Berawal dari keinginan untuk lebih eksploratif dalam bermusik, dengan karakter material musik yang berbenturan dengan identitas bandnya, maka Eko Nurwahyanto – seorang dramer asal Kota Pekanbaru serta pendiri unit Post-Metalcore bernama Monoserus – pun memutuskan membuat karya solo. Hasilnya, sebuah single eksplosif bertajuk “The Reign of Chaos” telah dirilis Eko di berbagai platform digital.

Tidak tanggung-tanggung, proyek ambisius yang dimulainya sejak akhir 2016 tersebut, atau setahun setelah membentuk Monoserus, digarapnya dengan melibatkan empat musisi dari dalam dan luar negeri. Untuk mengeksekusi “The Reign of Chaos” yang mengombinasikan kontur metalcore, post-hardcore, deathcore dan djent tersebut, Eko mengajak dua gitaris dari Eropa, yakni Daniel James Griffin (Inggris) serta Leo Natale (Perancis) untuk berkolaborasi. Masing-masing mengisi porsi solo dan ritem. Sementara dari dalam negeri, ada Giovano Caesar Calvino Sirait (vokalis Monoserus) asal Pekanbaru untuk mengisi vokal serta merangkai lirik, dan Adrian Wirahmedi (Jakarta) untuk menyumbangkan betotan bassnya.

“Tidak ada alasan khusus mengapa saya berkolaborasi dengan dua musisi Eropa dan dua musisi Indonesia. Saya hanya menikmati flow-nya,” ungkap Eko kepada MUSIKERAS, saat ditanya mengenai motivasinya di balik kolaborasi tersebut.

Dalam menciptakan “The Reign of Chaos” – serta stok lagu lainnya yang bakal dirilis ke dalam kemasan album mini (EP) – Eko menggunakan teknik yang ia sebut ‘jemput bola’. Ia mulai menggarapnya sejak pertengahan 2016 lalu tanpa menunggu inspirasi datang.

“Saya seperti memaksa otak saya untuk mengeluarkan inspirasi saat itu juga. Untuk pembuatan kerangka lagu tersebut saya menghabiskan waktu selama beberapa hari. Dalam seharinya adalah belasan jam. Dalam kondisi tidak terlalu memahami teknik atau skala-skala pada gitar, saya mengakalinya dengan merekam potongan-potongan part, lalu dirangkai menjadi satu bar, dan kemudian dirangkai menjadi satu lagu. Semua proses pembuatan kerangka saya lakukan di kamar kost saya,” urai Eko terus-terang.

Setelah itu, proses selanjutnya adalah mencari musisi yang mau diajak berkolaborasi. Dan menurut pengakuan Eko, ternyata itu bukan hal yang mudah. Tidak sedikit musisi yang menolak atau bahkan menyepelekan ajakan Eko.

“Namun, karena kekuatan media sosial, akhirnya saya deal dengan Leo Natale pada Juni 2017. Dia bersedia mengisi dan memperindah trek rhythm guitar dengan karakter permainan dia, tanpa mengubah kord dan biji-biji lagu yang saya buat. Semua proses perekaman gitar dilakukan Leo di Perancis. Setelah itu, saya deal dengan James Griffin pada November 2017 untuk pengisian lead guitar. Semua proses perekaman dilakukan James di Inggris.”

Tahapan selanjutnya adalah berkolaborasi dengan musisi lokal, yakni Adrian dan Giovano yang mengeksekusi rekaman bass dan vokal di kota masing-masing pada awal 2018 lalu. Sementara untuk proses mixing dan mastering yang dilakukan pada Juni 2018 lalu, Eko mempercayakan pemolesannya pada Tiago Mesquita di Nox Messor Studio, Portugal.

Secara musikal, referensi Eko banyak terserap dari karya-karya rekaman band-band modern metal dari rumpun metalcore, deathcore dan djent yang disukainya seperti Thy Art is Murder, After the Burial, Tesseract, Northlane, Monuments, Anup Sastry, Jason Richardson, Veil of Maya, Periphery dan sejenisnya.

“Dari sudut pandang saya, metalcore, deathcore dan djent adalah genre yang sempurna bila dikombinasikan. Karena metalcore memiliki riff-riff yang marah namun eksekutif, deathcore memiliki breakdown-breakdown yang rapat sehingga terdengar jantan, serta djent dengan karakter sound yang modern. Jadi bagi saya, tidak ada alasan untuk tidak menyukai ketiga genre tersebut!”

“The Reign of Chaos” sendiri merupakan single pembuka menuju perilisan EP berjudul “Origin” yang dicanangkan dirilis pada akhir 2018 atau pada pertengahan 2019 mendatang. Rencananya, ada empat komposisi yang akan dikemas di EP tersebut, dan juga bakal menghadirkan kolaborasi dengan beberapa musisi lain.

“‘Origin’ saya garap sebagai projek solo karena secara materi, lagu-lagu yang terdapat di dalamnya tidak sinkron dengan benang merah atau karakter band saya, Monoserus. Selain itu, sebagai musisi independen, saya juga ingin meluangkan idealisme secara penuh dan tidak terbatas, saya kira hal itu hanya bisa terwujud dalam projek solo. Karena jika di band, tidak mungkin untuk menjadi seperti itu, karena akan disebut egois.”

Bersama Monoserus sendiri, Eko telah menghasilkan EP berjudul “Blasted” yang telah dirilis pada akhir 2017 lalu. Dan kini, Monoserus tengah menyiapkan single baru bertajuk “Fals Prophet”. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY