Tiga tahun setelah terbentuk, akhirnya Cracked Eggs meluncurkan karya rekaman perdananya yang bertajuk “The Sinner”. Dan single ini merupakan pembuka jalan menuju penggarapan album mini (EP) yang niatnya dilepas tahun depan.

Bagi unit southern rock asal Bandung ini, melahirkan sebuah karya memang harus dengan kondisi yang cukup matang, dan tidak dilahirkan dalam kondisi yang terburu-buru. Dan lewat single “The Sinner”, menurut mereka, adalah merupakan rangkaian kedewasaan atau awal dari sebuah proses belajar dari Cracked Eggs yang tidak singkat.

“Banyak guru yang mendewasakan kami, yang mengajari bahwa musik tidak boleh terbilang singkat dibuat. Harus penuh makna, tujuan dan manfaat untuk para pendengarnya. Empat Lagu terbaru akan menjadi perjalanan baru di tahun berikutnya, di 2019. Kami akan memasuki (proses pembuatan) EP, doakan agar lancar,” urai pihak Cracked Eggs kepada MUSIKERAS.

“The Sinner” sendiri memuat beragam pesan di liriknya, hasil karya Fajar, vokalis dan gitaris Cracked Eggs. Tentang seorang pendosa yang menyadari bahwa kesempurnaan itu bukanlah milik manusia. Karena manusia berawal dari sebuah ajaran kehidupan yang menuntut untuk belajar menjadi seorang yang berakal baik. Dan menuju yang baik itulah manusia belajar berdosa.

“Membuat sesuatu hal yang berbeda adalah hal yang penting bagi Cracked Eggs. ‘The Sinner’ memberi pesan khusus agar selalu terbang tinggi, mengudara luas dan terdengar sangat nyaman di semua telinga para pendengar.”

Fajar, Afrizal (bass), Mul (gitar) dan Viddy (dram) menggarap rekaman “The Sinner” di ARU, sebuah studio ternama di Bandung. Mereka mengeksekusinya selama seminggu bersama seorang komposer bertangan dingin, Adhit Android. Dalam pengerjaannya, sempat diwarnai pula dengan berbagai perubahan aransemen serta mixing dan mastering. “(Kami) Terbilang bahagia karena akhirnya teknis pembuatan (lagu) ini menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.”

Geliat Cracked Eggs sendiri dimulai oleh gagasan Fajar dan Afrizal pada 9 Juli 2015 lalu, yang awalnya terbentuk dari sebuah ruang lingkup komunitas musisi di kota Bandung. Keduanya lantas bertemu Mul dan Viddy, dramer yang juga berprofesi sebagai seorang teknisi pesawat. “Dengan modal kekuatan, keseriusan dan kenyamanan-lah akhirnya Cracked Eggs terbentuk secara hebat sampai sekarang ini,” seru pihak band meyakinkan.

Untuk musik, referensi terbesar Cracked Eggs terpusat pada inspirasi rock di era ’70an, yang dikemas sedemikian rupa agar bisa terbaur apik dengan modernisasi. Dan lewat kehadiran Cracked Eggs, para personelnya ingin agar para publik rock bisa menikmati karya-karya mereka. “(Mereka) Kembali menghargai karya lokal dengan hal yang kecil. Semoga bisa menjadi manfaat yang baik untuk menikmatinya. Amin.” (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY