Memasuki usia lebih dari 12 tahun, dan telah bermodalkan dua album rekaman, membuat unit emo/post-hardcore asal Bandung, For Revenge merasa semakin matang dalam berkarya. Seperti yang coba mereka buktikan lewat album terbaru, “Auristella”, yang telah diluncurkan pada awal 2019 ini. 

Walau mereka mengakui tak ada formula baru dalam menganyam komposisi-komposisi lagunya, namun kini mereka sudah menemukan alur musik yang lebih tertata. Juga merasa sudah mendapatkan benang merah di olahan musiknya, sehingga For Revenge Family – sebutan untuk para penggemar For Revenge – pasti mudah mengenali mereka ketika mendengarkan musik For Revenge.

“Sebenarnya proses pembuatan ‘Auristella’ ini sama seperti apa yang kami lakukan di album-album sebelumnya, yaitu membuat semua materi lagunya di dalam studio. Dengan kata lain, kami selalu mengasah intuisi dan spontanitas dalam membuat lagu atau karya baru,” papar pihak band kepada MUSIKERAS.

Dan berkat intuisi serta spontanitas yang menjadi pegangan utama saat menggarap lagu menjadikan For Revenge ‘terisolasi’ dari pengaruh-pengaruh musikal dari luar. “Influence kami sebenarnya macam-macam ya, semua musik kami dengar untuk referensi, tetapi apa yang terjadi di dalam studio saat menggarap materi baru justru menghilangkan pengaruh-pengaruh itu, karena kami membuat lagu-lagunya menuruti intuisi dari diri kami masing-masing tanpa memasukkan influence yang (tadinya) jadi acuan kami dalam bermusik. Kami hanya ingin membuat musik yang berdasarkan dari diri kami sendiri.”

“Auristella” yang memuat sembilan lagu itu sendiri, diklaim oleh Archims Pribadi (dram), Simon Simorangkir (vokal), Izha Muhammad (bass) dan Arief Ismail (gitar) masih mempertahankan karakter musik yang ber-genre emo/post-hardcore sehingga menjadikan album ini bukti bahwa For revenge tetap konsisten pada skena musiknya. Dan di susunan materi lagunya terdapat berbagai macam luapan ide, yang diharapkan bisa mewakilkan semua perasaan dan emosional setiap telinga yang menikmati musik For Revenge. 

For Revenge menggarap produksi rekaman “Auristella” selama sekitar setahun, yang dieksekusi di Escape Studio, di Bandung. Dua lagu yang berjudul “The Universe” dan “Geram” sudah lebih dulu diluncurkan sebagai pemanasan, sebagai persiapan menuju perilisan album ketiga.

For Revenge terbentuk pada April 2006 silam yang digagas tiga kepala, yakni bassis Abie Nugraha, gitaris Hagie Juliandri serta Archims Pribadi. Tak lama dua personel tambahan, gitaris Arief Ismail dan vokalis Boniex Noerwaga bergabung dan terlibat di formasi yang melahirkan album debut berjudul “Fireworks” (2011). Tapi setelah perilisan album kedua “Second Chance” (2017), Abie dan Boniex memutuskan hengkang dari For Revenge. Lini yang kosong tersebut lantas diisi oleh Izha dan Simon yang menjadi pelengkap formasi For Revenge untuk penggarapan album “Auristella”. Sayangnya, album ini menjadi karya terakhir For Revenge yang melibatkan Hagie Juliandri, yang juga memutuskan mengundurkan diri dari For Revenge. (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY