“Yang penting bisa headbang, rusuh, dan ‘ugal-ugalan!”

Itulah formula utama Kartoadisoebroto, atau yang biasa disingkat menjadi The Broto, mengenai konsep musiknya. Itu yang mereka kumandangkan di “Doom Rock’n Roll”, sebuah single baru yang baru saja mereka lepas ke ranah digital seperti Spotify, iTunes, Deezer, Amazon, Pandora, Apple Music dan sebagainya. Oh ya, The Broto ini adalah sebuah band yang lahir pada 2015 lalu di Universitas Indonesia.

“Doom Rock’n Roll” sendiri bercerita tentang filsafat hidup masyarakat Jawa kuno, maupun kebudayaan lain yang menganut paham spiritual cosmocentrism, sebagai kritik sosial terhadap anthropocentrism secularists yang terlalu mewabah di peradaban modern, sehingga manusia sebagai bagian dari alam melupakan kebajikannya sendiri. Memberi perumpamaan manusia dan alam bagai keris dan sarungnya.

Menurut pihak band, single ini memanifestasi kutipan-kutipan dari budayawan terkemuka seperti Franz Magnis Suseno dan Prof. Komaruddin Hidayat, serta filsafat lain ke dalam lirik yang dikemas menjadi proto/doom metal dengan nuansa agresif ala rock’n roll. Pada menit awal dari lagu tersebut sengaja diselipkan suara motor Vespa, kemacetan dan sibuknya Ibu Kota agar sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan: rock’n roll sebagai pengingat bahwa hidup bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan material, tetapi juga kebutuhan akan kedamaian dan ketentraman jiwa.

“Kami bukan tipikal anak band yang (punya) skill tinggi bisa ‘telululitlitlutie, tadakdusdukdruguutak, demdemdemdengtak’, dan pastinya juga lagu ini tidak memuat sequencer dan unsur digital lainnya, serta lirik bahasa Indonesia yang puitis sebagaimana yang dilakukan oleh mereka para penikmat senja,” ulas The Broto kepada MUSIKERAS, lebih jauh.

Tapi para personelnya, yakni Boby Yurismono (gitar), Fathur Ichwan Satya (dram), Rianto “Rintot” Bagus (bass), Syabika “Abi” Muhammad (vokal) dan Erdino Mahardian (gitar) yakin musik yang mereka suguhkan mempunyai keunikannya tersendiri. “Kami mencoba memainkan musik cadas namun kami tetap memuat topik yang bertemakan tentang tanah Nusantara kita tercinta, dimana kayaknya jarang ada generasi kita peduli akan hal itu.”

Proses kreatif  penggarapan rekaman lagu “Doom Rock’n Roll” sendiri diawali Boby yang mengirim riff gitar di grup Line, yang lantas dijajal bersama di studio. “Tapi akhirnya kami ubah karena ternyata riff-nya ‘agak mirip lagu band lain. Nggak lama kemudian kami ‘nemu formula kami sendiri, terus akhirnya kami coba lagi di studio. Awalnya riff gitar, trus Fathur dan Rianto langsung masuk ‘nyesuain. Perlu beberapa hari buat ‘ngelarin, sampe akhirnya lagunya rampung dan kami cukup enjoy maeninnya. Lagu ini, kalo nggak salah, pertama kali dibawain live pas acara Supermusic ID di Pangkalan Jati, terus lagu ini juga mengantarkan kami memenangkan UI Music Fair 2017.”

Sebelum single “Doom Rock’n Roll”, The Broto sudah pernah merilis sebuah album mini (EP) self-titled tahun lalu, yang antara lain memuat single “Reptilia Galactica”. Tahun ini, mereka mencanangkan segera merilis album berikutnya yang kini sudah di tahap perampungan. Beberapa lagu bahkan sudah dalam proses mixing dan mastering. “Tapi sisanya juga ada yang masih dalam proses rekaman. Semoga semuanya lancar.” (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY