Dalam sebuah perjalanan, kerap banyak perubahan yang ditemui di sepanjang rute yang dilalui. Seperti namanya, yang bisa diartikan berjalan berbaris, atau berparade, MARCH pun mengalami itu. Unit cadas asal Jakarta yang telah eksis sejak 13 tahun lalu ini merasakan perubahan-perubahan selama berkiprah di skena mengikuti kematangan dan kedewasaan musikal para personelnya. Dan itu semua tertuang di album terbarunya, “Reconcile” yang rencananya bakal diletupkan bulan ini.

Seperti yang bisa didengarkan dari dua single pemanasannya, yakni “Atreus” dan “Dogma” yang masing-masing telah dirilis sejak Agustus 2016 dan Oktober 2017 lalu, para personel MARCH benar-benar melakukan peregeseran konsep musik yang cukup drastis. Secara musikal mereka ingin menampilkan formula baru yang lebih variatif, lebih mengedepankan groove ketimbang permainan gitar yang cenderung teknikal.

“Kami akui, dalam beberapa sub-genre musik metal, adrenaline rush itu perlu. Karenanya membutuhkan beberapa lagu yang secara tempo cenderung agresif agar terasa lebih ‘pump-up’. Akan tetapi, saat kami mengerjakan ‘Reconcile’, bukan hal tersebut yang ingin kami kejar. Melainkan aransemen yang terasa lebih penuh, dan lagu-lagu yang bisa sing-along,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Dibanding album sebelumnya, “Polymath” yang diluncurkan pada 2010 silam, para personel MARCH saat ini: Kemal Fady (vokal), Erixson Sihite (dram), Mochamad Rachadian “Ryan” Ramadan (gitar), Arya Aditya “Lale” Ramadhya (gitar) dan bassis terbaru, Adhika “Jmono” Prabu Aprianto menyebut “Reconcile” terdengar sangat ekletik. Dari sisi aransemen misalnya, setiap riff, fill in, pemilihan sound dan detail-nya dipikirkan secara matang dan solid di tiap-tiap bar-nya.

 

“Sebelum kami merekam sebuah lagu di album ini, kami pasti mengadakan pre-pro terlebih dahulu. Kami mencoba beberapa hal hingga kami setuju untuk merekam album ini dengan aransemen yang telah kami sepakati. Kelihatannya memang agak sedikit memakan waktu, akan tetapi setelah kami mendengar hasilnya, kami tahu hal itu layak untuk dilaksanakan.”

“Kami juga cukup beruntung,” lanjut pihak MARCH lagi, “Karena diproduseri oleh Firzi O yang notabene ialah musisi folk, sehingga kami bisa menambahkan beberapa instrumen world music seperti Didgeriido, Kalimba dan beberapa alat musik lainnya. Hal ini tentunya membuka cakrawala wawasan baru bagi tiap-tiap personil di MARCH. Di album ini, kami juga menulis lagu balada. Bukan karena kami mencoba untuk ‘sell-out’, tapi lebih kepada: ‘Ini yang kami suka dan rasakan saat album ini direkam’. Dan kami harap, pesan yang ingin kami sampaikan ini bisa sampai ke pada para pendengar musik kami. Hal itu pun berlaku untuk lirik yang kami tulis. Ada beberapa lirik di album ini yang terasa ‘cheesy’. Sebelumnya kami sudah mencoba menggantinya dengan beberapa kata yang lebih berkesan peka dan kritis. Tapi kami sadari, terkadang integritas sebuah lirik lagu tidak bisa tercipta dari kata-kata yang berkesan intelek semata. Karenanya, kami putuskan untuk menggunakan lirik yang sederhana dan mudah dicerna. Tapi dari hal itu juga kami berharap ‘hook’ dari lagu ini bisa sampai ke pendengarnya.”

Gagasan penggarapan “Reconcile” sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak pertengahan 2011 silam. Saat itu, mereka sudah berencana membuat album kedua dan mulai menulis beberapa materi baru. Proses kreatif itu mereka jalankan hingga pertengahan 2012. Namun karena didera kesibukan tiap personel, mau tak mau proyek tersebut harus terhenti untuk sementara. Memasuki awal 2013, Erixon membawa konsep beberapa materi yang diberi tajuk ‘Reconcile’, yang lantas dievaluasi oleh Jmono di Studio Weird Mansion. Jmono kemudian berpendapat, materi-materi tersebut bisa digunakan dan digabung dengan materi-materi yang sebelumnya telah dibuat. Bersamaan dengan itu, Jmono juga berpendapat agar album kedua MARCH diberi judul ‘Reconcile’, yang berarti ‘memperbaiki sesuatu ke dalam harmoni’.

Setelah itu, proses tracking rekaman album pun dimulai hingga awal 2015, yang kebanyakan dieksekusi di Studio Masak Suara, serta beberapa trek di Studio MK Loft, Studio Weird Mansion, Studio Organic dan Studio Devious. “Reconcile” Selain berkolaborasi dengan Firzi O, MARCH juga melibatkan Yandha Krisna untuk proses mixing di SAE Institute serta Erwin untuk mastering yang dilakukan di Soundsixty Mastering. Pada Juli 2015, proses pembuatan album ‘Reconcile’ telah selesai, akan tetapi proses rilis kembali tertunda karena mereka tak menemukan waktu yang tepat untuk mempromosikan album tersebut.

“Kendala terbesar dari proses pembuatan album ini adalah waktu, dikarenakan masing-masing personel perlu bekerja dan mencari nafkah, maka proses rekaman pun menjadi agak terhambat dikarenakan kami harus saling mencuri waktu di sela kesibukan untuk merekam album ini.”

MARCH mulai menggeliat pada 2005 silam, yang digerakkan oleh vokalis Faddy Alkatiri a.k.a. Kemal Fady, gitaris Afif, bassis Erpe dan Erixon. Faddy sebelumnya dikenal sebagai vokalis unit Screamo/Post-hardcore Jakarta, The Side Project, yang juga dihuni Dochi Sadega (Pee Wee Gaskin). Perubahan formasi, layaknya band lain, juga terjadi beberapa kali di tubuh MARCH. Pada 2006, sempat dihuni oleh Kemal Maharsa yang juga dikenal sebagai gitaris penyanyi pop solo Afghan dan Marcell serta Rian Hamzah, gitaris Omelette. Masih di tahun yang sama, Afif mengundurkan diri dari formasi MARCH dan digantikan oleh Ryan, yang lantas berpasangan dengan Lale, gitaris yang juga tergabung di band pop jazz Maliq and D’essentials.

Pada 22 Februari 2008, MARCH terpilih sebagai band pembuka konser band metal legendaris asal Jerman, Helloween dalam sebuah konser bertajuk “Helloween – Hellish Rock World Tour 2008″ di Jakarta. Di tengah penggarapan album “Polymath”, Erpe mengundurkan diri dan posisinya digantikan sementara oleh Jmono (Alexa/Neurotic) dan Gogo Aditya (Killed By Butterfly/Silent Farewell).

Dua tahun kemudian, album debut “Polymath” dirilis via MARCHmusic Records, dengan single unggulan berjudul “Teori Konspirasi”. Single ini sempat menerobos ke lima besar “Favorite Metal Songs” di ICEMA 2010 (Indonesia Cutting Edge Music Awards), bersaing dengan Deadsquad, Siksa Kubur, Komunal dan Nemesis. SElain di Indonesia, album “Polymath” juga didistribusikan di beberapa kota di Australia seperti Melbourne, Sydney dan Perth, yang lantas dilanjutkan dengan kunjungan “POLYMATH Melbourne Campaign 2010”. Pada 2013, Jmono resmi bergabung di formasi MARCH. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY