Menemui banyak permasalahan saat mengeksekusi produksi rekaman acapkali menggiring sebuah band menjadi frustrasi, dan ujung-ujungnya membuat proyek rekamannya mangkrak. Tapi tidak buat unit hardcore asal Batang, Jawa Tengah ini. Segala rintangan tidak mematikan api semangat Four Truth meredup. Justru sebaliknya, album debut bertajuk “Man Is A Wolf” yang mereka hasilkan justru menjadi hantaman keras ke arah telinga siapa pun yang mendengar album ini.

“Kami mengalami proses (rekaman) yang alot sekali,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, mengenang.

Mereka – Angga (vokal), Wibisono (gitar), Dhika (gitar), Denny (bass), dan Okta Dianto (dram) – membutuhkan waktu hampir setahun untuk merampungkan “Man Is A Wolf”. Di antaranya, mereka sempat kesulitan meluangkan waktu atau mengatur jadwal di antara para personel, hingga kesalahan-kesalahan teknis pada saat menjalani rekaman.

“Proses rekaman gitar, bass, vokal pertama kami (dilakukan) di salah satu studio di Pekalongan yang bernama Dosath studio. Pada saat itu,  studio tersebut tidak menyediakan take drum live, jadi kami akhirnya memutuskan untuk melakukannya di salah satu studio di luar kota, tepatnya di studio Strato, Semarang.”

Tapi hasil kerja keras dan kegigihan yang mereka jalani berhasil membuahkan album yang matang, dewasa sekaligus agresif. Karya rekaman beramunisikan 10 komposisi beringas yang didistribusikan label Samstrong Records tersebut ditabuh dengan intensitas pemacu adrenalin yang berbeda-beda pada setiap lagu. Sebuah album yang mereka klaim wajib dimasukkan ke dalam daftar album hardcore yang harus didengarkan, yang akan memompa adrenalin untuk terjun ke arena mosh pit.

“Formula musik kami ter-influence dari sejumlah band hardcore yang terbilang sudah terkenal, diantaranya seperti First Blood, Death Before Dishonor, Cutdown, Get The Shot, Final Prayer dan Comeback Kid. Dan dari 10 lagu (di album), kami paling suka lagu ‘Mature Wanna Be’, karena dari segi tempo dan dinamika paling kompleks, serta menunjukan dentuman khas idealis hardcore 2 steps Four Truth,” tandas mereka lagi, meyakinkan.

Sepak terjang Four Truth sendiri dimulai pada 2013 silam, yang digagas oleh Angga, gitaris Deni serta dramer Gilang. Tak lama setelah itu, Okta Dianto bergabung dan menjadi bagian dari Four Truth untuk mengisi posisi sebagai gitaris, dan Deni bergeser ke posisi bass. Tahun berikutnya, Gilang memutuskan hengkang untuk fokus bekerja di Ibu Kota, sehingga kekosongan posisi dramer lantas diisi oleh Okta Dianto. Setelah gitaris Dhika bergabung, Four Truth melepas dua lagu demo (2015). Dan pada saat Four Truth mulai mengatur rencana untuk menggarap album, Wibisono pun masuk untuk mengisi posisi gitar rhythm untuk memperkuat karakter musik Four Truth. (aug/MK02)

.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY