Indie rock yang bernuansa alternatif plus sedikit balutan emo menjadi formula utama Burn No Bridges, sebuah band baru asal Kota Malang, yang tertuang lewat single terbarunya berjudul “Ignored “. Awalnya, single tersebut sempat memanaskan sebuah album komplilasi Malang Records Day bersama 18 band lain, namun lantas dilepas lagi secara resmi pada 6 Juni 2018 lalu via kanal Youtube, Soundcloud serta Bandcamp.

“Ignored” sendiri menceritakan tentang seorang anak manusia yang tersudutkan oleh keadaan di tempat asalnya, dimana anak manusia tersebut tumbuh dalam lingkungan yang penuh kebohongan, kesombongan, licik dan cara tersebut adalah sebagai kunci utama untuk maju.

Para personelnya, Sastino (vokal/gitar), Yoga (gitar), Satria Bima (dram) dan Fandi (bass) merekam “Ignored” hanya dalam waktu sehari, yang dieksekusi pada awal Januari 2018 di sebuah studio rekaman lokal Malang bernama Fourwall Records. Sementara untuk pendistribusiannya dipercayakan oleh Undisputed Distribution.

Konsep indie rock sendiri mulai menyusupi Burn No Bridges setelah para personelnya kerap mendengarkan Modern Baseball dan Homesafe, dua band rock asal Amerika Serikat. “Maka dari itu ‘Ignored’ sedikit menuju ke indie rock,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Namun disamping itu, dari segi musikal, Burn No Bridges juga banyak mendapatkan referensi pengembangan kreativitas secara musikal dari band-band seperti More Than Life, Trash Boat, Being as an Ocean, Knuckle Puck, Man Overboard, Citizen, Sleeping with Sirens, Box Car Racer, Blink 182, +44, Basement hingga My Chemical Romance. Makanya, warna indie rock tidak dibiarkan ditampilkan apa adanya. Karakter Burn No Bridges yang kuat akan pengaruh emo tetap terjaga.

“Secara general, kami tetap mengusung musik yang simpel dan tulus. Karena kami juga tidak terlalu jago bermain alat musik, jadi kami mengandalkan ketulusan dalam bermusik. Kami berprinsip bahwa musik yang tulus pasti akan menghasilkan sesuatu yang berbeda dari pada musik yang dipaksa menjadi bagus.”

Terbentuknya Burn No Bridges sendiri diawali oleh Sastino yang sebelumnya menjadi gitaris dari sebuah unit Pop Punk bernama Every One’s Hero. Karena merasa tidak ada pengembangan di band tersebut, ia lantas memutuskan untuk membuat sebuah band sampingan dengan harapan dapat merealisasikan semua pencapaian yang belum tersampaikan kepada publik, pada Oktober 2017. Sastino kemudian mengajak Yoga yang saat itu masih aktif di band Marle Red. Gayung bersambut. Keduanya ternyata memiliki visi dan misi yang sama di dalam sebuah band. Akhirnya, disepakati membentuk Burn No Bridges, nama yang diambil dari sebuah judul lagu band luar bernama Gray Matter, yang jika sedikit difilosofikan adalah sebuah pembakaran terhadap jembatan yang tidak berwujud. “Mungkin jika disimpulkan (bermakna) membakar sebuah perasaan yang sangat kacau.”

Pada 1 Desember 2017, Burn No Bridges merilis sebuah album demo berjudul “Burn My Pages” yang berisikian dua lagu, yakni “Leave Me” dan “Messed Up” yang juga direkam di Foruwall Records dan diedarkan dalam format fisik oleh Undisputed Distribution. Tujuan perilisan demo itu sendiri sebagai bentuk promo untuk memperkenalkan Burn No Bridges di skena musik Malang dan nasional. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY