Adalah hal wajar jika sebuah band melakukan pergeseran konsep musik. Contoh yang paling hangat saat ini adalah manuver Bring Me the Horizon yang mendadak banting stir ke ranah pop rock/metal di album terbarunya, “Amo”. Padahal tadinya band asal Inggris tersebut dikenal sebagai salah satu penebar wabah deathcore yang sangat berpengaruh. Atau band metalcore Asking Alexandria yang kini juga cenderung mengarah ke ranah rock.

Hal yang kurang lebih sama dilakukan oleh Bleeding Last Season (BLS), unit cadas yang dikibarkan dari Banyuwangi, kota yang terletak di ujung paling timur Jawa Timur. Di album mini (EP) debut mereka, “Dreams and Wonder” yang sudah dilontarkan ke berbagai gerai digital, BLS menanggalkan baju deathcore yang sebelumnya mereka geber, khususnya saat melepas dua single bertajuk “Bloody Mary” dan “Shoot Me” dua tahun lalu (video klipnya bisa ditonton di bagian akhir artikel ini). Kini, BLS membidik metalcore yang modern sebagai ‘agama’ utamanya, dengan menyerap beberapa inspirasi dari band-band dunia seperti Bring Me The Horizon, As I Lay Dying, Asking Alexandria, Carnifex hingga Lamb Of God.

“Pergeseran musik kami dari deathcore ke metalcore ialah karena kami merasa jiwa musik kami mengarah kepada genre metalcore yang modern, serta melihat bagaimana perkembangan musik metal dunia yang sedang hangat,” ungkap pihak BLS kepada MUSIKERAS menegaskan.

Kendati demikian, para personelnya – Tian (vokal), Dani (gitar), Bebby (gitar),  Wahyu (bass) dan Gigih (dram) – buru-buru mengklarifikasi bahwa tentu saja perubahan itu tidak akan membuat mereka menjadi tidak idealis. “Mungkin setelah EP ini, untuk album berikutnya kami akan membuat kejutan dengan metalcore yang berbeda dari yang lain.”

Produksi rekaman “Dreams & Wonder” yang mengangkat tema lirik tentang bagaimana kehidupan seorang manusia tidak terlepas dari cinta, cerita tentang keajaiban Tuhan serta kehidupan lain setelah kematian, digarap BLS dalam waktu yang sangat singkat. Hanya butuh sehari.

“Proses rekamannya bagi kami sangatlah seru, dimana banyak sentuhan baru yang diberikan tiap personel ke dalam lagu. Tak butuh waktu lama bagi kami dalam proses rekaman, cukup satu hari dengan materi yang sudah disiapkan secara matang dari rumah, membuat durasi rekaman begitu cepat. Dari awal, untuk mixing serta mastering kami menggandeng Glasslight Record yang mempunyai banyak pengalaman di musik indie. Wildhan, pemilik Glasslight Record merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam karya-karya kami.”

BLS sendiri terbentuk pada 2015 lalu berharap pesan-pesan yang dituangkan di dalam lagu-lagu mereka dapat tersampaikan dengan baik kepada para penikmat musik indie, serta semakin banyak orang yang lebih mengenal dan mendukung BLS, dan memberikan semangat untuk terus berkarya demi kemajuan musik indie, khususnya di Banyuwangi. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY