Di skena Palembang, Sumatera Selatan, genre deathcore rupanya menjadi salah satu menu musik cadas yang banyak digemari dan mudah diterima. Paling tidak, itu yang diyakini Werewolf Starving, unit cadas muda yang baru saja meletupkan single debutnya, bertajuk “The Broken Way”.

“Deathcore bagi kami adalah suatu genre musik yang dapat menghibur dan mudah dinikmati oleh para metalhead dari berbagai macam usia,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan.

Ditambah lagi, formasi Werewolf Starving yang diperkuat Ogitawa (vokal), Adityo (gitar), Wiel (gitar), EL’bent (bass), Aulia (dram) dan Brye (synth) memang terbentuk karena dilatari oleh selera musikal yang sepaham. Deathcore adalah pilihan mutlak keseluruhan personel. 

“Kami juga mempunyai misi utama untuk musik deathcore itu sendiri, yaitu tetap menghidupkan deathcore, regenerasi, khususnya di Palembang, kota asal kami.” 

Eksekusi rekaman “The Broken Way” sendiri digarap Werewolf Starving di Hamsi Studio, Palembang selama dua hari, plus proses pemolesan mixing dan mastering selama dua minggu. Single ini merupakan jalan pembuka, sebelum perilisan album mini (EP) pertama yang bertajuk “Hipnos”. Karya rekaman yang diproduseri oleh Galih dari Wolf Circle Record tersebut kini sudah memasuki tahapan mastering dan rencananya bakal disemburkan pada pertengahan 2019 mendatang.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, mulai dari isu politik, agama dan fenomena kekacauan yang terjadi saat ini menjadi titik perhatian utama di lirik lagu-lagu Werewolf Starving. Seperti di single “The Broken Way” misalnya, mereka menyoroti keresahan seputar isu agama yang melanda belakangan ini, dimana salah satu organisasi yang mengatas-namakan agama telah menyebabkan banyak kekacauan. 

Oh ya, dari segi musikal, Werewolf Starving yang terbentuk sejak 2014 ini banyak menyerap referensi dari band-band dunia macam Bring Me the Horizon hingga Make Them Suffer. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY