Taruk telah meletupkan sebundel paket mini siap ledak dengan empat peluru bertenaga. Sebuah EP bertajuk “Sumpal” yang telah dilepas unit hardcore/punk asal Bandung tersebut sejak Selasa, 19 Februari 2019 lalu via platform musik digital seperti Bandcamp, Spotify dan lain sebagainya.

Empat komposisi bengis, yakni “(Introduksi) Katarsis”, “Berapi-api”, “Pesta Durga, Kegelapan Adalah Surga Terakhir” serta “218” (feat. Doddy Hamson, vokalis Komunal) mereka geber dengan deru hardcore/punk yang banyak terserap dari pengaruh eksponen metal/punk seperti Black Breath era awal, DS-13, Poison Idea, Dead Kennedys, Torso hingga Power Trip. Taruk mengklaim, bahwa lewat EP “Sumpal”, mereka siap menebas, menggertak dan menghantamkan kening ke pijakan besi penuh kaki-kaki para penggila distorsi kematian.

Proses kreatif “Sumpal” sendiri dieksekusi sejak pertengahun tahun lalu, lantas diolah rekamannya, termasuk mixing dan mastering di Teargas Lab, daerah Cicadas, Bandung bersama operator bernama Irsyad Ali (Glosalia), yang sudah dikenal mumpuni menangani band semacam Vallendusk, Saturday Night Karaoke hingga Domesticrust. Proses rekaman mereka habiskan selama tiga sampai empat bulan dan rampung pada Oktober. Dan pada 17 November 2018, Taruk melepas single pemanasan bertajuk “Berapi-api”.

Hate and roll adalah formula musik kami di ‘Sumpal’,” cetus pihak Taruk kepada MUSIKERAS, memperjelas.

Formula itu, di mata para personelnya – Karel (vokal), Bobby Agung Prasetyo (gitar) dan Matin Mahran (dram) – mendeskripsikan sebuah kebencian yang berarti pada sebuah realita yang ada. “Kami memberi dosis panas akan sebuah tekanan maupun tantangan yang berusaha menghadang kami. Intinya satu, kami tetap memainkan hardcore punk yang ganas. Hardcore/punk adalah peluru yang pas untuk menyuluhkan pesan-pesan kami. Intinya etos no boundaries yang selalu kami tekankan, dimana sekat-sekat antara kami dan kawan-kawan otomatis hilang. Semuanya melebur dan menyatu di dalam sebuah pit. Semua sama-sama menikmati musik dan pesannya tanpa ada jarak. Up the punk!”

“Sumpal” sendiri menawarkan empat nomor yang bercerita tentang fase kehidupan seorang petarung di dunia paralel. Deretan lagunya bersifat tematik dengan alur yang saling berkaitan. Seperti yang diurai Taruk lewat naskah siaran persnya, trek pertama dimulai dari fase dimana sang petarung mendapat kesempatan kedua untuk hidup kembali, lalu membalaskan dendam dan segala urusan yang belum terselesaikan. Sampai pada fase kedua, saat dirinya mengobarkan semangat berapi-api untuk membalikkan keadaan. Memasuki fase ketiga, sang petarung telah menjadi raja di atas segala kesenangan dan penderitaan. Penuh waktunya dihabiskan untuk berpesta, menggila dan ditutup oleh kegelapan yang sunyi dan cengkraman kesepian. Pada tahap itu, pilihan terbaik adalah ‘memuja’. Tiba di tahap terakhir, saat dia merasa tersesat dan butuh pegangan hidup. Satu-satunya jalan paling logis dan tepat adalah memuja kegelapan, berdiri di tengah kobaran api hitam nan pedih. Kisah ini bersifat fiksi dan menjadi sebuah analogi…

Lantas, siapakah sang petarung tersebut?

“Ya, dia adalah kita. Bisa kamu, mereka, dan siapapun yang merasa! Kami membuat EP ini untuk mewakili orang-orang yang merasa dirinya tertindas oleh rutinitas sehari-hari. Cocok pula bagi para bejat, penjahat dan lain-lain yang mulutnya pantas disumpal sebelum berbicara panjang lebar dengan penuh omong kosong!”

Sedikit menengok ke belakang, Taruk terbentuk awal 2018 lalu dengan formasi masih empat orang, yakni Karel (vokal), Bobby (gitar), Dimas (bass) dan Matin (dram). Namun saat menggarap EP “Sumpal”, Dimas memutuskan mundur dikarenakan urusan pribadi dan pekerjaan. Di awal karir mereka, Taruk sempat memutuskan memainkan musik punk rock yang simple tapi agresif, seperti gaya hardcore era ‘80an yang dimainkan Black Flag, Minor Threat atau Dead Kennedys.

“Tapi lambat laun, dengan berjalannya waktu, kami banyak mendengarkan beberapa referensi lain dari warna musik lain. Swedish hardcore, oldschool death metal sampai glam rock juga setidaknya memengaruhi musikalitas kami,” ungkap Taruk mengenang.

Nah, lewat EP debutnya itu, Taruk menyerukan untuk mengencangkan sabuk pengaman. “Sambutlah ‘Sumpal’ dengan kepalan tangan mengacung di atas. Taruk sampai lebam!” (mdy/MK01)

Kredit foto: Adib Rizkiyansyah

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY