Kendati menggeliat di Tanah Rencong, Aceh yang notabene memberlakukan syariat Islam yang sangat kuat, bukan berarti unit metalcore Killa The Phia merasa terpasung untuk berekspresi. Buktinya, band yang dihuni formasi Rizki “Madon” Rahmadhani (vokal), Dian Pratama Putra (dram), Reza Arismunandar (gitar), Farhan Anwar Fuadi (gitar) dan Khairun “Sinjo” Nidhlaill Wathany (bass) ini bisa tetap merilis album rekaman dan bahkan dipilih oleh para juri Stevi Item (Deadsquad), Ian Antono (God Bless), Imanine (J-Rocks) dan Stephan Santoso (produser) untuk masuk tiga besar terbaik di ajang kompetisi “Rockin’ Battle” tahun lalu, menyisihkan lebih dari seribu band dari seluruh pelosok Tanah Air.

Bagi mereka, Killa The Phia hampir tak ada bedanya dengan band-band dari daerah lain. Namun tentunya, yang harus mereka lakukan hanyalah penyesuaian. “Kami hanya (perlu) sedikit menyesuaikan dengan aturan-aturan yang berlaku di wilayah kami. Bagaimana pun aturannya, kami tetap menjalankan tanpa harus melanggar, karena bagi kami itu juga merupakan aturan Allah,” papar Madon kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di band.

Bahkan saat ini, Killa The Phia tengah menyiapkan berbagai program, di antaranya pembuatan dua video musik terbaru, salah satunya remake untuk lagu “Jeritan Kegelapan” yang termuat di album kompilasi “Rockin’ Battle”. “Warna video akan lebih modern dan pastinya bakalan lebih keren dibanding sebelumnya,” cetus Madon meyakinkan.

Disamping itu, para personel Killa The Phia juga mulai melirik persiapan-persiapan menuju penggarapan album kedua. Dan untuk konsep penggarapan musiknya, mereka bakal menerapkan konsep yang sedikit berbeda dibanding album pertama, “Now The Time” (2015). “Dalam materi lagu-lagu baru kami mencoba memadukan wana-warna baru antara metal modern dan brutal dan tentunya singalong part yang merupakan senjata kami di lagu-lagu baru nanti.”

Pengalaman menjalani proses rekaman lagu “Jeritan Kegelapan” juga sedikit banyak memberi masukan yang sangat berarti bagi Killa The Phia dalam menjalani aktivitas dalam berkarya saat ini. Dimana saat itu, mereka meengeksekusi rekaman di studio mewah Aquarius, Jakarta, di bawah arahan produser berbahaya, Stephan Santoso.

“Kami mendapatkan banyak pelajaran baru dimana salah satunya betapa pentingnya profesionalitas dan totalitas di saat proses rekaman dilakukan. Intinya kami sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan emas tersebut.”

Killa The Phia terbentuk di Banda Aceh, pada 8 Agustus 2008 silam. Sejak terbentuk, mereka telah menjuarai berbagai ajang kompetisi dan juga berhasil melahirkan karya rekaman berupa single “Life For Nothing”, “The Death of Messiah”, “Hitam” serta album “Now the Time”, yang dari segi musikal sedikit banyak terpengaruh band-band dunia seperti Lamb Of God,  Chimaira, As I Lay Dying, Pantera hingga andalan lokal, Burgerkill. Tercatat, selain menorehkan prestasi di ajang “Rockin’ Battle”, Killa The Phia juga telah tampil di beberapa panggung cadas bergengsi seperti “Sonic Fair 2015” di Medan, “Hellprint United Day V 2017” di Bandung serta “Medan Northblast 2017” di Medan.

Kendati terbilang sudah mampu menorehkan jejak di luar kandang, namun Killa The Phia tetap berharap agar berbagai pihak yang berkuasa bisa membukakan jalan kepada musisi-musisi metal asal Aceh untuk bisa berekpresi lebih maksimal demi mengharumkan nama Aceh ke tingkat Nasional. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY