Supercharger merupakan sebuah kelompok musik yang beranggotakan empat anak muda Tasikmalaya. Mereka – yakni Prabu Grahadiandita (vokal), Cesar Akbar Alaydrus (gitar), Luthfi Ramadhan (bass) dan Aldi Nurikhsan (dram) – mendirikan band ini karena termotivasi untuk digemari wanita-wanita cantik dan menjadi kaya raya.

Ya, bisa jadi itu ungkapan mereka yang paling jujur. Tapi sebenarnya, Supercharger tidak sebatas itu. Adalah kecintaan mereka terhadap musik-musik bertenaga dari era ’90an hingga awal ‘2000an seperti post-grunge, nu-metal dan alternative rock yang membuat mereka terlecut untuk berkarya. Band-band yang bermunculan pada era tersebut banyak memberikan mereka sumber inspirasi dalam berkarya.

Setelah meluncurkan dua single yang bertajuk “Get Off Me” dan “The Calls”, kini mereka telah berancang-ancang meletupkan sebuah album berisi tujuh lagu plus satu trek bonus bonus berjudul “Goin’ Nowhere”. Jika segalanya berjalan lancar, mereka akan merilisnya pada Oktober 2018.

Motivasi untuk mengeluarkan album berlirik bahasa Inggris itu sendiri, bagi para personel Supercharger, dipicu keinginan untuk membuktikan jati diri masing-masing personel. Tidak mengerucut pada satu konsep, tapi lebih cenderung menampung beragam gagasan yang lahir dari empat kepala. Dan mereka menggambarkan penerapannya ibarat sebuah buku, atau bahkan kitab suci.

“Seperti kenyataan yang sering terjadi, satu buku bisa menjadi beberapa aplikasi penerapan, tergantung orang yang membaca, memahami dan mengaplikasikannya. Bahkan kitab suci pun seperti itu. Begitu pula album kami, setiap personel memiliki konsep dan kepercayaan khas yang kemungkinan besar berbeda (satu sama lain). Tetapi langkah kami ke arah yang sama, untuk menjadi legenda,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS, sarat optimisme.

Lebih jauh, Supercharger juga menegaskan bahwa dari segi materi lirik dan teknis musik, arah album ini lebih plural dan tidak ingin dibatasi. Bahkan setelah seluruh materi terkumpul, mereka juga sudah menyimpan amunisi untuk album berikutnya yang bahkan diklaim bakal lebih mengejutkan. “Karena musik buat kami bukan sebuah kandang sejenis spesis unggas yang tidak boleh dicampur. Musik buat kami adalah kopi, susu, juga gula aren yang bisa bergabung dan menghasilkan minuman yang lezat di lidah!”

“Goin’ Nowhere” digarap Supercharger selama kurang lebih dua bulan untuk pengumpulan delapan materi lagu baru, plus sebulan proses pengerjaan di studio. “Kebetulan kami bekerja sama dengan teman baik sesama musisi yang mempunyai bisnis studio rekaman di GRIP studio. Kendala hanya mengatur jadwal dengan rutinitas sehari-hari dan memikirkan bagaimana mengemas lagu-lagu dengan nuansa era ’90an yang sudah dibuat terdengar lebih menyegarkan dan relevan untuk kondisi saat ini,” ulas mereka lagi meyakinkan.

Dibentuk pada pertengahan 2012, geliat Supercharger berawal dari ide Prabu yang ingin membentuk band. Mulanya sempat diperkuat formasi Prabu, Barry, Cesar dan Agung, dengan orientasi musik yang cenderung mengarah ke corak metalcore dan thrash. Namun karena kesibukan melanjutkan studi masing-masing, band ini pun vakum sampai 2014. Setelah hampir empat tahun, Supercharger akhirnya mumutuskan bangkit dan memulai dengan konsep musik yang lebih jelas. (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY