Sejak terbentuk pada April 2013 lalu, sebenarnya unit metalcore asal Jakarta, Sovereign tak berniat untuk melahirkan karya album. Itu pengakuan Ja’far “Jkibs” (vokal), Aulia “Aul” Pradipta (gitar), Reyhan “Aaw” (gitar), Anjas (bass) dan Ryant (dram) kepada MUSIKERAS. Namun setelah menjalani proses dan akhirnya terkumpul tiga lagu, yakni “The One Whom Earth Refuse”, “Underneath Our Tears” dan “No Faith Left to Break”, akhirnya mereka pun jadi kepikiran untuk menyelesaikan album.

“(Karena) Toh, tiap lagu yang sudah ditulis dan direkam, kami rasa (ternyata) memiliki tema dan isu yang sama,” ujar pihak band yang terbentuk di kampus UNJ jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ini beralasan. 

Album yang dimaksud bertajuk “The Baneful Litanies” dan diedarkan via Flush Record dalam bentuk fisik dalam bermacam paket. Sementara untuk versi digital akan dieksekusi belakangan. Kata mereka, mumpung sudah 2019, tahun dimana akan ada banyak orang beropini dan mengumpat, jadi mereka ingin menyuarakan berbagai hal yang menurut mereka perlu. Karena sejatinya, umpatan juga datang dari keresahan hati.

“Dengan sadar kami arahkan kepada siapa pun yang membaca maupun yang tidak biasa membaca informasi secara seksama. Disamping itu, ada kekesalan yang ingin kami sampaikan kepada siapa pun yang mendengarkan musik dan berani mencemooh ‘musisi lokal mah biasa ajah’, ‘payah’, ‘Bang, lagunya mirip lagu si anu deh’. T*i kucing! Kebanyakan netizen yang berani komentar dengan gampangnya seperti di atas adalah pendengar musik yang dateng ke acara bersponsor rokok yang harga tiketnya sering kali gratis. Mereka yang sering komentar ala kuratortersebut belum tentu rajin beli rilisan fisik atau merchandise original. Seolah nggak ngaca, nakar musisi lokal dengan musisi Eropa, sementara nggak nakar diri dengan pendengar musik Eropa. Dasar hamba click bait! Suek!”

Delapan trek lagu yang dihadirkan Sovereign di “The Baneful Litanies” – yang bermakna ‘rapalan terlarang’ – menekankan pada lirik yang mengandung elemen riset serta bumbu Teori Konspirasi. Judul tersebut mereka pilih sebagai ungkapan karena sekarang orang-orang dilarang untuk berpendapat secara jujur. Semuanya harus politically correct. Jujur dilarang, lahirlah kalimat-kalimat berbunga yang palsu! “Hidup lu palsu, kebahagiaan lu di internet semua palsu, kerjaan yang lu bilang menyenangkan itu palsu, temen dan musuh lu sekarang itu palsu, apa lagi kalo lu ngeliat politik dan tell lie vision, ya… Auk ah,” koar pihak band lagi berapi-api.

Jika dihitung dari demo pertama, “The Baneful Litanies” digarap selama sekitar dua tahun lebih. Antara lain karena terhambat biaya dan perencanaan. Maklum, keseluruhan proses dieksekusi oleh para personel Sovereign sendiri, tanpa dukungan tim, sponsor, atau pun produser. Mereka merekamnya di sebuah studio rumahan milik salah seorang rekan mereka. “Indie banget deh!”

Cukup banyak pengalaman menarik selama menjalani prosesnya. Bahkan menurut mereka cukup banyak jika harus diceritakan satu per satu. Tapi paling tidak, ada dua peristiwa yang sangat melekat secara personal bagi mereka. Pertama, kehilangan mantan bassis, Ryan Ardi Maulana a.k.a Joker yang telah memacu mereka untuk segera merilis album.

“Soalnya satu dari delapan lagu yang ada di ‘The Baneful Litanies’ ini adalah gubahan Almarhum. Kami ngerasa kalau nggak segera dirampungin, akan sia-sia karya yang beliau ciptakan.”

Hal kedua adalah kolaborasi mereka dengan Unbound, yang mereka temui di acara “Santa Sale Out”. “Kami datengin dia, awalnya cuma untuk minta pendapat terkait materi yang kami punya. Namun ternyata, malah dapet kesediaan Unbound buat featuring di salah satu trek. It was sick! Dan secara musikal, jelas itu membuat kami eksplor lebih jauh.” 

Secara keseluruhan, sepanjang menjalani proses kreatif penggarapan rekaman “The Baneful Litanies”, Sovereign banyak menyerap referensi musikal yang mereka rasa perlu disampaikan. Namun dengan gaya sendiri. Terutama yang paling mereka garisbawahi adalah kesulitan untuk membuat lagu yang ’breakdown oriented’, yang secara lirikal terasa kosong. Lalu di lini vokal, mereka mengakui tidak menghadirkan referensi baru, namun justru serapan referensi lama bisa diterapkan di dua track ‘paling muda’ dalam album tersebut. 

“Pertama pada track berjudul ‘Bottommost’, akhirnya kami bisa masukin riff a la sludge metal, meski vokalnya nggak guttural. Nah, untuk lagu ‘Flux Parade’, kami akhirnya bisa mencoba formula lirik padat a la Phill Bozeman atau rap Corey Taylor. Dari segi musik, di lagu ‘A Deathful Life’, kami merasa kedengeran banget pengaruh hardcore, tapi tetep melodius. Ya kaya yang tadi kami bilang, nggak ‘breakdown oriented’.” (Mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY