Sebuah unit cadas berbahaya dari Negara, Bali telah meletupkan single terbarunya. Barbarossa, nama band tersebut, menggeber distorsi pekat berkarakter deathcore yang kejam di single bertajuk “Akhir Adalah Awal” yang telah tayang di kanal YouTube serta berbagai media sosial sejak 12 September 2018 lalu.

Di lagu tersebut, band yang dihuni formasi Septiyan Aziz (vokal), Asrul Fahmi (gitar), Arief Ardiansyah (gitar) dan Adi Nemo (dram) ini mengaku menerapkan konsep yang lumayan berbeda dibanding “Reborn”, single debut mereka sebelumnya. “Lebih banyak permainan gitar cepat, macam As Blood Runs Black, Veil of Maya dan sejenisnya, dibarengi dengan teknik vokal yang lebih matang dan lebih banyak breakdown pastinya. Karena pada dasarnya kami menyukai part-part breakdown ala Chelsea Grin, As Blood Runs Black, Thy Art is Murder, Enfield, bahkan sampai yang tidak deathcore macam Northlane,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, menerangkan.

Seperti band kebanyakan, proses kreatif penggarapan “Akhir Adalah Awal” juga dimulai dari membuat riff-riff iseng, lantas masuk ke studio, menyusun lirik dan melakukan revisi berulang-ulang, sampai akhirnya dibungkus dengan judul “Akhir Adalah Awal”.

“Proses rekaman single ini termasuk singkat. Begitu muncul mood untuk rekaman, langsung saja di-gaskeun! Single ini kami rekam di Pura Pura Records, di tempat salah satu rekan kami juga, yaitu Mas Dian, gitaris band Chick In Ur Mind.”

“Akhir Adalah Awal” sendiri rencananya bakal menjadi salah satu lagu yang termuat di album mini (EP) Barbarossa yang bertajuk “The Dramatic Resurrection”. Sejauh ini, proses tracking telah mereka rampungkan, berisikan lima lagu. “Tinggal menunggu proses mixing dan mastering saja. Ya, sebenarnya sangat klise sekali, selalu molor karena kami terlalu senang melakukan hal-hal baru serta disibukkan dengan urusan kantor dari masing-masing personel… hehehe.”

Bagi Septiyan Aziz, Asrul Fahmi, Arief Ardiansyah dan Adi Nemo, kehadiran musik dari Barbarossa diharapkan bisa menjadi penawar dahaga di tengah menurunnya suhu skena musik keras di daerah mereka. “Kami optimis materi-materi yang kami bawakan bisa kembali mengajak para pendengar, setidaknya untuk kembali menggairahkan playlist mereka dengan musik-musik seperti ini, dan kembali memberi gairah mereka untuk datang ke gig atau event musik keras. Semoga!”

Secara singkat, kelahiran Barbarossa pada Juni 2016 lalu diawali oleh Adi Nemo dari band post-hardcore/metalcore Vermuza yang kala itu mendapat tugas untuk menjadi session player untuk show Enemy Of My Self, band deathcore murni yang dihuni tiga personel Barbarossa saat ini. Setelah beberapa kali melakukan jamming, dan seiring berjalannya waktu karena sering nongkrong, muncullah celetukan iseng untuk membentuk band dengan materi yang berbeda. Dan, akhirnya lahirlah Barbarossa (nama yang diambil dari operasi pemusnahan tahanan Uni Soviet oleh pimpinan tertinggi Jerman saat itu, Adolf Hitler, sekitar tahun 1941-1942), band deathcore yang materinya diramu dengan sedikit bumbu djenty. “Kami lantas menyebut diri kami Westcoast Djentleman Deathcore Machine. Semoga musik kami dapat diterima oleh khalayak luas!” (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY