Empat tahun sejak merilis album mini (EP) bertajuk “Undead”, akhirnya unit metalcore/post-hardcore asal Jakarta, Thirteen menggeliat lagi. Formasi terkini, yakni Bondry (gitar), MP (dram), Eponk (kibord), Riko (bass) dan Aziz (vokal/scream) siap beraksi lagi lewat album baru bertajuk “Aksi”, yang menyuguhkan delapan lagu baru bernuansa elektronika. Ya, mereka melebur elemen metalcore/post-hardcore dengan unsur elektronika dan menyebutnya dengan istilah, ‘whatever core’.

Konsep tersebut tentu saja jauh berbeda dibanding karya-karya Thirteen sebelumnya. “Aksi” yang digarap bekerja sama dengan produser Adi Saptadi (vokalis band Easy Tiger), menghadirkan sentuhan warna musik elektronik ’80an, tapi tetap dieksekusi dengan garukan gitar yang gahar, ketukan dram yang sarat dengan hitungan yang tidak umum, dentuman bass menggelegar serta tarikan vokal yang unik.

Tapi menurut Thirteen, memasukkan berbagai macam unsur ke dalam musik cadas mereka bukan sesuatu yang baru. Karena seperti yang mereka ungkapkan kepada MUSIKERAS, para personel Thirteen ingin menghindari kemonotonan.

“Kami ingin lebih bereksperimen, dan yang penting, benang merah kami tetap di metalcore/post-hardcore. Band metal udah banyak, band pop lebih banyak lagi, tapi band yang bisa menyampurkan semuanya nggak banyak. Salah satunya Thirteen. Di album ‘Aksi’ kami mencoba membawa kembali kenangan, sekalian refreshing dari musik-musik yang udah sering kalian denger. Karena kami menyampurkan banyak genre di album ini. Pasti penasaran kan? Makanya harus dengerin album ‘Aksi’ ini,” urai Thirteen meyakinkan.

Kenapa memilih konsep ’80an? Diakui para personel Thirteen terjadi begitu saja, alias spontan. Waktu itu, mereka baru selesai menggarap lagu ketiga berjudul “Pull The Trigger”, dan ketika diperdengarkan kepada Adi Saptadi, ia lantas mencoba memasukkan sound-sound ’80an. “Dan kedengerannya asik banget. Jadi langsung kepikiran aja bikin konsep album kali ini lebih ke ’80an. Sampai cover pun kami bikin sok-sokan foto band-band ’80an. Biar beda sama band-band sealiran, nggak mau sok gahar,” ulas mereka sambil tertawa.

Eksekusi rekaman “Aksi” digarap Thirteen di studio rekaman milik Adi Saptadi, selama lebih dari 10 bulan. Hasilnya, delapan lagu menyuguhkan gairah musik cadas yang fresh dan sebagian menghadirkan musisi tamu. Seperti di lagu “Datang dan Saksikan”, Thirteen berkolaborasi dengan rapper ibukota, Raben. Sementara di lagu “Distopia”, ada sumbangan vokal dari Zahra Zahrina (Nona NoSkins). Adi Saptadi tak ketinggalan ikut tarik urat di lagu “Nyata Berseru”.

Di skena bawah tanah, Thirteen telah menjejakkan kaki sejak September 2006 silam, dan telah menghasilkan dua buah album studio, masing-masing bertajuk “It’s All About Party, Music and Friendship” (2008) dan “Epidemic” (2011). Kira-kira setahun setelah merilis EP “Undead” (2014), mereka sempet merilis single “Kosong” dengan vokalis Ardiansyah. Namun pada 2017, terjadi pergantian di lini vokal, dimana Aziz masuk menggantikan Ardiansyah. Sebuah proses yang diakui Thirteen sempat menjadi penghambat untuk berkreativitas. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY