Usai menggaungkan single “Destinasi Terakhir” pada Juni 2017 lalu, Pro Monkey langsung membuka lembaran baru dalam karirnya. Ada dua personel baru yang menguatkan formasi terkini unit metalcore asal Bekasi tersebut, yakni Moch Ginandrea (vokal) serta Daniel Asido (gitar), melengkapi barisan solid Vallian Hanjani (gitar), Ravael Diaz (bass) dan Ramadhyan Beckham (dram). Kolaborasi fresh tersebut menghasilkan sebuah album debut bertajuk “Life” yang baru saja dirilis via label KMBNGRCRD, sekaligus memperkenalkan konsep musikal yang lebih matang dan dewasa.

“Menurut kami, ‘Destinasi Terakhir’ sebuah jembatan, sebuah peralihan dan sebuah karya yang membantu kami dikenal penikmat skena musik indie sampai detik ini. But life must go on, warna musik kami harus berkembang dan harus selalu berani untuk mengambil tantangan,” ungkap Vallian Hanjani, kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di Pro Monkey.

Ya, Pro Monkey masih mengeksplorasi ketegasan metalcore di album “Life”,  namun kali ini lebih dewasa, yang antara lain ditandai dengan penerapan sentuhan choir serta orkestra yang khas, namun tanpa menghilangkan riff catchy dan breakdown yang selama ini lekat dengan Pro Monkey di tiap materi lagunya.

“Serta (ada pula) sentuhan vokalis anyar, Moch. Ginandrea Saputra, salah satu amunisi untuk album terbaru kami. Influence kami untuk album baru ini, jauh dari yang EP sebelumnya, yaitu Asking Alexandria. Mungkin jika penikmat musik kami mendengarkan album ini, (kini) ada rasa Architects, Bring Me The Horizon dan Blessthefall,” papar Vallian lebih jauh.

Dan eksplorasi-eksplorasi baru Pro Monkey, salah satunya tergambar jelas di komposisi bertajuk “Aasha” (dalam Bahasa Hindi bermakna ‘Harapan’), dimana mereka menghadirkan kontribusi dari musisi Australia, Paul Bakker yang merupakan pentolan Glass Tides, band modern rock jebolan publisher kenamaan Dreambound.

“Kami ingin di album baru ini lebih berbeda tidak hanya ingin menggambarkan sisi emosi dengan dentuman atau beat-beat keras, kami ingin lebih didengar dengan pesan-pesan yang lebih tersirat dan memainkan harmonisasi antar personel, seperti di trek ‘Aasha’ ini. Kami hanya bisa memberikan kebebasan bagi penikmat musik, sejauh mana mereka memberikan penilaian bagi musik kami. Menurut kami, pengambilan riff, pengambilan tema, pengambilan warna, pengambilan nada yang kami tuangkan pada album ‘Life’ adalah identitas kami.”

Ide-ide penggarapan album “Life” sendiri sudah ada sejak dua tahun sebelumnya, sejalan dengan dirilisnya single “Destinasi Terakhir” yang diciptakan oleh Vallian Hanjani. Pada akhirnya, lagu tersebut membentuk konsep ‘Life’, dimana mereka mengangkat isu-isu atau pun hal-hal yang dekat dengan kehidupan, seperti cinta, hubungan manusia dengan Tuhan, sampai konspirasi di luar batas nalar. 

Proses rekaman “Life” digarap selama kurang lebih sebulan di Asido Sigit Project (side project dari Sigit Asido), menghasilkan 10 trek berjudul “Still Awake”, “Conspiracy”, “Paradigm”, “Fake Smile”, “Bad Stuggle”, “Aasha”, “Inheritance”, “Life”, “Reflection” dan “Prayer’s Lover”.

Saat pertama kali terbentuk pada Oktober 2009 silam, Pro Monkey sempat menganut paham screamo sebagai ‘agama’ musiknya yang saat itu memang tengah banyak digemari di kalangan penggemar rock/metal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, mereka perlahan mulai menemukan jati dirinya, dimana akhirnya pengaruh post-hardcore dan metalcore dilebur menjadi satu, plus penggunaan vokal clean serta unsur orkestra atau string ke dalam ramuan musiknya. Sebelum merilis “Life”, Pro Monkey telah lebih dulu menghasilkan karya rekaman EP bertajuk “Never Give Up!” (2014). (mdy/MK01)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY