KRAS akhirnya melepas album penuh pertamanya. Judulnya “Mad Maniac” dan sudah dirilis sejak akhir Oktober 2018 lalu via label Disaster Records. Album ini menjadi pelengkap pergerakan musikal band asal Jakarta ini – yang sebelumnya telah diasah melalui dua album mini (EP) “Patriam Fur” (2015) dan “Heavy Metal Punk Machine” (2017) – menjadi penegas jati diri thrash metal mereka yang seutuhnya. 

Namun di luar urusan konsep musik, ada beberapa pesan penting yang ingin dimuntahkan oleh formasi Bobby ‘Jahat’ Rizkiawan (vokal/bass), Eben Andreas (gitar), Erlangga “Eq” Mukti Wardhana (dram) dan Audi Cabrio (gitar) di album tersebut. “Agar mereka (orang-orang yang mendengarkannya) bisa merasakan apa yang kami rasakan, seperti yang kami gambarkan di beberapa lagu tentang kehidupan anak band yang tidak se-rock n’ roll yang dilihat. Lalu tentang kehidupan akhir jaman, dimana yang salah terlihat benar dan yang benar terlihat salah, serta tentang perlunya regenerasi band-band metal yang kebanyakan personelnya sudah mulai tua dan mulai tiada. Semua kami rampung dalam album ‘Mad Maniac’ ini,” papar KRAS kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

Masih dari sisi lirik, KRAS juga banyak mengangkat isu-isu sosial. Di lagu “Polutaniac City”, mereka mengangkat kisah tentang kondisi kota Jakarta yang semakin sumpek dan susahnya mencari ketenangan. Lalu di lagu “Apokalips” dan “Suci Sintetis”, ada keresahan tentang semakin nyatanya tanda-tanda akhir zaman dimana orang salah tidak lagi merasa malu, sedangkan orang benar justru tersingkir.  Sementara di komposisi “NR’N’RNPED” – akronim dari ‘No Rock N’ Roll No Party Everyday’ – berisi curahan hati KRAS sebagai anak band yang merasakan duka dan pahitnya memasuki industri musik, dimana mereka kerap menerima perlakuan tak mengenakkan dari event organizer hingga drama ‘lebay’ yang sering terjadi di komunitas mereka. Khusus lagu ini,  dibuat oleh Brio, yang sayangnya harus hengkang setelah album ini rampung direkam. Untuk sementara ini, posisi Brio digantikan oleh Mondi sebagai gitaris tambahan.

Ada satu lagi hal penting di album “Mad Maniac” tersebut. Di lagu bertajuk “Serangan Terakhir”, KRAS mengajak Dwey, vokalis band thrash metal asal Bandung, Werewolf untuk berkolaborasi. Lagu tersebut menyoroti perjuangan berdarah-darah para personel KRAS dalam mempertahankan eksistensi band ini sampai harus mengorbankan biaya, waktu, karier kerja konvensional sampai asmara. Dan selain itu, diajaknya Dwey juga merupakan upaya KRAS untuk mengikis atau bahkan menghabisi sentimen kedaerahan yang akhir-akhir ini terus mengembang. Di lagu ini, Bobby sama sekali tidak bernyanyi!

“Fanatisme semu para penggemar sepak bola di Indonesia tak jarang menjangkit ke berbagai aspek kehidupan. Hingga akhirnya melahirkan fanatisme kedaerahan yang ironisnya terbawa hingga ke panggung musik metal. Padahal, musik adalah bahasa universal yang seharusnya bisa mempersatukan segala perbedaan. Sebagai harapan, thrash metal ini bisa menjadi gaung memperbaiki hubungan skena metal Bandung dengan Jakarta. Kita semua orang Indonesia, untuk apa terkotak-kotakan hanya karena fanatisme sepak bola,” kata Bobby, menjelaskan pesan dalam lagu “Serangan Terakhir”.

Hal lain yang perlu digarisbawahi, KRAS juga memberikan penghormatan dan berterima kasih kepada para pahlawan metal lokal yang telah membentuk karakter sekaligus selera bermusik mereka secara keseluruhan. Melalui lagu “Metal Maniac”, KRAS menyemburkan puja-puji kepada para pahlawan distorsi tebal seperti Seringai, Burgerkill, Noxa, Siksakubur, Rajasinga, Komunal dan lainnya atas segala inspirasi yang mereka tebarkan.

“Dulu, sebelum ada Rotor pada era awal ’90an, metalhead Indonesia selalu berkiblat kepada band-band metal luar. Memang wajar, karena musik ini bukan lahir di Indonesia. Tapi sekarang, kualitas band-band seperti Seringai, Burgerkill, Noxa, Siksakubur, Rajasinga sudah sejajar dengan band-band luar. Inilah para pahlawan kami yang membuat kami akhirnya ‘gila’ seperti ini,” seru Eben semangat.

Oh ya, kembali ke urusan musik, kali ini KRAS mengakui menerapkan konsep yang berbeda dibanding dua EP sebelumnya. Menurut para personelnya, KRAS kali ini banyak terpengaruh olahan musik dari band-band cadas legendaris seperti Annihilator, Metallica, Megadeth yang dibalut spirit riffing heavy metal ala Judas Priest. Proses pembuatan lagu serta eksekusi rekaman “Mad Maniac” yang dilakukan di Benji Studio, Bekasi menghabiskan waktu selama kurang lebih setahun. Menurut Eben, waktu yang cukup lama itu membuat proses meramu lagu-lagunya menjadi lebih dewasa dan matang. Tidak terburu-buru seperti produksi dua EP sebelumnya.

Setelah dirilisnya “Mad Maniac”, kini KRAS berharap bisa melakukan tur, sekaligus menjadikan KRAS sebagai pekerjaan utama para personelnya. “Kami juga ingin produktif mengeluarkan karya, entah seperti single, EP atau album,” cetus Eben optimistis. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY