Dua hari lalu, album mini (EP) debut dari unit rock asal Bandung, Rajakelana yang bertajuk “Bahadur” dilepas secara resmi. Sekaligus, band bentukan Januari 2017 yang dihuni formasi Teguh Rama (vokal), Azi Akhbar (gitar) dan Daniel Yedija (bass) tersebut mengumumkan pengesahan dramer terbaru mereka, yakni Jordie dari band CJ 1000.

Ya, ada sedikit drama di permasalahan dram ini. Penggebuk dram Rajakelana sebelumnya, mendadak menghilang ketika sesi pengisian rekaman dram selesai, yang akhirnya memaksa tiga personel Rajakelana yang tersisa untuk melakukan ‘audisi’ secara diam-diam. “Kami ajak (beberapa dramer) jamming satu per satu, ajak manggung juga. Di situ kami bertiga mulai melihat dari sisi teknis bermain, attitude, cara bercandanya nyambung atau nggak. Meskipun semua bagus, tapi Jordie lebih sreg dengan kami semua,” ungkap para personel Rajakelana kepada MUSIKERAS.

Musik rock dari era ’70an sangat memperngaruhi proses kreativitas Rajakelana saat menggarap rekaman “Bahadur”. Empat lagu yang digelontorkan, yakni “Pegang Kendali” (feat. Ijay Irawan), “Marabahaya/Malapetaka”, “Culas” dan “Ksatria Pengembara” diwujudkan dalam kemasan yang bertenaga dan liar.

“Dalam pembuatan empat lagu tersebut, pengaruh dari Black Sabbath, Jimi Hendrix serta band post-hardcore, At The Drive-In turut mempengaruhi. Selanjutnya, Rhoma Irama dan Soneta-nya juga mempengaruhi kami memakai formasi dua vokal wanita pada lagu ‘Culas’ dan ‘Ksatria Pengembara’,” beber Teguh Rama blak-blakan.

Lebih jauh, Teguh mendeskripsikan formula musik di “Bahadur” – judul yang berarti ‘pahlawan/ksatria’ atau kata slang di kalangan anak muda Bandung yang artinya kurang lebih ‘bahaya’ –  sebagai perpaduan antara konsep musik rock konvensional yang berusaha digiring keluar dari pakem. Ia dan gitaris Azi Akhbar sangat mencintai blues, yang lantas coba dibaurkan dengan selera bassis Daniel yang gandrung akan Britpop.

“Terdengar sedikit aneh, memang. Namun setelah pertemuan dan jamming yang relatif singkat, sekitar 3-4 minggu, kami semua memilih benang merah yang sama. Kesenangan kami berempat (bersama dramer awal) terhadap band-band rock ’70an mempengaruhi keinginan untuk membuat sound yang vintage dengan dana yang masih bisa kami jangkau. Dimulai dari pemilihan amplifier, kit drum (yang diakali) vintage tapi bukan menggunakan preset, sampai mencari output vokal yang terdengar vintage.”

Beruntung, engineer rekaman “Bahadur” Rizal Nasution (eks Govinda), yang juga pemilik Escape Studio, menawarkan kemungkinan untuk proses mastering menggunakan medium pita analog. “Bahadur” yang digarap selama 14 bulan tersebut menggunakan metode digital-analog-digital, yang direkam ke dalam reel to reel tape 14 inci demi menghasilkan orisinalitas dan ‘roh’ karakter sound rock era ’70an. Tentu saja, eksekusi analog tidak semudah metode digital. Walau rekamannya tetap dengan teknologi digital, namun oleh Rizal Nasution, para personel Rajakelana ‘dipaksa’ mengondisikan rekaman a la konvensional.

“Tidak boleh ada proses copy-paste atau ‘timpa-timpaan’. Pencarian output sound yang akan diproduksi pun cukup sulit, dengan konsep seperti yang kita inginkan. Terlebih Azi, gitaris kami yang teknikal banget urusan sound mulai dari frekuensi suaranya, pemilihan efeknya, pokoknya dia idealis sekali soal sound. Kalo mau soundnya A ya harus ketemu sampai sound A itu dapet. Oh ya, sedikit cerita, ternyata alat rekam mastering pita yang kami gunakan kabarnya akan dijual oleh pemilik Baskin Studio, itu juga mungkin akan jadi kesulitan ke depannya.”

Namun terlepas dari kendala-kendala teknis yang mereka hadapi, Rajakelana yakin karya musik mereka punya sesuatu yang bisa mereka banggakan. Bagi mereka yang mendengarkan atau menonton aksi panggung mereka, diprediksi akan menyadari bahwa energi blues rock yang anggun ternyata bisa dipadukan dengan vokal ugal-ugalan yang banyak dipengaruhi keseringan mendengarkan vokal Kurt Cobain (Nirvana) atau Cedric Bixer-Zavala (At the Drive-In/The Mars Volta).

“Ke-chaos-an itu masih bisa dipermanis oleh dua penyanyi perempuan yang suaranya merdu. Kami juga berkeinginan kalau musik yang terpengaruh dari band-band rock ’70an nggak gitu-gitu aja musiknya. Dan yang pasti, mereka yang mendengarkan musik kami adalah orang-orang keren,” seru Teguh Rama meyakinkan, sambil tertawa.

Selain dalam format digital, EP “Bahadur” juga dipasarkan dalam kemasan fisik cakram padat (CD) serta kaset. Juga ada paket khusus berisi CD, T-shirt, totebag serta stiker. (mdy/MK02)

.

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY