Bukan main! Butuh lebih dari dua dekade bagi Total Damage baru bisa mewujudkan perilisan sebuah album rekaman penuh pertamanya. Tepatnya di bulan ini, mereka merilis “Struggle for Existence”, yang diedarkan dalam format kaset via label Tarung Record, dan format cakram padat (CD) lewat Grindcore Lokal.

Proses penggarapan “Struggle for Existence” sendiri menghabiskan waktu sekitar empat tahun, termasuk prosesi rekamannya. Butuh waktu selama itu karena sejumlah kendala teknis beberapa kali menyergap. ”Kendala album ini adanya pergantian gitaris serta perubahan konsep dan karakter lagu-lagunya,” ungkap band penganut Crust Grind asal Jakarta Selatan ini kepada MUSIKERAS.

Di album tersebut, Total Damage yang terbentuk sejak 1997 silam mengeksekusi 11 komposisi mengerikan, yang diracik dengan bauran nuansa crustpunk dan ritem ala grindcore. Mereka menyebut, sebagian besar ramuan musiknya terpengaruh band-band referensi yang mereka dengarkan seperti SkitSystem, The Exploited, Terrorizer, Assuck, Extreme Noise Terror, Napalm Death, Disrupt, Insect Warfare, Sex Pistols hingga Unrest dan Dislike (Jakarta). “Musik kami dititikberatkan pada distorsi dan karakter masing-masing personel.”

Sementara untuk tema lirik, Total Damage banyak menyorot masalah sosial, politik, kecaman dan konspirasi. Lebih spesifik lagi, bertemakan tentang pembantaian masal, peperangan, konspirasi dan ideologi. “Judul ‘Struggle For Existence’ diambil dari teori Charles Darwin, dimana adanya manipulasi tentang keberadaan sang pencipta, yang berdampak negatif pada seluruh umat manusia. Kecamuk dunia dan kekejaman banyak didasari dari konsep tersebut.”

Total Damage yang kini dihuni formasi Gemma Iryandi (vokal), Julis Head (gitar), Dedi Dobs (bass) dan Rifqi Oklay (dram) menjalani proses rekaman “Struggle for Existence” di studio ALS yang terletak di kawasan Rempoa, Bintaro dengan bantuan operator Wendy. Sementara untuk penataan dan pelarasan suara (mixing dan mastering) dipercayakan pada Robby (Wrath Lab Production). Di beberapa lagu, Total Damage juga melakukan kolaborasi dengan beberapa rekan musisi seperti Geboy (The Sabotage, D’Jjenks, Out Of Control), Irfan (mantan vokalis Total Damage), Asti (AIRD), Ridwan (Kecikitty) dan Derry.

Walau baru sekarang merilis album debut, namun sepanjang karir Total Damage, mereka kerap terlibat di berbagai proyek album kompilasi mau pun album split. Baik rilisan lokal maupun internasional. Sebut saja di antaranya, kompilasi “Grinding Aftermath” (2011), dimana Total Damage berbagi lahan dengan band Agoraphobic Nosebleed (AS), Brutal Truth (AS), Hellcore (Jakarta), Kill The Client (AS), Otnamus (Malang), Rotten Sound (Finlandia), Social Shit (Argentina) dan banyak lagi. Lalu ada split “Global Conspiration, Mindset Destruction, Terror Action” (2012) yang memuat lagu-lagu milik Total Damage dan Famine Sector (Perancis), serta album split bersama band asal Amerika Serikat, Human Trade bertajuk “Blood Thirsty Fuckers” (2013) yang dirilis via label TornFlesh Records (AS).

Dan di antara 11 lagu yang dilampiaskan Total Damage di album “Struggle for Existence”, terselip komposisi “Martyrdom” dan “Grey” yang merupakan hasil rekaman ulang dari versi yang pernah termuat di proyek-proyek kompilasi dan split tadi. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY