Tak terasa, 17 tahun sudah usia unit rock berandalan ini. Ya, walau di sepanjang umur tersebut, ada jeda hampir tujuh tahun tanpa menghasilkan karya rekaman, namun kini mereka berhasil bangkit dan meletupkan sebuah single baru bertajuk “Retorika”. Sebuah karya yang menandai fase dan semangat baru The Brandals. 

Maklum, mesin band yang mulai menggeliat di Jakarta sejak 22 Desember 2001 silam ini sempat terhenti, menyusul meninggalnya dramer Rully Annash pada akhir 2015 silam. Untuk bisa kembali eksis dan bahkan menghasilkan karya rekaman, disebut Eka Annash – vokalis yang juga merupakan kakak kandung mendiang Rully – adalah sebuah mukjizat. 

“‘Retorika’ adalah salah satu dari beberapa lagu yang dibuat setelah kami kembali aktif pada 2016 dari break dua tahun. Ada enam lagu baru yang sudah direkam. Sebelum kami vakum pun sebenarnya sudah terkumpul banyak materi demo, jadi tinggal disortir dan dikumpulkan untuk album. Kendala teknis termasuk minim kecuali masalah bagi jadwal antara keluarga dan kerja yang membuat proses produksi berjalan agak lambat. Tapi fakta kalau kami masih bisa rekaman, manggung dan kembali aktif sampai sekarang sudah hampir seperti mukjizat,” urai Eka kepada MUSIKERAS, penuh suka cita.

Sebagai pengganti Rully, di balik perangkat dram kini ada Firman Zainudin, yang sebelumnya tergabung di band Teenage Death Star dan Petaka. Tentu saja, tanpa kehadiran Rully, The Brandals yang kini masih diperkuat Tony Dwi Setiaji (gitar), PM Mulyadi Natakoesoema (gitar) dan Radit Syaharzam (bass) bukan band yang dulu lagi. Karena bagi Eka, posisi dan semangatnya tidak akan pernah tergantikan. Namun dengan hadirnya Firman yang masih dari lingkungan yang sama dan sudah seperti saudara – apalagi juga sama-sama berdarah Sunda – membuat proses transisi pergantian lebih lancar. 

“Gaya dan karakter permainan Firman hampir sama dengan Rully: lugas, tanpa basa-basi, nggak ribet dan nggak show-off. Nggak kurang dan nggak berlebihan,” cetus Eka meyakinkan. “Dan yang paling penting, cara bercanda dan komunikasinya nyambung. Kami mengutamakan koneksi chemistry dari pada gaya atau teknis permainan. Karena The Brandals itu sudah jadi keluarga dan sangat krusial untuk jadi anggota keluarga dulu sebelum jadi anggota band.”

“Retorika” sendiri bernarasi tentang kisruhnya polemik kondisi sosio politik Indonesia beberapa tahun belakangan ini, yang didominasi oleh propaganda elit politik berkedok doktrin agama yang mengadu domba berbagai kalangan masyarakat lewat media online. Argumen yang diumbar terdengar seperti teori retorika yang diulang tanpa nalar dan akal sehat. 

Ungkapan tersebut lantas diraungkan lewat olahan musik yang merangkum semua elemen dari berbagai fase band. Mulai dari pengaruh punk rock, blues, rockabilly dari album-album awal hingga ke karakter modern di album terakhir. “Ada elemen elektronik yang dimainkan secara organik. Kami masih punya misi untuk merepresentasikan karakter eklektik band di setiap album. Tapi di balik berbagai macam balutan tadi, di dalamnya tetap ada jati diri The Brandals yang kritis, pemberontak dan liar!” 

Single “Retorika” diproduksi secara independen – baik finansal dan teknis – oleh The Brandals sendiri. Lalu dibantu eksekusi mixing oleh Atas Musik (Jonathan Mono dan Petra Sihombing) serta mastering oleh Moko Aguswan dari Shoemaker Studio. Sementara untuk pembuatan video musik, The Brandals mempercayakannya pada kelihaian Agan Harahap, seniman visual digital yang sudah dikenal luas akan keahliannya memanipulasi foto dan gambar. “Retorika” juga merupakan karya debut Agan dalam pembuatan video musik.

Setelah “Retorika” – yang sudah bisa didengar di akun Spotify, Apple Music, Joox, Deezer, YouTube serta kanal musik digital lainnya – rencananya The Brandals akan merilis album kompilasi ganda yang merangkum sejumlah single dan bonus B-sides/rarities/live tracks pada awal Januari 2019. Lalu, juga ada rencana perilisan film dokumenter “Marching Menuju Maut” dalam format DVD. Di samping itu, proses penggarapan rekaman album baru juga terus berjalan, walaupun sangat lambat. Sejauh ini, The Brandals sudah merilis empat album studio, yakni “The Brandals” (2003), “Audio Imperialis” (2005), “Brandalisme” (2007) dan “DGNR8” (2011). (mdy/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY