Lepas dari kevakuman, akhirnya unit metal senior asal Jakarta, Kodusa kembali menggeliat. Mereka membuka gebrakan awalnya di 2019 ini lewat single tajam bertajuk “The Moment” yang kini telah terlampiaskan lewat berbagai platform digital. Di lagu tersebut, Kodusa diperkuat formasi terkininya, yakni Ives (vokal/growl), Lulu (gitar), Lila (vokal/rap), Zack (bass) serta Rala (dram).

“Single ‘The Moment’ ini sebetulnya lagu lama Kodusa yang dibuat sekitar awal 2006, hanya baru bisa dirilis di tahun ini (karena) disebabkan beberapa hal,” ungkap pihak band membuka obrolannya dengan MUSIKERAS.

Kala itu, “The Moment” sempat direkam di studio Hijau, Jakarta, dengan bantuan produksi dari Yobbie, eks personel band Alakazam, serta dibantu pula oleh beberapa musisi Indonesia sebagai bintang tamu. Namun penggarapan materi lagu secara keseluruhan lantas disempurnakan di studio rumahan milik Al, dramer band metal senior, Purgatory. “Al memang dahulunya sempat bergabung dalam Kodusa. Al juga yang bantu mixing mastering lagu kami serta ikut terlibat dalam meng-composed lagu,” urai Kodusa lebih jauh.

Awal penggarapan “The Moment” sendiri berawal dari ide musikal serta lirik yang ditulis oleh Lulu, sang gitaris. Menceritakan tentang seseorang yang sedang mencari jati dirinya serta Tuhan-nya, serta berusaha berani mengambil sebuah keputusan yang cukup pelik dalam hidup walau kadang suka bertentangan atau berbeda dengan pola pikir masyarakat umum.

“Komposisi musiknya kami garap secara bersama-sama. Dalam penulisan lagu, Lulu banyak mendapat referensi tidak hanya dari musisi yang ber-genre metal, tapi juga dari banyak musisi seperti Bjork, Tori Amos, Alanis Morissette, Brandon Boyd (Incubus), Maynard (Tool/A Perfect Circle), John Lennon (The Beatles) bahkan sampai kepada musisi religi Tanah Air seperti Bimbo. Sedangkan secara musikalitas, influence Kodusa banyak mendapat pengaruh dari band metal dan hardcore seperti Mudvayne, Slipknot, Coal Chamber, Deftones, Rage Against The Machine, Metallica, Sepultura hingga Nirvana.”

Kodusa memulai pergerakannya di skena bawah tanah pada 19 Juli 1998, yang digagas oleh mendiang gitaris Ivan ‘Bhatocx’ Wijaya. Selama kurang lebih dua tahun, Kodusa diperkuat formasi Ivan, TJ (vokal perempuan), Dicky (vokal pria), Zack (bass) dan Beni (dram). Lalu sekitar awal 2000, band ini pun mengalami reformasi total. Personel intinya hanya menyisakan Zack, yang lantas mengajak beberapa personel baru, yakni Ives, Lila, Lulu, Amy (DJ) dan Al (dram). Namun sayangnya, formasi ini hanya dapat bertahan selama dua tahun. Amy mengundurkan diri karena kesulitan membagi waktu, lalu tiga tahun kemudian Al juga harus angkat kaki karena kesibukannya dengan Purgatory.

Setelah perilisan single “The Moment”, Kodusa berharap bisa segera merilis sebuah karya album dalam format fisik. Namun menurut mereka, impian itu tidak akan mereka kejar dengan tergesa-gesa. “Semua cita-cita sebuah band pasti ingin memiliki karya lagu yang direkam dalam rilisan fisik. Namun kami tidak terlalu berambisi,  santai saja. Biar waktu yang menjawab. Bila ada kesempatannya, ada moment-nya, maka kami akan mensyukurinya.” (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY