Dalam berkarya, tentu saja ide dan niat bukan modal utama yang dibutuhkan. Karena pada akhirnya, hal-hal teknis seperti waktu atau kesiapan biaya yang kerap mencuat di luar agenda bisa menjadi penghalang proses berkreasi. HLMN, trio pengibar punk rock/alternative asal Bogor, Jawa Barat mengalami pengalaman itu saat berusaha merampungkan proses rekaman album debutnya.

Mereka – yakni Calvar (gitar/vokal), Kabow (bass/vokal) dan Jovi (dram) – memulai usahanya itu pada Maret 2018 lalu, di sebuah studio bernama Fakehero Studio, yang terletak di kawasan Bogor. Mereka menargetkan, pada pertengahan 2018 proses rekaman bisa dirampungkan. Tapi karena banyak faktor yang menghambat prosesnya, akhirnya mereka memutuskan untuk menundanya sampai waktu yang belum ditentukan, saat tahapannya baru sampai pada pengisian trek dram. Sampai pada akhirnya, pada Agustus 2018, mereka berkumpul lagi di Fakehero untuk meneruskan penggarapan album. Namun ketika proses rekaman baru sampai di pengisian bass, lagi-lagi mereka haru berhenti karena suatu hal. 

“Dan, pada September di tahun yang sama, kami mulai lagi sesi rekaman. Kali ini tidak meneruskan progres album, tapi mulai penggarapan untuk single, di studio ZpassRock, Bogor. Karena diambil dari salah satu trek yang ada di album, proses rekaman tidak memakan waktu lama. Hanya proses tracking gitar, vokal serta mixing dan mastering, karena sebelumnya dram dan bass sudah direkam,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

Lalu, sebulan setelahnya, lahirlah single mereka yang berjudul “Escape”. Tidak berselang lama, mereka juga menggarap video klip untuk lagu tersebut dan selesai pada awal Desember 2018. Single yang dihadirkan dalam format video klip tersebut rencananya akan dirilis pada 12 Januari 2019.

Lantas bagaimana dengan kelanjutan pengerjaan rekaman untuk album? “Untuk saat ini penggarapannya sudah sampai 60%, dikerjakan di OffRecord, Bogor. Dan apabila tidak ada kendala dalam pengerjaan akan kami rilis pada Maret 2019,” cetus HLMN optimistis.

Awal 2013 silam adalah masa kelahiran HLMN, namun dengan nama awal Heroes Of Over, dan saat itu diperkuat empat personel, yaitu Calvar, Kabow, Jovi dan gitaris Dogol. Namun saat merilis album mini (EP) pertamanya di tahun kedua perjalanan karirnya, Dogol mengundurkan diri. Singkat cerita, tiga personel yang tersisa memutuskan meneruskan roda karir band. Nama pun diubah menjadi HLMN. Nama tersebut merupakan akronim dari kata ‘halimun’, yang dalam bahasa sehari-hari bermakna ‘kabut’. Secara rinci, HLMN diambil dari nama gunung yang terletak di kawasan Bogor. 

“Pemilihan nama HLMN didasari atas pemikiran bahwa tempat asal atau tempat kami lahir adalah suatu hal yang harus dibanggakan dan diperjuangkan,” ujar HLMN diplomatis.

Lalu, genre punk rock/alternative dijadikan paham utama untuk mengeksekusi ide-ide kreatif mereka. Namun dalam penerapannya, berbagai referensi yang mereka hirup dari band-band atau musisi seperti Ramones, No Use For A Name, Nirvana, The Clash, Foo Fighters hingga bahkan Iwan Fals disuguhkan dengan pola yang tidak rumit di setiap karyanya. Penuh energi namun tidak menghilangkan estetika sebuah perjuangan dan keharmonisan. (aug/MK03)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY