Kehadiran formasi reuni Guns N’ Roses di panggung megah “Not In This Lifetime Tour 2018” yang digelar semalam, 8 November 2018 seolah menapak-tilas karya-karya dari ‘masa kelam’ saat Axl Rose (vokal/piano), Duff McKagan (bass) dan Slash (gitar) terpisah, terhitung sejak 1996-1997 silam.

Lalu, banyak hal yang terjadi setelahnya. Slash dan Duff sempat membentuk band baru bernama Velvet Revolver yang juga dihuni Matt Sorum, dramer Guns N’Roses era album “Use Your Illusion” (1991) dan “The Spaghetti Incident?” (1993). Sementara Axl yang mengambil alih hak penggunaan nama Guns N’ Roses merilis album “Chinese Democracy” (2008) yang melibatkan berbagai musisi cabutan.

Nah semalam, Axl memberi porsi yang seimbang terhadap karya-karya terbaik yang lahir dari era itu. Bersama dukungan Dizzy Reed (kibord), Richard Fortus (gitar), Frank Ferrer (dram) dan Melissa Reese (kibord), Guns N’ Roses antara lain mengumandangkan “Slither” (Velvet Revolver) serta beberapa lagu dari album “Chinese Democracy” seperti “Better”, “This I Love” dan lagu Chinese Democracy” sendiri.

Mereka juga lantas mundur beberapa langkah untuk membawakan materi dari album penuh bermuatan lagu-lagu daur ulang, “The Spaghetti Incident?”. Karya rekaman resmi terakhir Axl, Duff dan Slash sebelum pecah, yang lahir di tengah memuncaknya ketegangan di antara Axl dan Slash. Di sesi ini, Duff tampil menyumbangkan tarikan vokalnya di lagu “You Can’t Put Your Arms Around a Memory” (Johnny Thunders) dan “Attitude” (Misfits), dua lagu enerjik bernuansa punk yang dibawakan secara medley.

Keseluruhan lagu tadi menjadi selipan yang menyegarkan di antara serakan hits klasik Guns N’ Roses yang sudah sangat dikenal publik seperti “Mr. Brownstone”, “It’s So Easy”, “Welcome to the Jungle”, “Knockin’ on Heaven’s Door”, “Civil War”, “You Could Be Mine”, “Don’t Cry”, “Estranged”, “Rocket Queen”, “Nightrain”, “November Rain”, “Live and Let Die”, “Patience”, “Sweet Child O’Mine” hingga lagu penutup “Paradise City”.

Secara keseluruhan konser tersebut sangat melelahkan. Digeber selama tiga jam penuh, tanpa banyak jeda untuk berinteraksi dengan penonton. Dan dalam durasi selama itu, Axl Rose justru tidak berhasil mengantarkan kondisi yang maksimal di lini vokal. Di sana-sini terdengar payah, sehingga terkesan dipaksakan untuk mengeksekusi hampir 30 lagu. Belum lagi cukup banyak lagu cover yang berusaha diselipkan, baik yang dibawakan secara penuh maupun sekadar sebagai sisipan, ketimbang mengeksekusi secara maksimal lagu-lagu inti yang telah membesarkan nama mereka menjadi salah satu legenda rock terbesar sepanjang masa.

Jika dibandingkan dengan penampilan Guns N’ Roses bersama formasi tur promo Chinese Democracy” di Mata Elang International Stadium, Ancol pada 16 Desember 2012 silam, jelas sekali konser semalam kehilangan klimaksnya. Enam tahun lalu, kemampuan vokal Axl masih tergolong prima, dan pemilihan lagu-lagu pas dengan durasi yang efisien untuk membangun klimaks. Dan lagi, semalam, kemegahan produksi tata panggung dan cahaya sayangnya tidak berimbang dengan geberan tata suara keseluruhan yang kurang menggugah decak kagum.

Tapi ya, tentu saja sebagian besar dari puluhan ribu penonton yang menyemut di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) semalam tidak memperdulikan sisi-sisi minus tersebut. Sepanjang konser ibarat karaoke massal, bergemuruh, yang didominasi generasi penikmat kejayaan musik rock era akhir ‘80an hingga pertengahan ‘90an. Sebuah malam yang indah untuk bernostalgia, walau pun disekap dalam kepungan udara gerah, hasil dari benih-benih hujan yang tertahan.

It’s good to be back again,” seru Axl dari atas panggung, di sela geberan konsernya.

Konser “Not In This Lifetime Tour” di Jakarta sendiri digagas oleh Third Eye Management (TEM) bekerja sama dengan UnUsUaL Entertainment, dan merupakan tur pembuka di kawasan Asia, sekaligus menjadi konser internasional pertama sejak Stadion Utama GBK melakukan renovasi. Menurut catatan Billboard, terhitung sejak April 2016 hingga 29 November 2017 lalu, tur reuni “Not In This Lifetime” sendiri telah meraup penghasilan fantastis, yakni sebesar lebih dari USD 480 juta. Menjadikan GN’R sebagai salah satu band yang bertengger di lima besar dengan penghasilan konser terbesar sepanjang masa.

Guns N’ Roses terbentuk di Los Angeles pada 1985. Saat merilis salah satu albumnya yang tersukses, “Appetite for Destruction” yang telah terjual sebanyak lebih dari 30 juta keping di seluruh dunia, formasinya diperkuat oleh Axl Rose, Slash, Duff, gitaris Izzy Stradlin dan dramer Steven Adler. Di album berikutnya, “Use Your Illusion I” dan “Use Your Illusion II” (1991), terjadi perubahan formasi, dimana posisi Izzy digantikan oleh Gilby Clarke, Steven digantikan Matt Sorum dan ada penambahan kibordis Dizzy Reed. Akumulasi penjualan dari enam album studio Guns N’ Roses mencapai angka lebih dari 100 juta keping di seluruh dunia. (mdy/MK03)

.

 

Berikut ini beberapa rekaman video yang diabadikan penonton dari konser “Not In This Lifetime 2018” di Jakarta:

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY