Unit metal asal Sukabumi, Jawa Barat, Griffith tak ingin terpakem menentukan genre musiknya. Pokoknya metal, yang diupayakan digeber secara maksimal. Di album debutnya bertajuk “Contradiction” yang baru saja dirilis via label Playloud Records pada awal Februari 2019 lalu, para personelnya melebur elemen melodic metal, heavy metal, thrash metal, groovy hingga metalcore menjadi satu kesatuan ekspresi.

“Semuanya kami konsumsi untuk menambah ramuan atau unsur-unsur yang menjadi inspirasi dalam pembuatan materi di album ‘Contradiction’. Untuk hasilnya nanti, kami kembalikan lagi ke pendengar, biar pendengar sendiri yang menentukan jenis musik Griffith ini lebih ke arah mana,” papar pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan.

Lalu apa yang membuat para metalhead harus mendengarkan olahan musik Griffith?

“Karena kami berusaha menyuguhkan karya semaksimal mungkin,” urai Griffith lebih lanjut. “Sehingga muncul beberapa ide atau part dari instrumen musik, misalnya dari permainan solo gitar, yang tentunya mempunyai egonya sendiri meracik dan menyuguhkan lead-lead melodi yang harmonis, yang ‘dikawinkan’ dengan karakter vokal yang tegas saling beriringan dan melengkapi serta ditambah beat dari pedal drum yang mengentak keras dan berpola cukup kuat, sehingga menjadi sesuatu yang unik dan sayang bila tidak disuguhkan ke khalayak banyak, khususnya pecinta metal.”

Hampir satu tahun Firman (vokal), Dimas (bass), Agung (gitar), Doni (gitar) dan Bayu (dram) mengotak-atik materi album “Contradiction”. Mereka mengeksekusi rekamannya di dua studio berbeda, yaitu Masterplan Bandung dan Glory Studio Sukabumi dengan menunjuk Mr. Zoteng sebagai produser. Hasilnya, ada sembilan lagu yang mereka letupkan, termasuk single trek bonus “Lost in Minute” yang telah diluncurkan sebagai pembuka jalan pada 2017 silam.

Pemilihan “Contradiction” – salah satu lagu di album tersebut – sebagai judul album dianggap mewakili keseluruhan isi yang bercerita tentang sifat manusia yang mengalami kebingungan ketika harus dihadapkan pada kebiasaan yang bukan bagian dari dirinya. Di satu sisi dia merasa bertentangan namun di sisi lain dia terpaksa melakukan kebiasaan tersebut dan mencoba melepaskan diri dari situasi tersebut, seperti yang digambarkan pada artwork yang dibuat oleh Dicky Wandy. 

Lirik yang ditulis oleh Firman dalam album “Contradiction” banyak menceritakan tentang seseorang yang muak dengan kemunafikan, kebohongan, keserakahan dan penyesalan atas hidup yang ia jalani. Seperti pada lagu “Sense of Temporary” yang menceritakan seseorang yang berpura-pura peduli namun di balik itu ada tujuan buruk, dan di lagu “Victim of Greed” yang menceritakan tentang kondisi di Palestina yang sangat memilukan akibat keserakahan dan kekuasaan. 

Sedikit menengok ke belakang, sejarah terbentuknya Griffith sendiri ternyata berawal dari ketidaksengajaan. Dimulai dari ide mencoba mikrofon rekaman baru studio Glory di Sukabumi, tepatnya pada 2017 silam. Firman dengan ‘keisengannya’ mencoba mengisi vokal di salah satu materi musik yang dimiliki Doni yang kebetulan seorang gitaris pada saat itu. Di luar dugaan maka terlahirlah sebuah lagu yang berjudul “Lost In Minute”. Dari situlah lantas terbersit niat untuk membentuk band, dengan konsep musikal yang mengacu pada band-band luar macam In Flames, Soilwork, Arch Enemy hingga Hammerfall. 

“Kami pun memutuskan untuk membuat sebuah band dengan mengajak gitaris Agung yang kebetulan pemilik dari Glory Studio, serta dramer Bayu yang masih adik kandung dari Agung untuk menjadi bagian dalam band ini. Sedangkan untuk mengisi bass kami mengajak Dimas, seorang teknisi bass dari salah satu band yang ada di Sukabumi. Dengan kesamaan selera dalam bermusik maka terbentuklah Griffith, yang berarti sosok seorang raja yang bijaksana.” (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY