Bayangkan olahan aransemen sarat intrik, lintiran dan manuver dari band-band progressive rock instrumental mancanegara macam Chon, Intervals, Plini, Polyphia hingga Vitalism, yang lantas dibaurkan bersama pengaruh-pengaruh lain seperti R&B dan pop yang groovy dan menyenangkan, maka itulah Mathology, sebuah band baru yang dihuni dua gitaris plus satu pembetot bass. Mereka adalah Mondy (gitar), Ramcey (gitar) dan Soebroto (bass), dan ketiganya telah meluncurkan sebuah album mini (EP) debut bertajuk “Crayon” sejak 11 Januari 2019 lalu via Euforia Digital.

“Musiknya ‘gado-gado’, warnanya banyak kayak ‘crayon’,” cetus Ramcey kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di Mathology. 

“Sebenernya idenya sih nggak sengaja banget, karena kami dengerin semua genre musik. Referensinya dari pop, rock, R&B, metal, dance, funk, blues dan lain-lain. Tapi benang merahnya, referensi yang banyak kami pakai di musik Mathology adalah Chon, Intervals, Plini, Polyphia, Vitalism bahkan Tohpati. Untuk konsep dan penerapan di album ini, banyak unsur-unsur yang terpengaruh dari mereka seperti kord, riff, modulasi dan beat-beatnya, Jadi, mungkin bisa dibilang ada unsur subgenre Math Rock di sini,” urai Ramcey lebih jauh. 

Namun jika ada yang menyebut musik Mathology tergolong Djent – salah satu subgenre dari progressive metal – maka mereka akan menampiknya. “Karena genre itu lebih ke low-tuning, high gain distorted, (sementara) yang kami usung di sini ada rock-nya, ada pop-nya juga, dan ada progressive-nya. Dan yang terpenting harus nge-groove dan rock!”

Menurut Mathology, penganut musik seperti yang mereka mainkan ini terhitung masih langka di Indonesia. Kalau pun ada, mungkin belum terlalu terekspos. Itu yang membuat para personel Mathology merasa keberadaan mereka di ranah rock berbeda. 

“Kami mencoba meracik semua genre dalam satu komposisi yang ciamik dan kece pastinya. Agak tricky, cuma kami bikin supaya konteksnya masih bisa diterima di kuping Netizen. “Di situ istimewanya Mathology, istilahnya ribet tapi bisa dinikmatin… hehehe. Makanya kami coba tuangkan melalui EP, tujuannya untuk mengumpulkan pecinta-pecinta musik yang menganut aliran seperti ini.”

“Crayon” yang memuat enam komposisi bertajuk “Nebula”, “Crayon”, “Kurama”, “Death Hellkitty”, “Pick a Cue” dan single pertama “The Trees” digarap Mathology selama setahun, tepatnya pada Februari 2018 lalu. Tak lama setelah mereka merilis single “The Trees” di kanal YouTube, yang juga bisa dibilang merupakan momentum awal terbentuknya Mathology. Proses pengumpulan dan penggarapan lagunya dilakukan Ramcey dan Mondy lewat proses saling bertukar ide yang lantas dilanjutkan dengan workshop untuk mematangkan lagunya. 

“Setelah jadi guide awalnya, baru workshop untuk bass. Di situ, Broto kami bebasin buat mengeksplor permainan bassnya, biar lebih ngeblend dan ngeband.”

Usai merampungkan porsi bass, produksi rekaman dilanjutkan ke dram yang dieksekusi oleh Yandiandaputra di Tema Studio, di daerah pancoran. Setelah itu, barulah seluruh pengisian gitar direkam ulang, di Studio Bangka. Hasil dari keseluruhan rekaman lalu dikirim ke Surabaya pada Oktober 2018 untuk menjalani tahapan mixing dan mastering selama dua bulan, yang dipercayakan pada Adyangga Wirawan.

Oh ya, selain dramer Yandi, pengerjaan rekaman “Crayon” juga melibatkan permainan gitar Yankjay Nugraha di komposisi “The Trees”, dan Ade Avery di lagu “Crayon”, serta Agung Munthe (kibord) dan gitaris Biondy Noya yang membantu penataan string sections di lagu “Crayon”. 

Album “Crayon” dalam format fisik kini bisa didapatkan dengan memesan langsung di berbagai media sosial resmi Mathology seperti Facebook dan Instagram. Atau bisa juga mendengarkan versi digitalnya via iTunes, Spotify, Guvera, dan berbagai gerai digital lainnya. (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY