ia garap bersama formasi Marc Rizzo (gitar), Zyon Cavalera (dram), Mike Leon (bass) serta produser Josh Wilbur (Lamb of God, Gojira, All That Remains) tersebut, Max juga merasakan ‘nyawa’ dari album klasik (Sepultura) ‘Chaos A.D.’.”Senang rasanya mendapatkan rasa seperti itu lagi,” cetusnya semangat.

“Ritual” rencananya akan dirilis melalui label Nuclear Blast pada Oktober 2018 mendatang.

Sebelum “Ritual”, Soulfly yang terbentuk di Phoenix, Arizona (AS) pada 1997 silam ini telah merilis 10 album studio, yakni “Soulfly” (1998), “Primitive” (2000), “3” (2002), “Prophecy” (2004), “Dark Ages” (2005), “Conquer” (2008), “Omen” (2010), “Enslaved” (2012), “Savages” (2013) dan “Archangel” (2015). Max membentuk Soulfly setahun setelah hengkang dari Sepultura, band yang dibentuknya bersama saudaranya, Igor Cavalera pada 1984. (MK03/*)

Kredit foto: Char Tupper

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY