Musik diciptakan bukan sekadar sebagai media penghibur, namun juga merupakan kendaraan yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu ke khalayak ramai. Salah satunya adalah sebagai alat kampanye kesadaran lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh Apophis, unit metalcore asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah yang baru saja mengentakkan karya rekaman terbaru berjudul “Hitam Menggumpal”.

Lewat single tersebut, Apophis menyerukan untuk berhenti melakukan pembakaran hutan dan lahan. Dan pesan itu mereka gambarkan dengan jelas lewat video musiknya, yang dikerjakan pada pertengahan Agustus 2018 lalu. Bersama beberapa teman dekat Apophis, seperti Ical (talent), Jihad Al Ghifari (kamera dan editor) serta Fajar (drone), mereka mengeksekusi video berdurasi lebih dari empat menit tersebut di tengah cuaca kemarau yang sedang tinggi dan kebakaran hutan yang masih menyelimuti kondisi lingkungan mereka. Selain lokasi bekas kebakaran hutan, proses produksi video ‘Hitam Menggumpal’ tersebut juga mengambil lokasi di sebuah sungai kecil yang saat ini semakin keruh, di daerah Mendawai seberang.

“Hitam Menggumpal” sendiri merupakan single pembuka menuju perilisan album mini (EP) perdana Ekky (vokal), Ady (gitar), Pur (gitar), Riduan (bass) dan Anggi (dram) yang bertajuk “Belantara Kami”, yang rencananya bakal dirilis pada 2019 mendatang. Bakal ada enam lagu di dalamnya, di antaranya sebuah single lama bertajuk “Emosi”.

Dalam proses pengerjaan “Hitam Menggumpal”, Apophis juga melibatkan kolaborasi vokal dengan salah satu penyanyi wanita berbakat dari Pangkalan Bun bernama Eka, dari band Pink Flower. Paduan vokal ini sempat menuai kendala di penyesuaian nada dasar, namun akhirnya bisa diadaptasi dengan apik. 

Proses kreatif saat merekam “Hitam Menggumpal” dilakukan Apophis di kamar bassis mereka, Riduan untuk keseluruhan instrumen, kecuali isian vokal yang dieksekusi di Fany Studio. Keseluruhan proses hanya menghabiskan waktu sekitar seminggu. Menurut para personel Apophis, hal paling kreatif yang mereka lakukan saat merekam “Hitam Menggumpal” adalah proses pengisian panduan vokal. Sebelum diberikan kepada Eka, Riduan terlebih dahulu merekam vokalnya sendiri menggunakan mikrofon bawaan laptop.

“Soalnya kami belum memiliki mikrofon untuk take vokal, sementara jadwal rekaman juga mepet, sedangkan kami belum tahu nada vokal Eka bagaimana. Setelah guide vokal selesai dengan suara bernada liar dari Riduan, tanpa mengulur waktu kami langsung ke Fany studio untuk merekam vokal suara Eka. Dan ternyata di luar ekspektasi kami, ternyata kord lagu ini terlalu tinggi untuk Eka. Sempat (terpikirkan) ingin merekam ulang semua dari awal untuk menyesuaikan dengan suara Eka, tapi ide kreatif muncul dengan reflek, kami menggunakan plugin bawaan DAW dan mengubah nada lagu tersebut tanpa menurunkan tempo lagunya. Setelah itu masalah kord (juga) terpecahkan, yakni dari Drop C kami turunkan ke Drop A,” urai pihak Apophis kepada MUSIKERAS menerangkan.

Apophis berdiri sejak 2011 dengan formasi awal Ekky, Pur dan Anggi. Dua tahun kemudian Riduan bergabung, dan lantas disusul Ady sekitar setahun kemudian. Apophis mulai menuai perhatian luas di kotanya saat meluncurkan single pertama bertajuk “Suara Kematian” dan terlibat di dalam album kompilasi “Pangkalan Bun Ribut #1” (2012). Tahun berikutnya mereka kembali merilis single berjudul “Whispering Death” dan disusul “Emosi” (2014) dan “Hitamkan Jiwa” (2015). Single terakhir disebut juga termuat di album kompilasi se-Kalimantan Tengah bertajuk “Now or Never Compilation” (2018).

Sejak awal, metalcore telah menjadi paham utama Apophis, yang merupakan serapan berbegai referensi dari band-band cadas Tanah Air dan dunia seperti Burgerkill, Kapital, As I Lay Dying, Parkway Drive, The Ghost Inside hingga August Burn Red. “Yang menarik dari metalcore bagi kami; menggigit, metal dan mengentak. Ya, pokoknya jiwa kami di situ dan tetap konsisten pada jalur itu!” (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY