Glenn Tipton nampaknya tak ingin meratapi penyakit parkinson yang dideritanya. Gitaris yang terlibat di seluruh rilisan Judas Priest tersebut akhirnya naik panggung, di konser “Judas Priest Live in Concert” yang digelar di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, semalam (7/12/2018). Walau jalan sedikit tertatih, ia bergabung bersama Rob Halford (vokal), Ian Hill (bass), Scott Travis (dram), Richie Faulkner (gitaris yang menggantikan K.K. Downing sejak April 2011) serta gitaris tur Andy Sneap saat sesi lagu tambahan (encore). Tiga lagu klasik pun dimainkan, yakni “Metal Gods”, “Breaking the Law” dan “Living After Midnight”.

Penampakannya pun menjadi momentum mengharukan, sekaligus penuh suka cita. Riuh tepukan tangan menyambut kehadiran Glenn, yang muncul dari sisi kanan panggung sambil menenteng gitar merk Hamer berwarna hitam. Glenn sesekali memperlihatkan gestur ucapan terima kasih dengan kepalan tangannya menepuk dada. Lalu, part solo lagu “Metal Gods” pun dilindasnya dengan meyakinkan.

Pada dua lagu berikutnya, para metalhead memang nampak tidak terlalu mempedulikan permainan Glenn. Karena “Breaking the Law” dan “Living After Midnight” adalah kunci kebahagiaan mereka malam itu untuk larut ke masa lalu.

Breaking the what?” teriak Rob Halford dari panggung megah yang menyemburkan distorsi ratusan ribu watt. “Law…!!!!” Penonton menjawabnya penuh antusias. Intro lagu yang sepertinya menginspirasi lagu dari grup band /rif, “Loe Toe Ye” itu pun berkumandang memecah langit Ancol.

Di nomor pamungkas, Rob Halford membiarkan para penonton untuk bersenang-senang mengikuti setiap entakan dram dan riff gitar yang menyalak dengan memberikan porsi koor massal lebih banyak kepada mereka. Dan kehadiran Glenn Tipton malam itu, membuat nostalgia terasa makin lengkap.

Konsernya sendiri dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Panggung megah, tata suara berkelas, dan kilatan lampu berwarna-warni mengiringi langkah pasukan ‘baja Inggris’ legendaris tersebut kala melontarkan “Firepower”, sebuah trek titel dari album terbaru mereka.

“Running Wild”, “Grinder”, “Sinner”, “The Ripper”, “Lighting Strike”, “Desert Plains”,  “No Surrender”, “Turbo Lover”, “Night Comes Down Guardians”, “Rising from Ruin”, “Freewheel Burning”, “You’ve Got Another Things Coming” serta “The Green Manalishi (with the Two-Pronged Crown)” – sebuah nomor daur ulang milik band rock Fleetwood Mac – kemudian berkumandang tanpa ampun.

Di usianya yang sudah 67 tahun, Rob Halford ternyata masih mampu membawakan lagu-lagu tersebut dengan sangat baik. Lengkingannya memang tidak sedahsyat 20 atau 30 tahun lalu. Tapi setidaknya, dia mampu mempertanggungjawabkan apa yang membuatnya dicintai para metalhead saat masih muda.

Andy Sneap, pria yang lebih dikenal sebagai produser dan sound engineer rock/metal kelas elit yang antara lain telah memberi sentuhan magisnya di beberapa album milik band metal dunia seperti Accept, Blaze Bayley, Saxon, Opeth, Amon Amarth, Arch Enemy, Exodus, Megadeth, Kataklysm, Kreator, Nevermore, Testament, Carcass, Fear Factory, dan DevilDriver, dan tentu saja Judas Priest, juga berhasil menjaga nilai-nilai substansial yang digoreskan Glenn Tipton melalui jemarinya.

Andy ditunjuk sebagai gitaris tur Judas Priest sejak Glenn Tipton memutuskan mundur dari band karena menderita parkinson pada Februari lalu. Tapi band menegaskan, kapan pun Glenn Tipton kembali, dia akan diterima dengan tangan terbuka. Itulah mengapa dalam beberapa titik tur ini dia kembali ambil bagian meski hanya di tiga lagu terakhir.

Yang tak boleh dilupakan tentu saja kehadiran Rob Halford sambil mengendarai motor Harley Davidson di atas panggung sebelum lagu “Hell Bent for Leather” menerjang. Ini merupakan salah satu ciri khas Rob Halford yang sudah dikenal sejak lebih dari dua dekade silam. Sambil duduk nyaman di atas sadel motornya, vokalis berkepala plontos itu bersabda dengan khidmat.

Scott Travis juga tampil luar biasa. Bergabung dengan Judas Priest sejak 1989 dan menggoreskan pukulan pertamanya di album “Painkiller” (1990), mantan drummer Racer X itu menghidangkan trek titel album tersebut dengan penuh kesempurnaan. Dahsyat, liar dan ‘membabi buta’! Tak lupa, ia sempat pula membocorkan rencana bahwa sejak awal tur promo album “Firepower”  dicanangkan, Indonesia telah dibidik sebagai negara yang dianggap paling kicked-ass untuk dijadikan penutup tur dunia mereka tersebut.

Malam itu, Judas Priest yang telah malang melintang di pentas heavy metal sejak 1969 silam benar-benar memberikan kesan mendalam buat para metalhead era lawas yang hadir di Ecopark. Terima kasih kepada Rajawali Indonesia Communication yang telah mendatangkan salah satu pahlawan New Wave of British Heavy Metal tersebut ke Indonesia. Semoga tulisan “The Priest Will Be Back” yang terpampang di giant screen panggung saat konser usai benar-benar bisa menjadi kenyataan. Ya, kami masih menantikan lagu “Electric Eye”, “Ram It Down”. “Delivering The Good”, dan “A Touch Of Evil” dibawakan di hadapan kami. (RN/MK03)

Kredit foto: Azhan Miraza

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY