Gaham adalah sebuah unit metal ‘gaya lama’ yang baru saja melakukan ‘ganti kulit’. Ya, tadinya, band asal Bandung ini sempat mengibarkan nama Jerusalem (JRSLM) saat terbentuk pada Januari 2015 lalu. Lalu pada Juni 2016 berhasil merilis album mini (EP) debutnya yang berjudul “Cryptic Hourglass”.

Namun terhitung sejak April 2018 lalu, para personelnya – Reyhan MP (gitar/vokal), Givari M (bass) dan Ivan Faza (dram) – sepakat mengubah nama menjadi Gaham, yang dalam diksi klasik Bahasa Indonesia bermakna ‘ancam’. Nah untuk menyosialisasikan identitas baru tersebut, Gaham pun meluncurkan sebuah album mini terbaru bertajuk “Tindas”, yang sementara ini sudah bisa didapatkan via jalur gerai digital semacam Spotify, Joox, iTunes dan juga di kanal YouTube. Pemilihan tajuk ‘Tindas’ sendiri dipilih berdasarkan alasan estetis, bermakna luas, sekaligus merepresentasikan makna keseluruhan album.

Lebih bersemangat dengan suasana yang lebih gelap. Itulah konsep baru yang dituangkan Gaham di “Tindas”. Namun lewat lagu-lagu berjudul “Jeratan Fantasi”, “Anomali”, “Negeri Jahanam”, “Sang Utopis” dan “Phaleed” (menghadirkan permainan gitar Alan Davison dari Lamebrain), mereka mengakui tidak menjauhi jejak musikal sebelumnya, walau telah berganti nama. Tetap mempertahankan warna heavy metal dengan sedikit sentuhan stoner metal yang banyak terpengaruh band-band dunia seperti Slayer, Sleep hingga Black Sabbath, serta suntikan nuansa baru yang terinspirasi karya alternative rock dari Nirvana dan Soundgarden.

“Untuk materi dan warna musik mungkin tidak jauh berbeda (dibanding EP sebelumnya). Hanya, pada ‘Tindas’ ini, kami sengaja bereksplorasi dengan mengemas lagu kami dengan sound yang lebih raw dan lebih old school, dan pada lirik kami juga menggunakan bahasa Indonesia, yang sebelumnya selalu menggunakan Bahasa Inggris pada saat masih bernama Jerusalem,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS.

Proses pengolahan materi “Tindas” sendiri dimulai para personel Gaham dari ide riff-riff gitar yang membangun kerangka lagu, lalu dibawa ke studio, tepatnya di Red Studio, Bandung untuk dilengkapi dengan dram. Setelah lengkap menjadi satu instrumentasi yang utuh, barulah memulai proses isi vokal.

“Lalu setelah siap menjadi sebuah lagu barulah kami rekam. Proses EP kali ini cukup lama. Kita memulainya awal 2017. Sebetulnya di akhir tahun itu sudah rampung, cuma karena kami berpikir untuk mengubah nama pada awal tahun maka ditundalah perilisannya hingga kami mengubah nama,” ulas Gaham lebih jauh.

Sedikit menengok ke awal karirnya, karya rekaman pertama yang digaungkan Gaham – saat masih bernama Jerusalem – bertajuk “Crasher” yang dirlis pada April 2015. Lalu sekitar Juli 2015, mereka langsung masuk studio rekaman lagi dan berhasil menelurkan single kedua, “Impermanence” pada November tahun itu juga. Tak lama setelah, Jerusalem mendapat tawaran dari Orange Cliff Records untuk merilis EP pertamanya, “Cryptic Hourglass” yang dimuntahkan secara resmi pada Juni 2016. Lalu sebelum menuntaskan penggarapan “Tindas”, Gaham sempat melempar single pemanasan yang berjudul “Sang Utopis” di hajatan Record Store Day pada April 2017 lalu. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY