Satu sisi kami tetap ingin memperlihatkan energi melalui materi yang ‘bangers’ dan keseruan-keseruannya. Di sisi lain, dalam bermusik, kami butuh ketenangan, feeling baru yang kami eksplorasi dari rutinitas kami yang repetitif.

Kira-kira seperti itulah target kreativitas yang dicanangkan Rollfast untuk album keduanya. Dan itu tergambar jelas di video “Rollfast: Skets – Live at Puri Agung Jro Kuta”, dokumentasi berformat live session yang baru saja mereka tebar di kanal YouTube. Sebuah sketsa ide awal, pengembangan menuju ke karya rekaman berikutnya. Diharapkan dengan sketsa tersebut, khalayak musik keras bisa ikut merasakan setapak demi setapak proses yang dijalani unit rock asal Bali tersebut. Sebuah proses kreatif pengkaryaan yang dijadikan sebagai sebuah ajang dialog diskusi, yang memberi dorongan untuk berbuat, melangkah dari pakem terdahulu. Pakem yang pernah mereka semburkan lewat album debut “Lanes Oil, Dream Is Pry”, rilisan Trill/Cult Records pada 2015 lalu.

“Semua ini dimulai karena kami bergejolak dari album ‘Lanes Oil, Dream Is Pry’. Kami berkembang dari segi musikalitas hingga kepribadian, jadi di album baru mendatang mungkin akan memberikan warna dan tekstur baru dibanding album terdahulu. Selagi kami berproses, banyak sekali sketsa atau draft materi, daripada dibuang kami ingin memanfaatkannya dengan dikemas lewat session yang memperlihatkan proses kami untuk album mendatang. Selain perubahan warna dan tekstur dari materi, pengaruh juga secara tidak sadar datang dari tempaan realita hidup yang mengharuskan bermusik paruh waktu… hahaha. Jadi, konsep pemikirannya seperti ‘glass box’, yang memperlihatkan step per step prosesnya,” ungkap pihak Rollfast kepada MUSIKERAS, menerangkan.

Lewat eksplorasi yang dilakukan di “Skets”, Rollfast yang dihuni Agha Praditya (vokal), Gungwah Brahmantia (gitar), Aan Triandana (bass), Bayu Krisna (gitar) dan Ayrton Maurits Willem (dram) ingin agar album berikutnya bisa merepresentasikan dua sisi yang mereka suka secara berdampingan, walau datang dari frame yang berbeda-beda. “Lumayan kontras, karena memang itu yang sedang kami rasakan,” cetus mereka lagi.

Satu hal yang memicu pergerakan konsep tadi, adalah pengalaman-pengalaman kreatif yang kerap mereka jalani dalam kurun waktu 2014 hingga 2015. Saat itu Rollfast sering mengadakan dan bermain di event-event seni, dimana mereka bisa memperlihatkan sisi eksperimental Rollfast dalam bermusik. Yang tidak terbatas, namun tetap menjadi satu kesatuan.

Bahkan seusai “Skets”, Rollfast juga bakal merilis “Operasi SenSar: Trying to Make Sense of Denpasar”, sebuah album rekaman live pertama mereka, yang didokumentasikan dari jamming di gelaran acara DenPasar Art 2018 di Cush Cush Gallery. Bakal ada 10 komposisi yang tersaji, yang dieksekusi tanpa melalui proses latihan sebelumnya, demi memperkuat konsep ‘sense of Denpasar’. “Jadi kami berlima masing-masing memiliki perasaan atau sense tentang Denpasar, dengan lima pembagian waktu: pagi, siang, sore, malam, dan subuh. Kami ingin menimbulkan experience Denpasar dengan lima waktu tersebut lewat jam session, dan direkam secara live,” urai Rollfast lebih jauh.

Berawal dari teman setongkrongan, lalu berlanjut ke tahapan jam session, akhirnya melahirkan Rollfast pada 2012 silam. Referensi musikal mereka awalnya berkisar pada band-band rock legendaris mancanegara semacam Pink Floyd, Led Zeppelin, Black Sabbath, plus sentuhan dan warna dari Swans pun The Black Angels. Dari sanalah mereka mencoba untuk menggali-gali gagasan untuk modal materi sendiri. Pada 2014, Rollfast berhasil merilis album mini (EP) “Self-Titled” serta live session bertajuk “Rollfast live at Jizz Studio” pada tahun yang sama. 

“Tahun 2014 kami akui sebagai tahun awal kami melangkah lebih jauh. Di tahun itu juga kami melakukan tur pertama kami, tepatnya pada September,  kami melakukan lawatan ke Jepang, bermain di tiga kota, yakni Tokyo, Nagoya dan Osaka, dalam gelaran Tokyo Psych Fest oleh Guruguru Brain.”

Sepulang dari Jepang, Rollfast lalu memfokuskan energi untuk merampungkan album “Lanes Oil, Dream Is Pry”. Setelah itu, tahun-tahun selanjutnya mereka habiskan untuk melakukan tur promo ke beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Jogja, dan Makassar. Selain dengan album dan promo tur, Rollfast juga menggelar showcase eksperimental bertajuk “Amavasya” (2015) dengan kolektif bernama Pavana.co, “Artlab” (2014), “Bali Tolak Reklamasi Art Event” (2015) dan “Sprites” (2016) bersama Yoka Sara, salah seorang arsitek yang rutin menggelar rangkaian acara eksperimental. Pada 2016, Rollfast sempat merilis single “Off! The Twisted!” via DSSTR Records, lalu mengajak Sigmun untuk bekerja sama dalam album split dalam format piringan hitam 7 inchi (2017), yang dirilis via Vanila Thunder Records (Singapura) dan Orange Cliff (Bandung). Saat ini, Rollfast juga sudah mulai menyicil materi lagu untuk merampungkan album rekaman selanjutnya. (mdy/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY