Untuk kedua kalinya, gitaris rock virtuoso Yngwie Malmsteen mempersembahkan sebuah album yang memuat interpretasinya terhadap lagu-lagu lama yang pernah mempengaruhi proses perkembangan kreativitasnya sebagai musisi di era awal. Album tersebut bertajuk “Blue Lightning”, dimana Yngwie (dibaca “ing-vay”) mamagarinya khusus dalam konteks blues. Sebelumnya, tepatnya pada 1996 silam, Yngwie pernah merilis album rekaman cover berjudul “Inspiration” dimana ia mendaur ulang lagu-lagu milik Kansas, Scorpions, Deep Purple, Rainbow, Jimi Hendrix dan Rush.

Pada 29 Maret 2019 mendatang, “Blue Lightning” bakal mulai diedarkan secara global melalui label Mascot Records / Mascot Label Group. Ada selusin komposisi yang disuguhkan Yngwie, di antaranya lagu-lagu milik Deep Purple, Jimi Hendrix, The Beatles, The Rolling Stones dan Eric Clapton, serta empat lagu berkontur blues ciptaannya sendiri.

“Saya selalu ‘bermain-main’ dengan lagu-lagu lama, di panggung maupun di studio. Saya tumbuh dalam sebuah keluarga yang terlatih dengan musik-musik klasikal, dan orang-orang mengenal saya lewat gaya permainan yang disebut neo classical. Tapi ketika saya mendapatkan hadiah gitar saat merayakan ulang tahun kelima,  apa yang berusaha saya tiru adalah (lagu-lagu) John Mayall & The Bluesbreakers. Saya memainkan gitar mengikuti apa yang mereka mainkan di album rekaman bersama Eric Clapton. Itu yang tidak disadari orang-orang mengenai saya. Saya punya minat yang sangat besar terhadap blues. Jadi ketika Mascot mengusulkan kepada saya untuk membuat album bergaya blues, sama sekali tidak masalah, terasa sangat natural,” beber Yngwie via siaran pers resminya.

Pemilihan lagu-lagu di album “Blue Lightning” sebagian tidak mengejutkan lagi. Seperti lagu “Purple Haze” (Jimi Hendrix) dan “Smoke On The Water” (Deep Purple) yang diakuinya telah ia mainkan sejak masih remaja. Namun ada juga beberapa lagu yang bisa membuat orang-orang berpaling. Misalnya lagu milik The Beatles, “While My Guitar Gently Weeps”.

“(Lagu yang) saya tidak yakin apakah bisa melakukannya atau tidak. Dalam hal ini, ada proses trial and error,” ungkap Yngwie terus-terang.

Tentu saja, di keseluruhan lagu – terutama yang daur ulang – Yngwie tidak mengeksekusinya dengan aransemen yang cenderung mendekati versi aslinya. Karena menurutnya, tidak ada alasan yang tepat untuk itu. Jika memang ingin mendengarkan lagu persis seperti yang mereka kenal, berarti mereka lebih baik mendengarkan versi aslinya.

“Apa yang saya lakukan adalah memasukkan nuansa serta identitas personal saya, saat memainkan sebuah lagu tribute yang sudah dikenal Yang saya rasakan, saya menjadi diri saya sendiri, namun (di sisi lain) tetap memberi penghargaan terhadap pemilik lagunya.”

Yngwie Malmsteen sendiri dikenal sebagai gitaris rock paling teknikal yang pernah muncul di era ‘80an, dimana ia menggabungkan pengaruh rock, blues dan classical ke dalam teknik permainan gitarnya, yang antara lain diwujudkan lewat penerapan teknik sweep-arpeggio picking cepat yang telah menjadi ciri khasnya, yang langsung menempatkan namanya sebagai pengukir “cetak biru” genre neo-classical metal ke dalam buku suci dunia pergitaran dunia. Album pertamanya yang fenomenal, “Rising Force” (1984) menjadi penanda dimulainya era – atau munculnya istilah “shredder” – yang lantas menginspirasi jutaan gitaris di seluruh dunia hingga hari ini.

Selain dikenal sebagai gitaris virtuoso dengan kharisma superstar yang melekat kuat, musisi bernama asli Lars Johan Yngve Lannerbäck kelahiran Stockholm, Swedia pada 30 Juni 1963 tersebut juga tercatat sebagai salah satu penulis lagu dan komposer rock terbaik dunia lewat karya-karya lagunya yang juga sukses secara komersil di seluruh dunia. Di antaranya, Yngwie berhasil melejitkan lagu-lagu seperti “Blackstar”, “Far Beyond the Sun”, “You Don’t Remember, I’ll Never Forget”, “Heaven Tonight”, “Never Die”, “Brothers”, “Dreaming”, “I’ll See The Light”, “Rising Force”, “Like An Angel” hingga “Seventh Sign”. Sampai saat ini, Yngwie Malmsteen sudah merilis 20 album studio dalam karir yang telah terentang lebih dari 35 tahun. (MK03)

Kredit foto: Austin Hargrave

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY