Apa rasanya jika berjalan di pinggiran tebing yang curam, dengan terpaan angin dingin yang kencang? Bila itu tercurahkan dalam komposisi, maka musik dari Tiderays, kuartet beringas asal Semarang, mewakili itu semua. Paling tidak, sensasi itulah yang akan terasa, seperti yang mereka geber di “Syllable Perishable” dan “Proposition Distrait”, dua komposisi demo debut bergelimang raungan hardcore cadas yang kelam dan kotor yang kini sudah bisa didengarkan via kanal Bandcamp, sejak akhir September 2018 lalu.

Kengerian dalam komposisi di dua lagu tadi dibangun para personel Tiderays, yakni Ghozzy El-Yussa (vokal), Fauby Duvadilan (bass), DFAhmad (gitar) dan Gresia (dram) lewat pengaruh-pengaruh sound esensial band-band Swedia. Kepada MUSIKERAS, mereka mengakui banyak bermain-main di ranah neo-crust di kedua komposisi demo tadi, yang lantas mereka bawa ke dalam semangat hardcore/punk.

Masing-masing departemen instrumen berperan membangun konstruksi yang telah dilakukan pendahulunya dari seberang Skandinavian dan Jerman. Secara kiblat, Tiderays banyak mengacu ke band-band seperti Entombed, Alpinist, Martyrdöd dan tentu saja, His Hero is Gone. Menurut mereka, formula tersebut sebelumnya jarang dilirik oleh band-band Semarang, dan mereka pun memulainya dengan penuh berang.

“Kami pikir dengan formula itu, pergolakan diri yang sedang dialami saat ini bisa tersampaikan dengan karya yang relevan dan tetap dalam koridor. Secara lirik, kami banyak menyuarakan seputar kebencian, keputus-asaan, ignoransi, problematika pasca-industri, politik hingga acuan nihilisme dalam paradigma Nietzsche,” papar Tiderays menegaskan.

Tiderays mulai menggarap rekaman “Syllable Perishable” dan “Proposition Distrait” pada Juni 2018, kurang lebih setahun setelah resmi terbentuk. Eksekusi rekaman secara teknis mereka lakukan di Studio 4WD, Semarang, khususnya untuk isian instrumentasi. Sementara untuk vokal, Tiderays memaksimalkan fasilitas yang ada di studio Riverse, Jepara.

Selama menjalani prosesnya, hampir tak ada kendala yang ditemui. Antok, operator yang membantu mereka sangat kooperatif dan mencoba menjembatani keinginan para personel Tiderays dengan perangkat yang ada. “Akhirnya kami hanya butuh satu shift untuk itu. Vokal pun tak ada kendala berarti. Namun kami sedikit membuang waktu saat menentukan siapa yang akan bertanggungjawab di tata kelola suara. Setalah berbagai percobaan, kami berjodoh dengan telinga Made Dharma (Deadly Weapon, Warmouth, LKTDOV). Kami rilis demo di bulan September, artinya kami butuh waktu tiga bulan untuk tata kelola suara.”

Sejauh ini, Tiderays mengklaim banyak respon baik yang menanggapi kehadiran “Syllable Perishable” dan “Proposition Distrait”. Dan itu bakal menjadi bekal Tiderays untuk segera bergegas kembali ke studio rekaman untuk merampungkan album yang rencananya diberi judul “401”.

“Ada beberapa tawaran (album) split yang menarik dan ada lagi yang berniat memproduseri. Namun kami belum ambil sikap. Kami tetap akan kembali ke studio dalam waktu dekat dan ingin merilis (karya rekaman) di akhir 2018 atau awal 2019.” (aug / MK01)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY