Proses penggarapan sebuah lagu yang memakan waktu hingga dua tahun tidak membuat para personel Otiosis merasa membuang waktu percuma. Sebaliknya, band pengusung shoegaze rock yang berbasis di Bandung ini mengaku puas, lantaran hasil akhir dari single anyar bertajuk “Loner” tersebut sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan jati diri mereka.

“Loner” dirilis via channel LittleRoomRecord di kanal YouTube sejak 27 Februari 2019 lalu. Single kedua dari band yang kini diawaki Gun (vokal/bass), Jul (kibor), Firman (dram) dan Andi (gitar) ini merupakan karya personel lama, Indi, yang dipoles ulang oleh para anggota terkini. 

“Proses penggarapannya mungkin cukup lama. Hampir dua tahun, dikarenakan banyak kendala dan kesibukan para personel kami. Dan di tahun 2018 akhir kami mulai rekaman lagi dan mengaransemen ulang lagu ini,” ungkap sang frontman Gun, kepada MUSIKERAS.

Sound, menjadi salah satu perhatian Otiosis. Untuk itu mereka berusaha membawa para pendengarnya bisa masuk ke dalam lagu “Loner”, bukan hanya dalam bentuk digital tetapi juga saat berada di atas panggung. Sasaran utamanya, lebih mengeksplorasi efek-efek yang membawa suasana supaya musik dan venue bisa menyatu.

“Loner” sendiri merupakan tindak lanjut dari single pertama “Mushroom Feelin”, yang jika disimak lebih dalam memiliki perbedaan yang amat mencolok. Ya, jika sebelumnya Otiosis mengedepankan sisi dreamy pop, kini mereka berusaha menyuntikkan elemen-elemen rock yang lugas.

“Untuk evolusi (komposisi) mungkin tidak terlalu banyak karena kami baru merilis dua buah lagu. Mungkin khusus di single ‘Loner’ sekarang dan di EP (album mini) kami akan membawa lagu-lagu Otiosis menjadi lebih dewasa,” urai Gun lagi, sambil berharap bisa merilis EP tahun ini juga.

Lirik lagu “Loner” terinspirasi oleh seseorang yang mempunyai sifat introvert. Untuk itu, lagu tersebut sesungguhnya hanya ditujukan untuk orang-orang yang sadar mereka penyendiri, tapi itu bukanlah penghalang untuk terus menjalani hidup. “Ketika kamu mempunyai kebahagiaan dalam dirimu jangan sampai terganggu oleh perkataan orang lain. Karena kebahagiaan kamu bisa diciptakan oleh dirimu sendiri.”

Meski demikian, dengan suguhan musik shoegaze rock yang masih terbilang jarang di Indonesia, Otiosis mempersembahkan lagu ini kepada semua penikmat musik Tanah Air. “Ini passion kami. Kami pengen ngangkat shoegaze rock di Indonesia.”

Supaya kalian tahu. Otiosis terbentuk di Bandung pada 2017 dan memilih genre shoegaze rock sebagai identitas dari karya-karyanya. Nama band ini diambil dari bahasa Yunani yang memiliki makna ‘pemalas’. Setiap personel Otiosis memiliki latar belakang selera musik yang berbeda-beda. Tapi, jika ditarik benang merah, mereka dipersatukan oleh lagu-lagu dari Mono, Radiohead, Mac DeMarco, Oeil dan Nothing.

Setelah merilis lagu “Mushroom Feelin” pada 2017 silam dan disusul “Loner” pada akhir bulan lalu, Otiosis berencana melepas album mini pertama mereka pada tahun ini untuk memperkenalkan musik mereka ke khalayak lebih luas lagi. “Tapi, rencana yang paling dekat adalah merilis video klip ‘Loner’ April mendatang dan kami juga sedang menyusun rencana untuk membuat tur Jawa. Semoga semuanya bisa terlaksana!” (RN/MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY