Ketika disepakati terbentuk pada Oktober 2017, Mothern tidak mengulur banyak waktu. Trio alternative rock asal Jakarta yang dihuni Pandu Manupassa (vokal/gitar), Rastafarian (synth/gitar) dan Anandya Kurniawan (bass) tersebut langsung bergelut dengan sejumlah ide yang lantas diolah menjadi karya rekaman lagu.

Hasilnya, lima lagu garapan terbaik mereka rampung dan dirilis dalam kemasan album mini (EP) bertajuk “Afterdark”. Dua single di antaranya sudah diluncurkan lebih dahulu, yaitu “Survivor” dan “Drastic”. Sementara tiga lagu lainnya adalah “Terang Hitam”, “Hilang” dan “Schizo”.

Kepada MUSIKERAS, Mothern menuturkan bahwa saat menggarap rekaman “Afterdark” di Soundpole Studio, mereka tidak pernah memandang kesulitan-kesulitan teknis sebagai kendala. “Menurut saya yang sering terjadi bukanlah kendala secara teknis, melainkan memang membutuhkan waktu untuk mencapai hasil yang kami inginkan,” cetus Rasta, mewakili rekan-rekannya di Mothern.

Disamping itu, Mothern juga tak pernah menetapkan suatu formula khusus dalam proses pengolahan musik dan lagu. Semuanya dibiarkan mengalir, yang biasanya bermula dari suatu ide, dari salah satu personel, yang lantas dieksekusi secara bersama-sama. “Kami berpikir secara simpel. Kami hanya berusaha menggabungkan rock dan musik elektronik. Kami tidak merasa semua orang harus mendengarkan musik kami, tetapi kami percaya pada apa yang kami buat dan itulah alasan mengapa kami membuatnya.”

Penggabungan rock dan elektronik yang mereka ramu itu sendiri, lahir dari berbagai inspirasi serta latar belakang musikal Rasta, Pandu dan Anandya. Beberapa band dunia yang kemudian lumayan memenuhi referensi mereka di antaranya adalah Underworld, Atoms for Peace, Pendulum dan Radiohead. “Secara individu, selera musik kami sangat berbeda. Pandu menyukai banyak musik yang progresif, dengan akar blues yang sangat kuat, sedangkan Wawan sangat menyukai musik-musik seperti The Beatles dan Stereolab. Saya sendiri sedang menyukai musik-musik elektronik,” urai Rasta menegaskan.

Oh ya, saat merekam “Afterdark”, Rasta, Pandu dan Anandya mendapat bantuan dari Wisnu Ikhsantama Wicaksana sebagai produser serta Dias Widjianto (Glaskaca) yang mengeksekusi keseluruhan isian dram live.

Mothern sendiri terbentuk sekitar empat setengah tahun setelah para personelnya lulus SMA. Ketiganya selalu berada di lingkungan yang sama, walau pada saat itu ketiganya awalnya berada dalam grup yang berbeda. “Pada saat akhirnya kami bertemu, kami langsung membuat dan menyelesaikan lagu, yang akhirnya menjadi ‘Drastic’. Itu adalah kali pertama kami bertemu. Setelah itu, menjadi rutinitas untuk kami untuk bertemu di suatu tempat dan menyelesaikan materi yang akhirnya menjadi EP ‘Afterdark’.” (aug/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY