Sebagai band baru, tak jarang terjadi kegalauan dalam menentukan arah musikal yang bisa meyakinkan batin bagi keseluruhan personelnya. Apalagi jika direksi musik yang dituju sarat idealisme pekat. Tak percaya? Tanyakan hal itu kepada Katzenmeister, unit kolektif hard-rock asal Bandung yang banyak membubuhi olahan musiknya dengan elemen progresif.

Tahun lalu, band yang dihuni Alexandra Regina (vokal), Aryo Bangundityo (bass), Arya Pratama (gitar), Sheryta Arsallia (dram) dan Aulia Lazuardi (gitar) ini sebenarnya sudah bertekad merilis album debutnya. Namun pada detik-detik mendekati target perilisan, niat itu urung diwujudkan.

“Target rilis album diundur jadi akhir tahun,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, sambil tertawa.

Apa pasal? Itu tadi. Munculnya kegalauan akan konsep musik mereka secara keseluruhan. “Sebagai band yang baru lahir, kami semua memperoleh banyak masukan dan materi-materi baru yang ternyata dampaknya cukup signifikan, sehingga kami rasa perlu mengaransemen ulang lagu-lagu yang sudah ada,” urai Katzenmeister beralasan.

Selain itu, kesibukan masing-masing personel untuk bekerja dan juga manggung di akhir pekan cukup menyita waktu mereka untuk menuntaskan eksekusi rekaman. “Selanjutnya kami sudah menyiapkan timeline untuk persiapan manggung dan rekaman, semoga lancar dan bisa segera terealisasikan,” tegas mereka berjanji.

Nah, lagi-lagi sebagai pemanasan, baru-baru ini Katzenmeister telah meluncurkan single ketiga yang bertajuk “Dakhma”. Sebelumnya, tahun lalu sudah ada dua single yang diperkenalkan, yakni “Bend The Knee” dan “Straitjackets And Wards” via berbagai kanal musik digital. 

“‘Dakhma’ dipilih sebagai single ketiga karena menurut kami lagu tersebut merupakan lagu yang paling merepresentasikan musik Katzenmeister itu sendiri. Dua lagu sudah kami rilis sebagai ‘perkenalan’ band kami ke pendengar, dan di lagu ketiga inilah kami perlihatkan seperti apa musik yang kami mainkan.”

Katzenmeister yang terbentuk pada 2017 lalu merupakan gabungan musisi yang pernah menghuni beberapa band lokal seperti Vincent Vega, Baby Eats Crackers, Sarasvati, These R Fake, Ellipsis, Sweetyard dan DFFC. Mereka sepakat tampil beda dalam konteks musikal, dimana nuansa hard-rock mereka leburkan dengan kontur progressive-rock yang agresif. Band-band mancanegara seperti A Perfect Circle, Tool, Baroness hingga The Mars Volta menjadi sumber percikan ide-idenya. 

“Yang menarik (dari musik progresif), tentu saja ada di istilah progresif itu sendiri,” ujar pihak band mengenai konsep musikal yang dipilihnya. “Kami bisa bereksplorasi dan memasukkan lebih dari satu jenis musik ke dalam lagu, dan nantinya lagu-lagu di album kami pun tidak perlu terpatok untuk selalu berada di koridor musik yang sama, tanpa menghilangkan ciri khas dari Katzenmeister.” (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY