Setelah melewati waktu yang cukup panjang, tepatnya sejak 2016, unit metalcore asal kota kecil Pangkalan Bun, di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah ini pun meledakkan album mini (EP) pertamanya, “Belantara Kami” pada 19 Januari 2019 lalu. Lingkungan hidup menjadi tema sentral yang diraungkan Apophis di karya rekaman tersebut, yang meliputi masalah hutan, sungai, peradaban, bahkan mental penduduk asli tanah Borneo.

Lalu mereka – Eky (vokal), Ady (gitar), Anggi (dram), Pur (gitar) dan Riduan (bass) – membungkus keseluruhan unek-unek tersebut dengan kegagahan breakdown-breakdown serta aksen riff-riff metalcore yang khas, yang antara lain terserap dari referensi cadas macam As I Lay Dying, Park Way Drive, August Burn Red hingga Burgerkill. 

Influence kami tentu saja banyak, namun konsistensi bagi kami sangat penting agar tidak keluar dari benang merah saat pertama kali band ini dibentuk, yakni memainkan musik metalcore. Metalcore bagi kami; menggigit, metal dan mengentak. Ya, pokoknya jiwa kami di situ dan tetap konsisten pada jalur itu,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS mempertegas.

“Belantara Kami” sendiri membutuhkan waktu lama dalam penggarapannya karena terhadang berbagai kendala. Termasuk keterbatasan waktu serta jarak domisili antar personel. Baru pada 2018 lalu Apophis benar-benar berkonsentrasi merampungkannya. Terhitung sejak akhir bulan puasa lalu, Apophis mulai masuk dapur rekaman untuk mengeksekusi perekaman instrumentasi, vokal dan lain-lainnya. Semuanya dilakukan oleh Apophis sendiri di sebuah studio rumahan milik bassis Riduan. Sementara khusus untuk rekaman vokal dilakukan di Fany Studio Pangkalan Bun, yang memakan waktu kurang lebih seminggu. 

Di EP ini – khususnya di lagu “Hitam Menggumpal” – Apophis juga melibatkan Eka, vokalis wanita dari band rock asal Pangkalan Bun bernama Pink Flowers. Lalu setelah semua vokal direkam, Apophis juga memberi sentuhan berbeda di beberapa trek, dimana mereka memasukkan unsur instrumen tradisonal Kecapi dan berayah khas Dayak ngajuk. 

“Dari segi musikal, Apophis mengandalkan lagu ‘Kami Borneo’, dimana di trek tersebut merupakan klimaks bagi kami sendiri sebagai putra daerah tanah Kalimantan dan kami bangga akan hal itu. Selain ingin menunjukkan suatu identitas, di track tersebut kami juga memasukkan unsur alat musik tradisional Dayak,” urai Apophis lebih jauh.

Setelah segalanya selesai, Apophis merilis “Belantara Kami” via berbagai gerai digital seperti iTunes, Spotify, Deezer dan Bandcamp yang dibantu oleh Netrilis Indonesia. Di era digital saat ini,  menjadi alasan tersendiri bagi Apophis untuk melepas album mereka dalam format digital. Karena selain lebih gampang diakses, sekaligus penyebaran karya juga lebih cepat dan mudah. Namun demikian, band yang terbentuk sejak 2011 lalu ini juga telah merencanakan bakal merilis “Belantara Kami” dalam kemasan cakram padat (CD) secara independen dan dicetak dalam jumlah sangat terbatas. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY