Hal tersulit dalam sebuah band adalah menjaga chemistry antar personel, penentuan skala prioritas serta menjaga agar semangat untuk berkarya selalu berkobar. Sepertinya, tiga hal itulah yang terus diperjuangkan oleh Hands Upon Salvation, unit hardcore/metal asal Kota Gudeg, Yogyakarta untuk terus bertahan di skena musik keras Tanah Air.

Dan pembuktian keeksisan mereka kembali terbukti lewat karya album rekaman terbaru bertajuk “Heresy” yang secara eksklusif bakal diperdengarkan via platform Bandcamp pada 5 Agustus 2018. Untuk versi kepingan cakram padat (CD), dalam waktu dekat akan dirilis oleh Diorama Records dan Forget The Pain Inc, dua label dari Indonesia. Lalu juga bakal diikuti oleh label Mark My Words Records dari Inggris. Untuk penggemar format kaset, “Heresy” juga bakal diproduksi oleh Jesuiscidal Records (Indonesia) dan Bound By Modern Records (Jerman).

Hands Upon Salvation yang kini dihuni formasi Agus Suryanto (vokal), Aar Dimasta (gitar), Yuan Ari Panji (gitar), Daru Dwi Giyarto (bass) dan Yanuar Surya (dram) membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merampungkan proses penggarapan “Heresy”. Mereka terakhir kali merilis album yang bertajuk “Entity” pada 2012 silam. Ya, berbagai kendala – terutama dari kehidupan lain di luar urusan band – cukup menyita waktu sehingga mereka harus pintar-pintar menyiasatinya. Dan disamping itu, bagi Hands Upon Salvation, urusan proses kreatif memang tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru.

“Proses kreatif buat kami membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kami berlima semuanya adalah kaum pekerja dari berbagai macam profesi dan latar belakang, termasuk juga tiga dari kami telah berkeluarga dan mempunyai momongan. Sementara dua personel kami juga bermain untuk beberapa band lain. Kendala lebih banyak di waktu. Dan di sini, faktor prioritas untuk berproses dan terus berkarya memang jadi taruhan di antara semua tanggung jawab di atas. Bukan berarti jeda waktu itu kami diam saja tanpa ada apa-apa. Jeda waktu selalu kami isi dengan rilisan-rilisan di luar album supaya tensi kami terus terjaga. Dan sepanjang 2017 kami isi dengan rekaman, mixing, mastering, yang diselingi revisi-revisi sampai akhirnya siap dirilis,” ungkap Agus Suryanto kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di band.

Proses pematangan produksi “Heresy” yang memuat sembilan komposisi baru plus satu lagu daur ulang sudah dimulai sejak akhir 2016. Dan beberapa waktu lalu, Hands Upon Salvation sempat meluncurkan single berjudul “Flames Of Discontent” untuk memperkenalkan “Heresy”. Secara keseluruhan, rekaman “Heresy” dieksekusi di Orangebee Studio, sebuah studio di ujung timur kota Yogyakarta. Dari proses rekaman hingga mastering akhir, semuanya mereka rampungkan bersama seorang engineer misterius bernama samar Senri San. Menurut pihak band, rekam jejak Senri San cukup panjang. Selama berkelana di ibukota, Senri pernah menangani proses rekaman untuk band-band semacam Kuro!, Speak Up, Seems Like Yesterday, Hard To Kill, 9 Matahari bahkan Ardina Rasti, termasuk juga album-album panas dari Yogyakarta seperti The Cloves and Tobacco dan Sabbra Cadabbra.

Walau menjalani jeda perilisan album yang cukup lama, tapi fokus geberan distorsi Hands Upon Salvation di “Heresy” masih terpusat pada fusi purba senyawa hardcore dan agresifitas metal. “Semuanya mengalir dalam proses kerja penulisan lagu dan lirik, di antara pakem referensi dan kreatifitas kami berlima sebagai sebuah band,” urai Agus lagi.

Namun kali ini – jika misalnya dibandingkan dengan album pertama, “Celebrate The Newborn” (2004) atau “Entity” – “Heresy” menawarkan aransemen yang terasa lebih padat dan lebih dewasa. Baik dari segi penggunaan instrumen, pemilihan karakter sound, penulisan lirik maupun hasil akhir kualitas rekamannya.

“Kami mungkin banyak buang waktu di situ karena kami tidak ingin cuma asal-asalan bikin album atau kejar target buat nyenengin orang lain. Apa yang kami buat adalah apa yang kami suka, bermain murni untuk nyenengin diri sendiri. Karena kalau cuman buat nyenengin orang lain, musik kami nggak bakal kayak gini. Walaupun pada akhirnya hasil karya kami (tetap) diapresiasi orang lain.”

Serapan referensi dari pahlawan musik pribadi para personel Hands Upon Salvation tentu saja banyak terserap di nadi album “Heresy”. Apalagi mereka, rata-rata terlahir di era ‘80an, lalu besar di era ‘90an dan menjadi dewasa di era milenial. “Pastinya banyak sekali dan macam-macam. Untuk saya pribadi, saya suka band-band hardcore yang terpengaruh metal di sepanjang era akhir ‘90an hingga tengah milenium, band-band yang diproduksi New Age Records, Goodlife Recordings, Lifeforce Records, Perkoro Records, Alveran Records dan Beniihana Records,” cetus Agus meyakinkan.

Hands Upon Salvation mengawali karirnya pada 1998 silam, dengan nama awal, Destruct. Diawali oleh empat musisi ingusan, yang bersatu setelah band masing-masing bubar. Setelah berjalan hampir empat tahun, dan melewati proses beberapa kali perubahan formasi, plus beberapa rekaman single, Destruct akhirnya secara resmi berganti nama menjadi Hands Upon Salvation.

Tahun 2003, mereka lantas merekam demo pertama, yang lantas dirilis sebagai album pertama pada 2004 oleh Diorama Records (Indonesia). Album bertajuk “Celebrate the Newborn” yang memuat lima komposisi hardcore/metal tersebut lantas dirilis pula oleh Paranoid Records (Malaysia) setahun kemudian. Lalu menyusul Retribution Network (Jepang) yang juga merilis ulang “Celebrate The Newborn” pada 2007 dan Birthdie Records (Indonesia) pada 2010 dengan sisipan bonus dua lagu baru plus video musik dan video dokumenter live.

Pada tahun 2011, Hands Upon Salvation merilis album kedua, “Entity” via Hellavila Records (Indonesia). Lalu pada 2015, sebuah label independen asal Malang, Forget The Pain Inc (FTP Inc) merilis ulang album “Celebrate The Newborn” dan “Entity” secara bersamaan. Setahun kemudian, giliran Toxictape Records (Jerman) juga merilis ulang album “Entity”.

Di antara proses perilisan album-album tersebut, Hands Upon Salvation juga telah merilis lima album split dan terlibat di 18 proyek album kompilasi luar dan dalam negeri. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY