Ada ungkapan ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’. Nah, bisa dibilang, band asal Medan yang kebetulan memang bernama Rumput ini pun meyakini itu. Lewat album debutnya yang bertajuk “Munafik”, mereka pun membiarkan derapan distorsi musikalnya meleber hingga ke luar pagar halaman ‘heavy metal’ beraura ’70an dan ’80an yang mereka anut. Berbagai jenis ‘rumput tetangga’ mereka serap untuk lebih ‘menghijaukan’ heavy metal versi mereka.

“Di beberapa lagu terdapat nuansa hardcore yang sangat kental. Seperti di single pertama berjudul ‘Munafik’ misalnya, keseluruhan lagu kami bagi menjadi tiga bagian yang berbeda; part yang dikhususkan untuk ber-moshing ria, part ber-headbang’, dan part untuk cooling down serta ditambah isian vokal latar khas hardcore. Walaupun beberapa (orang) menyebut Rumput beraliran stoner metal, tapi kami lebih senang jika diidentikkan dengan heavy metal,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, memperjelas.

Contoh lainnya, lanjut mereka lagi, juga tergambar di “Melepas Doktrin”, sebuah lagu yang sangat mereka banggakan dari sisi musikalitas. “Karena secara musikal tidak pernah terbayangkan akan memainkan lagu dengan beat ala thrash metal. Di lagu itu juga merupakan satu satunya lagu yang memiliki sound melodi gitar seperti kebanyakan band thrash metal era ’80an, seperti Metallica, Slayer dan Testament.”

Album “Munafik” sendiri beramunisikan sembilan lagu yang sarat raungan distorsi, gemuruh pukulan dram hingga betotan bass yang secara agresif mengiringi lirik tentang kegelisahan akan situasi sosial. Para personel Rumput, yakni Nicko (vokal), Fandi (gitar), Aufar (bass) dan Bayu (dram) mulai merekamnya pada pertengahan 2016 lalu di Am Record Studio dengan bantuan teknis dari Helmi “Ami” Arif, selama hampir empat bulan. Sementara untuk proses mixing dieksekusi selama dua bulan di Jakarta, yang dipercayakan kepada engineer Azi “Kakek” Rianto. Konon, proses mixing tersebut cukup menyita waktu tidur dan menghabiskan bandwidth yang cukup banyak karena dikomunikasikan secara online. Setelah itu dilanjutkan ke tahapan mastering selama 14 hari, yang dikerjakan oleh engineer Wawan “Wankrib” Kribo.

Geliat Rumput dimulai pada medio 2006-2007 silam, dengan nama awal Rumput Tetangga, dan mengusung metalcore sebagai aliran musik utamanya. Namun karena adanya perbedaan pandangan para personelnya, saat itu, Rumput Tetangga bubar tiga tahun kemudian. Namun selang beberapa bulan, sebagian personelnya kembali berkumpul atas inisiatif dari seorang gitaris bernama Giffarie (The Oh Good) yang memberikan semacam pencerahan agar band kembali aktif bermusik di skena Medan. Setelah beberapa kali pertemuan yang intensif maka terbentuklah formasi Nicko, Fandi yang tadinya merupakan vokalis di Rumput Tetangga, lalu Aufar (sebelumnya gitaris di Rumput Tetangga) dan Bayu. Formasi inilah yang lantas memulai penggarapan materi lagu-lagu orisinil Rumput. Oh ya, nama ‘rumput’ sendiri dicetuskan secara tidak sengaja, karena pada penampilan panggung pertama, mereka diharuskan memiliki nama. Dengan aklamasi yang sangat singkat diputuskan nama “Rumput” tanpa embel-embel kata “Tetangga” lagi. Dari sudut musikal, Rumput lantas mulai berkonsentrasi ke karakter band seperti Black Sabbath, Motorhead, Scared Reich, Slayer, Prong dan sebagainya.

Kembali ke album “Munafik”, saat ini lagu-lagunya sudah bisa didengarkan di berbagai kanal digital seperti Spotify, Apple Music dan layanan streaming lainnya. Dan dalam waktu dekat, juga akan diproduksi dalam format fisik, bersamaan dengan perilisan video dokumenter tentang pembuatan album dan perjalanan Rumput. (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY