Suara-suara yang berisik atau noise kerap dianggap sebagai gangguan oleh sebagian besar orang. Tapi di dunia musik, khususnya dalam konteks musik rock, noise bisa menjadi karya seni yang dinikmati banyak orang. Nah, formula ini pula yang dieksplorasi oleh Karotor, komplotan cadas asal Karawang, Jawa Barat. Mereka menyebut aliran musiknya dengan istilah: experimental noise rock, yang merupakan pengembangan karakteristik distorsi grunge yang menjadi akar musiknya.

“Para personel Karotor terpengaruh pergerakan musik Seattle Sounds,” seru pihak band kepada MUSIKERAS menegaskan. “Referensi (di antaranya) dari Nirvana dengan totalitas musiknya yang sederhana namun kuat serta liar di panggung, Sonic Youth dengan musik yang warna-warni bunyi-bunyian noise. serta yang terbaru karena (penggunaan) efek Noise Generator hasil rakitan, yang coba kami eksplorasi ke dalam musik.”

Tentang konsep musik-musik noise sendiri, Karotor mengakui pergerakannya kemungkinan besar sudah terlebih dahulu diramaikan oleh teman-teman musisi di Yogyakarta yang dieksekusi via panggung “Jogja Noise Bombing” serta “Melawan Kebisingan Kota” di Surabaya yang mereka mainkan secara live di jalanan atau di tempat mana saja sebagai tempat pertunjukan yang berisik.

Bagi Karotor sendiri, konsep experimental noise rock yang mereka mainkan merupakan bentuk kebebasan mereka dalam memainkan musik. “Kami mengeksplorasi bunyi-bunyian dari feedback atau dari sebuah benda dan alat yang ada ke sebuah wadah musik. Apa yang bisa kami mainkan dari semua penggabungan genre musik yang ada tak terbatas dan otodidak, menjadi warna yang baru.”

Karotor yang terbentuk sejak 2017 lalu, baru-baru ini telah meluncurkan single bertajuk “Lapar Gila Kenyang Bego” yang sarat semburan lirik lugas, tegas dan tanpa basa-basi. Sebuah lagu yang berhasil mereka rampungkan dengan menyiasati keterbatasan waktu para personelnya. Awalnya, para personelnya, yakni Ahong (vokal/gitar), Olley (gitar), Ewink (bass) dan Zoel (dram) merekam “Lapar Gila Kenyang Bego” via studio rekaman rumahan, Wa’Ubung di daerah Cikampek, Jawa Barat.

Acuan rekaman itu sendiri mereka eksekusi dari sebuah contoh rekaman live menggunakan ponsel yang di-convert ke data mp3. Contoh rekaman itulah yang ditunjukkan kepada operator studio tempat mereka rekaman. Penggarapannya sendiri menghabiskan sekitar satu shift pemakaian studio, dimulai pada tengah malam dan berakhir di pagi hari.

“Waktu adalah kendala satu-satunya bagi kami karena kesibukan pekerjaan masing-masing. Lantas secara teknis, kami banyak memainkan pengisian modulasi dari (perangkat) efek stompbox serta Noise Generator rakitan sebagai pengisi bunyi-bunyian berisik.”

Setelah single “Lapar Gila Kenyang Bego”, rencananya Karotor yang awalnya terbentuk dari gabungan band Bavana dan Broken ‘N Sick – yang sama-sama pernah bergerak di komunitas grunge Tanah Air – segera merilis album mini (EP) dalam waktu dekat. “Semoga diberikan cuaca serta waktu yang baik,” cetus mereka menjanjikan. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY