Adalah bukan hal aneh, jika sebuah band masuk studio rekaman tanpa bermodalkan material musikal yang sudah terkonsep sedikit pun. Paling tidak, ‘konsep’ inilah yang sangat dipahami oleh Morgia, sebuah band eksperimental dengan darah grindcore dan hardcore yang kental asal Jakarta. Lewat album debutnya yang bakal segera dirilis via Playloud Records, band ini menumpahkan 16 trek bermuatan ide gila berbalut formula yang mereka sebut dengan istilah, ‘Experimental Sci-fi Grindcore’.

Sebelumnya, Morgia sudah memanaskan altar eksistensinya lewat rilisan demo digital berjudul “Implanted In Morgitronus” via Bandcamp. Ada tiga komposisi yang mereka gelar di kanal tersebut, yakni “Hyperspectral Chronospheric Entity”, “5” dan “Rekonstruksi Kepunahan Fakta”.

Morgia sendiri dihuni deretan musisi yang berasal dari berbagai latar belakang genre musik keras. Wandi (vokal), Ditch (gitar/vokal), Agus (dram/vokal), Andika (bass/vokal) dan ‘r (kibord) berangkat dari band-band seperti Kelakar yang berkarakter avantgarde-metal, lalu dari Obsesif Kompulsif (thrashcore/powerviolence), No More Victim Dead (oldschool youthcrew hardcore) serta Demoniac (death metal). Ya, bisa dibayangkan, ditemukan berbagai elemen di musiknya, seperti hardcore, crusty grind, hardcore punk yang diolah dengan pendekatan eksperimental.

Dalam membangun musiknya, para personel Morgia sepakat atas pemahaman bahwa musik eksperimental bisa menembus segala batas musikal. Suatu paham yang juga berlaku di ranah progresif atau alternatif.

“Selama ini eksperimental dalam bidang musik selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan microtonality, penempatan asymetrical rhythm dan instrumentasi yang disharmonic terhadap mainstream tonality. Padahal, perkembangan musik yang menjadi salah satu unsur atas terjadinya perpindahan mazhab pada negara-negara yang menjadi sumber bagaimana 12 tone series berkembang mendunia merupakan suatu eksperimentasi atas suatu ekspresi dalam berkarya. Sebagai tolak ukur atas sebuah pemikiran. Grindcore sendiri, merupakan wujud eksperimentasi atas punk dan hardcore. Jadi merupakan implementasi dari ekspresi sebelumnya. No boundaries adalah istimewa,” urai ‘r’ kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

“Eksperimental bagi kami adalah eksplorasi lanjutan hingga titik pencapaian maksimal yang kami suka dan sepakati. Karena ingin sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada. Tapi kadang kami masih kompromistis juga dengan hal-hal standar dan konvensional maupun tipikal yang masih lekat pada diri kami ketika menuangkan ide lewat nada atau konsep di Morgia,” timpal Ditch, memperjelas.

Lalu bagaimana mereka menerapkan konsep ‘experimental Sci-fi Grindcore’ dalam racikan musik dan liriknya?

Menurut ‘r, dalam konteks itu, Morgia menyajikan simbolisasi dalam lirik menggunakan beberapa istilah dalam jagat sci-fi, yang kebanyakan diaplikasikan secara kontroversial, berbeda makna, dan menjadi simbolisasi tentang pilihan hidup pada manusia. “Kami tidak bicara kegelapan, kehancuran dan hal-hal yang negatif.”

“Tema yang saya pahami dari penulisan ‘r,” imbuh Ditch, “intinya adalah hal-hal yang introspektif, seperti positive mental attitude yang dikonotasikan secara metaforik dengan padanan kata-kata sains-fiksi yang diadopsi dari beberapa karakter dan jalan cerita film-film tema sains fiksi, yang sebenarnya adalah tentang hal-hal positif.”

Sementara secara musikal, diperspektifkan kepada pendengar lewat eksplorasi suara yang representatif terhadap suara-suara sci-fi sound. “Umumnya dieksplorasi dari suara kibord, tapi ternyata jauh dari apa yang menjadi pemikiran-pemikiran yang akan muncul ketika mereka mendengar istilah ‘experimental Sci-Fi Grindcore’. Justru kibordis menampilkan lebih ke arah sinematik sebagai kodifikasi lirik yang ada. Sekali lagi, bahwa album ini memiliki konten yang kontroversial dari apa yang menjadi perspektif masyarakat musik ketika mereka mendengarkannya. Itu memang tujuan perilisan album ini,” papar ‘r.

Sementara oleh Ditch, eksplorasi di Morgia ia gambarkan lebih ke penetrasi bebunyian yang beratmosfer fantasi dan sains pada istilah-istilah perumpamaannya. Jika tanpa suara kibord ‘r, mungkin akan terdengar seperti band grindcore atau bahkan hardcore punk biasa.

“Jadi kuncinya pada padanan suara kibord. Untuk instrumen lain saya rasa masih standar kok. Sci-fi grind saya rasa istilah jurnalis musik ketika The Locust menginvasi skena hardcore/punk/metal dengan balutan noise-nya di akhir ‘90an. Ada juga Inferno, sci-fi grind n’ roll dari Italia yang mengeksplorasi instrumennya lebih seperti mainan digital rusak.”

Album debut Morgia sendiri digarap ‘r, Ditch, Wandi, Agus dan Andika secara spontan selama kurang lebih setahun. Itu pun dengan kondisi, mereka tidak memiliki rutinitas latihan secara konsisten. Lalu sempat pula terhadang proses pergantian atau penambahan personel. “Kami memilih tempat untuk rekaman di Studio K yang sampai saat ini kami pikir masih (tergolong) studio yang termurah era sekarang, dengan (kualitas) mixing yang memuaskan telinga,” ungkap ‘r.

Oh ya, terbentuknya Morgia sendiri berawal dari keinginan dramer awal, Ceppy, Aditya (gitaris) dan ‘r  membuat proyek band dengan konsep yang berbeda dengan root dalam konteks grindcore. “Saat itu kami memang sengaja latihan tanpa adanya persiapan apa pun dari segi konsep musik dan tak ada gambaran apa pun akan seperti apa musik yang kami buat,” ungkap ‘r mengilas-balik.

Namun seiring berjalannya waktu, terutama saat mulai menjalani proses rekaman, pola permainan dram Ceppy dirasakan tidak memenuhi karakteristik musikal yang diinginkan Morgia. Singkat cerita – setelah Andika pindah ke posisi bass – posisi Ceppy pun digantikan oleh Agus yang lantas dilibatkan merampungkan proses rekaman album. (mdy/MK01)

.

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY