Bergulirnya karir sebuah band acap kali tak terduga. Terkadang benar-benar mengikuti garis nasib. Kurang lebih seperti itu yang dialami band pop-punk belia RedSix ini. Berawal sebagai bahan untuk syarat kelulusan di sebuah institut teknik audio di Australia, RedSix akhirnya berhasil mengantongi modal sebuah album penuh plus tekad untuk serius menggulirkan RedSix secara lebih serius.

Para personelnya, Denny (vokal), Kevin (gitar), Wicak (gitar), Risma (dram) dan Ipang (bass) mengungkapkan, bahwa karya rekaman debut mereka yang bertajuk “Uproar” itu tadinya tidak dimaksudkan untuk dirilis, melainkan dimaksudkan dibuat untuk membantu Dio, adik Denny yang menangani teknis rekamannya, yang saat itu membutuhkan bahan tugas akhir di SAE Australia.

“Jadi kami sebagai bahan untuk ujian akhir Dio untuk pengajuan kelulusan dia. Tapi seiring waktu, kami kayak merasa sayang aja kalau nggak diseriusin aja nih band. Akhrnya kami mulai deh tuh masukin 12 lagu ke beberapa platform digital kayak Spotify, Joox, iTunes, dan lain-lain. Lalu mulai dipikirin konsep artwork untuk albumnya seperti apa, trus foto untuk albumnya sperti apa… Dan Alhamdulillah, akhirnya kami selesaikan semuanya,” ulas pihak band kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

“Uproar” sendiri digarap RedSix di Upstairs Studio yang berlokasi di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Kebetulan, studio tersebut merupakan milik Denny sendiri. Di situ, RedSix merekam sesi pengisian dram, bass serta vokal, sedangkan untuk gitar dieksekusi di studio Venom di kawasan Jagakarsa. Tak ada kendala berarti saat menjalani proses rekamannya. Hanya sekitar satu bulan, dengan tahapan jadwal yang sudah ditentukan Dio secara terperinci.

Pop-punk dengan konsep yang lebih modern dipilih oleh band bentukan 2017 lalu ini untuk merepresentasikan kreativitas musikalnya. Para personelnya merasa, banyak daya tarik dari modern pop punk, mulai dari pemilihan kord, pemilihan nada serta karakter sound.

“Itu semua kami pikirin dengan matang, terutama pemilihan sound, karena sound itu fatal banget kalau nggak dipilih dan pikirkan secara matang. Karena nantinya itu bakalan menjadi sebuah karakteristik buat kami, dan ditambah dengan notasi vokal, pemilihan beat dan riff gitar yang keseluruhan harus selaras dengan intonasi vokal, supaya lagu-lagunya mempunyai nyawa dan karakteristik. Jadi emang nggak bisa sembarangan bikin,” urai pihak band lagi, meyakinkan.

Kendati keberadaan band-band pop punk menjamur di Indonesia, namun RedSix yakin, setiap band pasti punya karakteristik atau benang merah musiknya masing-masing. Yang pasti, tentunya mereka akan berusaha menyuguhkan karya terbaik, yang kita didengar ke seluruh penjuru Indonesia, atau bahkan dunia. “Karena semua lagu di ‘Uproar’ menggunakan Bahasa Inggris sehingga patut didengarkan seluruh dunia. Amiin… hahaha…. Intinya, kami membuat karya yang terbaik dari talenta yang kami miliki masing-masing.”

Rencananya, selain diedarkan dalam format digital, RedSix juga bakal segera merilis “Uproar” dalam kemasan fisik (CD). (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY