Dari Bandung, satu lagi unit rock yang menggairahkan lahir. Bernama Katzenmeister, dan dihuni gabungan musisi yang pernah tergabung di band lokal seperti Vincent Vega, Baby Eats Crackers, Sarasvati, These R Fake, Ellipsis, Sweetyard dan DFFC. Mereka sepakat tampil beda dalam konteks musikal, dimana nuansa hard-rock mereka leburkan dengan kontur progressive-rock yang agresif.

Lewat sebuah single perdana bertajuk “Bend the Knee” yang telah diedarkan di berbagai platform digital, Katzenmeister yang diperkuat formasi Alexandra Regina (vokal), Aryo Bangundityo (bass), Arya Pratama (gitar), Sheryta Arsallia (dram) serta Aulia Lazuardi (gitar) meracik komposisinya dengan perlakuan yang eksperimental, yang sedikit banyak terinspirasi dari band-band progresif dunia seperti A Perfect Circle, Tool, Baroness dan The Mars Volta.

Apa yang membuat mereka tertarik pada genre progressive rock?

“Yang menarik, tentu saja ada di istilah progressive itu sendiri. Kami bisa bereksplorasi dan memasukkan lebih dari satu jenis musik ke dalam lagu, dan nantinya lagu-lagu di album kami pun tidak perlu terpatok untuk selalu berada di koridor musik yang sama, tanpa menghilangkan ciri khas dari Katzenmeister,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, diplomatis.

Ya, Katzenmeister saat ini memang tengah menyiapkan sebuah album debut. Bahkan proses kreatifnya sudah mencapai 90% dan telah memulai penggarapan produksinya. “Setelah single ‘Bend the Knee’, kami akan merilis dua single lagi dalam waktu dekat. Dan di akhir tahun, kami berencana untuk merilis album pertama kami. Selain itu, kami juga berencana mengeluarkan video musik lagu ‘Bend the Knee’ tahun ini.”

Proses kreatif dan produksi rekaman “Bend the Knee” – lagu yang menceritakan sebuah karakter dengan kecenderungan menyerah pada otoritas – dieksekusi para personel Katzenmeister di Bandung dengan bantuan Adhit Android untuk memastikan pengolahan teknis rekaman berlangsung sesuai dengan yang diinginkan. Selama proses rekaman hingga selesai mixing menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga bulan untuk tiga lagu sekaligus.

“Kendala-kendala pasti ada (saat menjalani rekamannya), terutama gara-gara personel Katzenmeister ini merupakan muka-muka tua yang sudah lama banget nggak manggung atau rekaman, sehingga kami semua jadi cupu. Tapi setelah sedikit pembinaan, keributan, keringat, darah dan air mata, semuanya berjalan lancar. Tantangan berikutnya adalah jadwal kami yang tidak fleksibel karena semuanya sudah punya pekerjaan. Jadi kami semua menentukan jadwal rekaman dari jauh-jauh hari sebelumnya dan harus berkomitmen terhadap jadwal yang sudah disepakati bersama,” ungkap pihak Katzenmeister lagi, memperjelas.

Satu hal unik dari band yang terbentuk pada 2017 lalu ini adalah pemilihan nama bandnya. Karena pada dasarnya semua personel Katzenmeister adalah geek, jadi mereka mencari istilah yang terdengar sangar atau galak. “Tapi ketika diterjemahkan artinya ‘unyu-unyu’. Ide dari Shery dan Aul waktu itu menggunakan bahasa Jerman karena pelafalan bahasa Jerman sangar dan tegas, dan kemudian dipilihlah nama ‘Katzenmeister’ yang artinya adalah ‘Juragan Kucing’. (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY