Sebuah band cadas distortif berkontur progresif, namun tak digerakkan oleh peran gitaris?

Ya, jelas itu bukan formula lazim. Tapi sebuah band asal Bandung yang menamakan dirinya Post-Human benar-benar menerapkan formasi itu. Dihuni empat musisi, yakni Rizqi Iskandar (vokal), Richard Mutter (dram) serta dua orang pembetot bass: Boris dan Getha Azzam. Lewat single perdananya yang telah dirilis, bertajuk “Lost”, Post-Human membuktikan bahwa distorsi tidak mutlak dari perangkat gitar.

“Ada dua alasan yang sebenarnya aneh,” seloroh pihak Post-Human kepada MUSIKERAS, tentang keputusan mereka tidak mempekerjakan gitaris.

“Pertama, kami sama-sama sempat memiliki band dengan gitaris yang kurang menyenangkan sifatnya, bahkan berulang kali, hingga akhirnya kami agaknya sedikit trauma dengan gitaris. Ini tentu nggak masuk akal dan mengada-ada, tapi beneran! Yang kedua, Boris nggak nyaman main gitar, karena katanya senarnya kekecilan. Tapi keinginan untuk bermain sebagai gitaris tidak jadi padam karenanya. Dan kemungkinan karena pembawaan dari band sebelumnya – metal juga – dimana permainan bass-nya hampir utuh sama dengan permainan gitarnya. Kebiasaan.”

Lantas bagaimana penerapannya?

Secara teknis, menurut mereka, penerapannya agak mirip dengan peletakan gitaris rhythm dan lead. Hanya, kali ini instrumennya bass. Getha bermain di departmen ritem, dengan sound yang clean, serta permainan nada oktaf dan bass line yang umum untuk mempertegas fokus musik yang dimainkan. Sementara Boris bermain di lini lead, lengkap dengan sound yang terdistorsi, permainan delay dan sebagainya, yang berfungsi untuk menyampaikan kalimat dalam musik sebagai nuansa utama yang diperjelas. “Kalimat-kalimat tanya dan jawab hadir dalam posisi ini sehingga vokal not menjadi keharusan. Kurang lebih seperti itulah,” urai pihak band menegaskan.

Oh ya, “Lost” sendiri merupakan single pemanasan, sebelum Post-Human merilis album mini (EP) perdana bertajuk “Nothing To Be Done” tahun ini. Proses rekamannya sendiri sudah berjalan dan berlangsung cepat. Karena, menurut para personel band bentukan 2017 ini, dari sisi ide semuanya sudah terbagi ke dalam bagian-bagian yang jelas. “Nothing To Be Done” bercerita mengenai bagaimana perasaan seseorang ketika ia tahu kapan ia akan mati (dalam kasus ini, penyakit) sesuai dengan teori Elizabeth Kubler-Ross mengenai psikologis seseorang dalam menghadapi hal tersebut. Secara mudah, ia menyatakan ada beberapa tahap, antara lain ialah marah, kemudian mencoba untuk mengubah – antara lain dengan berdoa, dan sebagainya – hingga kecewa.

“Atas dasar itulah EP tersebut dibangun, sehingga setiap lagu punya nuansa dan emosi yang pasti. Hal ini benar-benar memudahkan kami dalam merangkai materi, karena kami sudah tahu targetnya, tinggal bagaimana menyuarakannya dan dirangkai jadi satu kesatuan cerita berdasarkan lirik.”

Lanjut ke teknis, keseluruhan proses audio, mulai dari rekaman hingga mastering, dieksekusi di studio rekaman rumahan, plus bekerja sama dengan Rutter Studio. Dari keseluruhan proses hampir tak ditemui kendala yang berarti, kecuali situasi dimana mereka harus ‘harap maklum’ dengan alat-alat rekaman yang seadanya. “Tapi toh, ternyata kemauan yang besar yang jadi penentu, bukan modal yang besar… hehehe. Mungkin yang agak melelahkan adalah bagian ‘nyetting’ suara bass sehingga bisa mengisi kekosongan gitar. Melelahkan…!”

Nuansa, memang menjadi inti dari keseluruhan musik Post-Human. Dan untuk mewujudkannya, adalah ranah progresif yang bisa memberikan kemewahan itu, untuk kebebasan bereksplorasi. Bagi mereka, satu hal yang benar-benar hebat dari musik progresif adalah perubahan nuansa yang bisa diberikan. Ada sejenis emosi-emosi tipis, seperti marah yang sedih, atau sedih yang disertai kekecewaan, yang bisa disampaikan oleh-oleh musik seperti ini.

“Hal itulah yang kemudian kami coba rumuskan dalam musik milik Post-Human. Nuansa yang tidak kaku, cerita yang utuh serta perubahan-perubahan emosi yang sedikit pun tidak dibiarkan putus, adalah hal yang coba kami naikkan dalam musik kami, sehingga metal dan musik keras tidak melulu berbicara mengenai kemarahan atau perlawanan, tetapi bisa saja kemarahan dalam sedih. Dan satu hal yang cukup penting, ketika pendengar memahami ide dari apa yang sedang kami suarakan, maka musik akan menjadi jalan menuju kesadaran hidup yang lebih baik.”

Ada beberapa referensi yang sedikit banyak menjadi penuntun dalam mewujudkan ekspresi emosi Post-Human dalam berkarya. Salah satunya adalah Tool, unit progresif rock/metal asal Los Angeles, AS. Terutama pengaruh mereka dalam menentukan permainan-permainan time signature serta ketukan temponya yang aneh. “Tool juga mempengaruhi kami dalam memahami pola musik yang menghipnotis, juga suasana kelam yang tidak berlebihan,” ungkap Post-Human meyakinkan.

Lalu di luar itu, juga ada serapan-serapan dari beberapa band metal progresif masa kini seperti Architects, Bleed from Within, Veil Of Maya dan lainnya. “Generasi ini kami sebut dengan istilah ‘BKB’, alias ‘Barudak Kreatif Ber-breakdown’. Karena tau sendiri, gimana mereka bikin breakdown. Allahu Akbar, enak bangeud…!”

Ada lagi pengaruh yang lain, yakni komposisi-komposisi musik klasik, terutama dari Leo Brouwer dengan Hika-nya, juga Endecha Y Oremus serta Remembering Praha dan Asturias. “Selebihnya, kami rasa Pink Floyd juga punya pengaruh besar dalam musik kami, dalam berbagai aspek. Kami rasa bagian ini agak sulit dijelaskan, karena Pink Floyd mengajarkan perasaan dalam bermusik, tanpa bisa kami jabarkan.” (Mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY